Sabtu, 17 Juli 2010

Pintar Tapi Bodoh

Seorang manajer dari sebuah perusahaan mendengar gosip bahwa dirinya akan dipromosikan menjadi seorang General Manager, menggantikan orang sebelumnya yang baru saja mengundurkan diri.


Meski sumber berita itu tidak jelas dari mana datangnya, namun itu cukup membuatnya melayang penuh KEGEMBIRAAN. Mengingat perjalanan karirnya yang dimulai dari bawah, usianya yang masih 29 tahun dan lama kerja yang masih baru di bawah 6 tahun, tentu ini adalah hal yang sangat menggembirakan sekaligus menjadi prestasi yang sangat mentereng.

Namun, seperti pada beberapa perusahaan, selalu ada orang-orang iri yang tidak rela melihat orang lain berhasil. Para manajer yang usianya lebih senior dan sudah bekerja lebih lama dari manajer muda itu juga mendengar kabar burung yang sama dan mulai merasa cemburu. Maka, para manajer yang lebih senior menyebarkan gosip lain yang isinya adalah menjelek-jelekkan manajer muda tersebut. Mulai dari masalah pribadi, hingga fitnah dalam pekerjaan.

Secepat angin berhembus, berita buruk itu segera sampai ke telinga sang manajer muda. Pada awalnya, manajer muda itu masih bisa menahan diri. Namun, semakin hari semakin banyak berita yang ia dengar dan kesabarannya pun semakin tipis. Belum lagi perilaku para manajer senior yang sering menyindir dan mengeluarkan humor-humor sarkasme di depan sang manajer muda.

Hingga suatu hari, dalam sebuah rapat rutin, seluruh manajer hadir di sana dan direktur perusahaan itu mengemukakan sebuah kasus cukup besar yang terjadi di dalam perusahaan itu. Ternyata dalam rapat tersebut seluruh manajer senior bersepakat untuk menyudutkan sang manajer muda, menjadikan ia kambing hitam dan semuanya bersatu padu melemparkan kesalahan pada sang manajer muda.

Ketika perdebatan mulai alot, sang manajer muda mulai frustasi mempertahankan diri. Tiba-tiba ia berdiri dan berteriak kepada seluruh manajer yang ada di sana. Sambil menudingkan jarinya ia membentak geram, “Ucapan kalian semuanya bullshit!!!! Kalian berusaha memojokkan saya karena kalian iri dengan prestasi saya dan tidak mau saya diangkat menjadi General Manager!”

Singkat cerita, manajer muda itu dipanggil oleh sang direktur.
“Saya tahu kamu adalah manajer yang potensial. Tapi siapa yang bilang kalau kamu akan dipromosikan jadi GM? Sampai hari ini manajemen belum memutuskan siapa yang akan menggantikan menjadi GM. Tadinya kami memperhitungkan dirimu, tapi setelah melihat perilakumu di meeting, jelas sudah bahwa kamu belum layak menjadi General Manager.”

Manajer muda itu tidak bodoh. Pendidikan S1 ia selesaikan di salah satu kampus elit Amerika. IQ-nya lebih dari cukup untuk membuat ia sadar bahwa tindakannya di dalam meeting bisa mengancam karirnya. Namun, tetap saja, kepintaran otak kita tidak mampu menyelamatkan kita dari tindakan-tindakan konyol yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Anthony Dio Martin, pernah berkata, “Sebenar apapun posisi Anda, ketika Anda membiarkan emosi mengambil alih tindakan, Anda bisa menjadi salah!”

That’s exactly what happen with that young manager.
WHAT A PITY?


Sumber diambil dari buku "Emotion for Success" karya Josua Iwan Wahyudi.

Sabtu, 03 Juli 2010

Tuhan dan Piala Dunia

Ratusan juta orang menonton dan terlibat secara emosional. Sejenak dunia bersatu dan bergandengan tangan untuk larut dalam momen kegembiraan yang hanya dilaksanakan 4 tahun sekali. Sepanjang pertandingan, kedua belah pendukung pun tidak henti-hentinya untuk berharap-harap cemas. Bahkan karena tegang melihat kesebelasan negara favoritnya, seorang atheis pun dalam hati (mungkin) terucap, Oh, please God…


Lalu Tuhan yang baik yang memperhatikan, atau bahkan menonton dan menikmati setiap pertandingan hanya tersenyum, mungkin juga tertawa girang melihat manusia-manusia di bumi melupakan sejenak hiruk pikuk masalah untuk larut bersama dalam pertandingan demi pertandingan. Mengingat pertandingan Inggris melawan Amerika Serikat, mungkin kedua pendukung berdoa kepada Tuhan agar kesebelasan favorit mereka yang memenangkan pertandingan. Supaya adil, Tuhan menjawab keduanya dengan hasil imbang 1-1. Saya pribadi tidak begitu senang dengan blunder yang dilakukan Robert Green dan banyaknya peluang yang terbuang oleh kesebelasan Inggris.


Dalam hati kecil saya bertanya, "Apakah Tuhan menyukai sepak bola? Apakah Tuhan menikmati pertandingan demi pertandingan, tentu yang tanpa huru-hara atau ribut antar suproter atau pemain? Apakah Tuhan mempunyai kesebelasan favorit atau pemain bola favorit? Mungkin Lucio dari kesebelasan Brasil yang begitu devoted kepada Tuhan? Atau Tuhan bersorak girang “Gooollll !!!!” ketika kesebelasan favorit atau pemain favoritnya menciptakan gol?"


Tentu tidak mungkin secara eksplisit saya dapatkan jawabannya di Alkitab. Saya juga tidak secara khusus berdoa untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang tidak penting tersebut.

Asal jangan karena piala dunia, kita jadi lupa ke gereja karena alasan, "Piala Dunia kan 4 tahun sekali, gereja bisa minggu depan."

Atau hal-hal lainnya yang membuat pekerjaan menjadi terbengkalai, apalagi sampai berjudi dan menghabiskan uang karena kesebelasan favoritnya kalah.


Saya hanya bisa membayangkan bagaimana suasana Sorga menyaksikan momen Piala Dunia ini. Di Alkitab hanya tercatat bahwa seisi Sorga bersuka cita ketika ada satu orang yang bertobat. Namun tak bisa diketahui apakah seisi Sorga bersorak kegirangan apabila ada pemain seperti Sneijder atau Cristiano Ronaldo mencetak gol? Seperti Kaka yang mempertunjukkan kaus putih yang sudah dipersiapkan dengan tulisan I LOVE U JESUS.

Piala dunia masih akan terus membuat suatu memori indah atau menyebalkan, decak kagum atau tangis kecewa. Yang pasti, semoga kebersamaan ini jangan cepat berakhir. Jangan sampai menunggu 4 tahun lagi untuk bisa larut dalam kebersamaan dengan melupakan segala perbedaan yang ada.


Ini sekedar rasa penasaran saja yang lahir dari suatu momen Piala Dunia. Saya hanya dapat membayangkan Tuhan disenangkan melalui Piala Dunia, entah bagaimana caranya. Kerinduan saya dapat terobati dengan apa pun juga yang dapat menyenangkan hati-Nya.

Sumber : http://www.sabdaspace.org/tuhan_dan_piala_dunia%E2%80%A6