Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2011

TAKEN

Sebuah film yang dibintangi oleh Liam Neeson ini menceritakan betapa kelam dan begitu kejamnya kehidupan manusia. Tuntutan nafkah memaksa manusia untuk menghalalkan segala cara, walau hal tersebut melibatkan human trafficking. Hanya saja, korban human trafficking yang mereka pilih ini ternyata memiliki seorang ayah yang protektif dan rela melakukan apa saja untuk menjaga keselamatan putrinya.


Film ini menceritakan seorang pensiunan CIA, Bryan Mills, yang telah bercerai dengan istri dan putrinya akibat sering bertugas (dinas) sepanjang karirnya. Sang mantan istri, Lenore, kini telah berkeluarga dengan seorang milyarder bernama Stuart. Ketika Kim berusia 17 tahun, Bryan berupaya untuk membangun kembali hubungannya dengan sang anak.

Akan tetapi, tidak semua hal berjalan dengan mulus. Belakangan, Kim malah menuntut kepada Bryan supaya dapat diijinkan untuk bermain ke Eropa. Bryan menyadari betul betapa bahayanya untuk membiarkan seorang remaja berkelana di benua yang tidak ia kenal. Setelah berbagai pertimbangan yang alot, Bryan mengijinkan Kim untuk berangkat. Namun, hal yang Bryan khawatirkan malah menjadi kenyataan. Kim, beserta temannya yang bernama Amanda, telah diculik oleh sekelompok orang untuk kemudian dijual sebagai pelacur.

Dengan berbekal pengalaman sebagai agen CIA, Bryan berusaha untuk menelusuri jejak putrinya dengan segala cara. Ia tak peduli apabila harus membunuh setiap orang yang menghalangi niatnya untuk menemukan Kim. Ia lebih mementingkan keselamatan putrinya daripada mempermasalahkan hidup-matinya orang-orang yang berusaha berbuat jahat kepada Bryan dan Kim.

Secara pribadi, walau film ini lebih banyak menampilkan sisi action daripada sisi drama, saya sangat terkesan dengan setiap kalimat yang diucapkan oleh masing-masing karakter dalam film TAKEN ini. Setidaknya ada lima adegan yang membuat saya terhentak karena nilai yang terkandung dalam adegan-adegan tersebut memang sesuai dengan kehidupan nyata.
  1. Awalnya, Bryan memberikan Kim sebuah hadiah ulang tahun berupa mesin karaoke. Hal tersebut dipandang sebelah mata oleh Kim. Kim malah memilih hadiah mahal berupa seekor kuda dari ayah tirinya, Stuart.


  2. Ketika Bryan menjaga seorang penyanyi, ia bertanya demikian.

    • Bryan: Excuse me, Miss. I've a daughter who wants to be a singer and was wondering if you had any tips.
      (Maaf, Nona. Aku punya anak perempuan yang ingin menjadi penyanyi dan bolehkah saya bertanya apakah Anda punya tips untuk putri saya).

    • Sheerah: Yeah, I do. Tell her to pick another career.
      (Ya, tentu saja. Katakan padanya untuk memilih karir lain).

    Padahal, di akhir konser, Sheerah malah hampir diserang oleh seseorang dengan menggunakan pisau. Apabila Bryan tidak bersikap profesional, bisa saja ia tidak melindungi Sheerah dan membiarkan orang tersebut untuk menusuk.


  3. Ketika Bryan berhasil menemukan orang Albania yang menculik putrinya (Marko Hoxha), ia benar-benar menginterogasi Marko dengan siksaan yang efektif dan tanpa ampun. Setelah memperoleh informasi yang relevan, Bryan malah secara dingin membiarkan Marko tewas tersengat listrik.


  4. Karena informasi dari Marko masih belum cukup, Bryan pergi ke rumah Jean-Claude (rekan lama Bryan yang kini bekerja bagi intelijen Perancis). Jean-Claude mengakui telah menerima suap. Ia kemudian menodong Bryan dengan sebuah pistol supaya Bryan menghentikan pencarian Kim. Namun, ternyata Bryan telah mengeluarkan peluru dari pistol Jean-Claude. Bryan dengan tidak segan menembak istri Jean-Claude supaya ia memberikan alamat Saint-Clair, orang yang melakukan pelelangan pelacur-pelacur.


  5. Ketika Saint-Clair berpikir telah menyingkirkan Bryan, ternyata Bryan masih selamat. Bryan kemudian mulai menginterogerasi Saint-Clair dengan tembakan di sekujur tubuhnya.

    • Saint-Clair: Please understand. It was all business, it wasn't personal.
      (Aku harap kau mengerti. Ini semua hanya bisnis, saya tidak ada maksud pribadi).

    • Bryan: It was all personal to me.
      (Semua hal ini telah menjadikan ini urusan pribadi bagiku).

    Seperti adegan-adegan sebelumnya, Bryan pun tidak kenal ampun. Ia bunuh Saint-Clair hingga peluru di pistolnya habis.


Inti Cerita: Kita harus selalu berhati-hati apabila kita berinteraksi dengan orang/lingkungan yang tidak kita kenal. Kita juga harus berani untuk fight back apabila posisi kita benar-benar terancam. Tidak ada lagi warna abu-abu; yang ada hanyalah warna putih (benar) atau hitam (salah).

Semoga Tuhan memberkati!

Rabu, 19 Mei 2010

Gran Torino

Mendapat satu cinta dari satu orang itu tidak cukup. Manusia memerlukan banyak cinta dari orang-orang di sekitarnya.

Walt Kowalski (Clint Eastwood) adalah seorang veteran perang dan mantan teknisi pabrik mobil yang baru saja kehilangan istrinya, seseorang yang paling dicintai dan mencintainya. Sayang sekali, istri yang baik itu sudah tiada.


Walt memandang nanar kehidupannya sendiri dan menjadi frustrasi. Dalam film ini, Walt digambarkan sebagai orang yang keras, nasionalis, kolot, sinis dan kesepian. Ia tak dapat mencintai kedua anak lelakinya beserta istri dan anak-anaknya. Mereka menganggap Walt sebagai orang aneh; Walt sendiri tidak tahu mengapa ia tak dapat merasa dekat dengan mereka. Walt bahkan muak dengan sikap para cucunya yang sama sekali tidak menghargai sopan santun.

Mendiang istrinya nampaknya dapat memprediksi bahwa Walt akan melewati masa tuanya dengan rasa sepi dan menderita. Ia memberikan pesan kepada seorang pastor muda (Christopher Carley) untuk menjaga dan membawanya lebih dekat pada Tuhan. Pastor itu melakukan tugasnya dengan baik, tapi Walt menolaknya; bahkan berubah menjadi membenci semua orang.

Walt juga bertetangga dengan keluarga etnis Hmong (sebutan untuk keturunan Vietnam). Kehadiran mereka sangat mengusiknya, apalagi ia mempunyai pengalaman buruk dalam perang Korea. Tetap saja, manusia memang tak dapat hidup sendiri. Mau tak mau, sengaja atau tidak sengaja, ia akan berhubungan dengan orang lain. Interaksi antar tetangga ini bermula dengan hal-hal yang buruk. Mulai dari rasa benci terhadap orang Asia (ras yang berbeda), bahasa yang berbeda, kultur yang berbeda. Namun demikian, dari perbedaan tersebut sebuah persahabatan akan lahir.

Mobil klasik Gran Torino 1972 adalah harta terbesar Walt. Mobil klasik ini mengawali kisah persahabatan dengan suatu kejadian yang paradoks. Awalnya anak tetangga sebelah yang bernama Thao (Bee Vang) berusaha mencuri mobil kesayangan Walt ini. Thao terpaksa mencuri karena diancam oleh segerombolan geng Hmong untuk melakukan hal itu. Kakak perempuan Thao kemudian menjadi penengah antara Walt dan Thao. Gadis manis bernama Sue (Ahney Her) selalu bersikap sopan dan sangat bersahabat. Walt pun menjadi luluh dan dapat berteman dengan keluarga Hmong ini.

Dari persahabatan itu, sikap baik dari Walt dapat tergali kembali. Ia bahkan mencintai kedua remaja Sue dan Thao. Walt mencintai dan dicintai mereka bagaikan hubungan bapak dan anak. Walt bahkan merasa bertanggung jawab akan masa depan mereka. Walt ingin membentuk mereka sebagai generasi muda yang baik, sopan, penuh hormat, dan dapat berdikari untuk masa depannya. Sesuatu yang tak dapat ia lakukan kepada cucu-cucunya sendiri. Ia melakukan tugas kebapakannya ini kepada "total strangers". Dari hubungan yang melahirkan kasih ini, Walt mau datang kembali ke gereja. Ia melakukan pengakuan dosa, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Clint Eastwood kali ini membuat kisah hidup manusia dengan berfokus pada cerita sehari-hari. Hal inilah yang membuat film ini menjadi semakin hidup, kita dapat melihat suatu potret dan problema di suatu kota yang multi-kultural. Film Gran Torino memang tidak mendapat penghargaan apapun di Golden Globe ataupun Oscar 2009. Tapi karya Clint Eastwood ini menjadi film terlaris di Amerika Serikat dan Kanada. Film ini cukup unik dan temanya lumayan orisinil, ada superhero berusia 78 tahun; seseorang yang sinis dan rasis yang akhirnya mendobrak sikapnya menjadi seorang sahabat yang rela mati untuk orang yang dicintainya.

Sumber : http://www.terangdunia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=197:gran-torino&catid=53:film&Itemid=82

Sabtu, 15 Mei 2010

Legion

Pertempuran Malaikat Melawan Manusia


Rusaknya peradaban manusia telah membuat Tuhan kecewa. Tuhan lantas memerintahkan Gabriel (Kevin Durand) untuk turun ke bumi memusnahkan seluruh umat manusia supaya bumi bisa diselamatkan dari dosa. Sebuah kehidupan baru akan menggantikan kehidupan lama yang dinilai sudah parah.

Namun, ada satu malaikat yang tak sependapat dengan Tuhan. Michael (Paul Bettany) menganggap umat manusia masih memiliki harapan. Michael pun turun ke bumi, bukan untuk mengemban tugas dari Tuhan tersebut. Melainkan untuk mencegah kemusnahan. Tidak tanggung-tanggung, Michael memotong sayapnya sehingga manusia biasa.

Harapan Michael adalah menyelamatkan Charlie (Adrianne Palicki), seorang wanita muda yang tengah mengandung anak dari pacarnya yang tidak bertanggung jawab. Konon, bayi yang dikandung Charlie nantinya akan menjadi penyelamat umat manusia.

Sementara di perbatasan New Mexico terjadi satu fenomena alam aneh, sekumpulan lalat dalam jumlah besar terbang menyerupai badai gurun. Tidak jauh dari situ, berdiri sebuah restoran milik Bob Hanson (Dennis Quaid), di mana Charlie juga tinggal di situ. Anak Bob Hanson yang bernama Jeep (Lucas Black) adalah seorang lelaki yang cinta pada Charlie dan ingin mengasuh serta membesarkan anak yang dikandung Charlie.

Kehidupan Charlie, Jeep, dan keluarganya tiba-tiba berubah saat datang seorang nenek ke restoran mereka. Ia memesan steak dan tiba-tiba berubah menjadi monster penghisap darah dan menyerang para pengunjung. Beruntung saja, Kyle (Tyrese Gibson) berhasil menembak sang nenek hingga mati. Mereka semua menjadi bingung dan ketakutan hingga kemudian datang Michael ke tempat itu.

Dari Michael, mereka mendapat penjelasan mengenai pasukan malaikat (legion) yang akan memusnahkan manusia. Yang bisa menyelamatkan mereka adalah bayi yang sedang dikandung Charlie. Jika bayi tersebut berhasil dilahirkan, maka umat manusia akan selamat dari kemusnahan.

"Terakhir kali Tuhan kehilangan kepercayaan terhadap umat manusia, Ia mengirimkan banjir. Kali ini, Ia mengutus malaikat untuk memusnahkan umat manusia," kata Michael.

Maka, mereka bersama seorang 'mantan malaikat' berusaha mati-matian melindungi Charlie. Di sinilah adegan pertempuran seru antara malaikat dan manusia terjadi.

Apa yang disuguhkan sang sutradara Scott Stewart di film ini sangat menarik dari segi efek visual. Sebelumnya, Scott pernah menggarap visual efek beberapa film di antaranya, 'Pirates of the Caribbean: At World's End', 'Harry Potter and the Goblet of Fire', 'Night at the Museum' dan 'Iron Man'. Jadi tidak heran jika 'Legion' menyuguhkan visual yang mencengangkan.

Mengenai isi cerita, Scott Stewart dan Peter Schink yang menjadi penulis skenario tampak mencampuradukkan isi Alkitab dengan imajinasinya, sehingga menghasilkan cerita yang bisa menyesatkan pemirsa. Jika diperhatikan seksama, ide ceritanya tak jauh beda dengan film 'Terminator', hanya saja 'Legion' ber-setting lain dan bersifat religius.

Dalam Alkitab, nama 'Legion' dapat kita temui ketika Yesus mengusir roh jahat yang merasuki seseorang di Gerasa (Markus 5:9; Lukas 8:30). Dinamai legion karena jumlah yang merasukinya banyak. Arti kata 'legion' sama dengan satu divisi dari tentara Roma yang jumlahnya sekitar 6.000 orang.

Sementara Gabriel dan Michael adalah nama-nama malaikat utama. Alkitab mencatat Gabriel menampakkan diri kepada Daniel (Daniel 8:16). Ia juga diutus kepada Zakharia dan Maria (Lukas 1:19, 26). Sedangkan Michael disebut sebagai penghulu malaikat (Yudas 1:9), dan dalam penglihatan Rasul Yohanes di Wahyu 12:7 ditulis Michael berperang melawan naga.

Film ini sebenarnya tidak direkomendasikan untuk ditonton, selain ceritanya yang menyesatkan, juga karena sarat adegan kekerasan. Namun jika tetap ingin menontonnya juga, satu pesan penting, ingatlah bahwa ini adalah film fiksi. Meskipun di dalamnya ada kutipan ayat Alkitab yang muncul, bukan berarti film ini dibuat berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Apa yang diungkapkan dalam film ini adalah hasil imajinasi pembuat film, sekedar mencomot ayat untuk mendukung isi cerita yang hanya karangan belaka.

Sumber : http://www.terangdunia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=375:legion-pertempuran-malaikat-melawan-manusia&catid=53:film&Itemid=82

Minggu, 09 Mei 2010

Religulous

“Religulous”, Film Agama yang Berwajah Sindiran

Sutradara Amerika Serikat, Larry Charles, mengeluarkan film yang bertajuk agama namun berisi mengenai sindiran.

Walau belum diputar di Inggris, film dokumenter berjudul Religulous menyindir hampir semua agama di dunia. Tak heran, bila banyak warga Inggris terkejut dengan film itu; memicu debat tentang munculnya tren anti-agama belakangan ini.

"Saya melihatnya di Amerika dan ironisnya, film ini cenderung sangat fundamentalis," ujar Jonny Baker, yang bekerja untuk Anglican Church Mission Society UK.

Film dokumenter ini ditulis dan dibintangi oleh komedian politik Amerika, Bill Maher. Maher dilahirkan di New York City. Bapaknya adalah seorang redaktur berita dan penyiar radio. Maher dibesarkan secara Katolik dan hingga remaja ia tidak menyadari bahwa ibunya Yahudi. Di masa dewasa, ia menekuni karir sebagai pelawak dan aktor.

Maher dikenal sebagai tokoh pengkritik agama. Ia pernah menggambarkan agama sebagai neurological disorder, sejenis penyakit syarat. Dia juga pernah mengatakan bahwa agama adalah penyebab banyak masalah pada masyarakat dan munculnya kemunafikan.

Menurut sutradaranya, judul film ini singkatan yang diambil dari kata 'religion' (agama) dan 'ridiculous' (menertawakan). Judul ini memiliki makna sindiran terhadap agama dan keyakinan untuk beragama. Film ini bercerita tentang Maher yang menghadapi berbagai agama melalui wawancara dengan para pemimpin agama dan mereka tak mampu menjawab pertanyaannya yang cenderung 'kurang ajar'.

Dalam film itu, Maher pergi ke berbagai tempat agama berasal (seperti Yerusalem, Vatikan, dan Salt Lake City) untuk mewawancarai para penganut agama dengan berbagai latar belakang dan berbagai kelompok tentang 'kemustahilan' agama. Gambar depan film ini bergambar tiga monyet yang memakai pakaian keagamaan dan lambang khas setiap agama.


Sebelum sempat beredar di sejumlah bioskop, film ini sudah menunai kritik dari umat Kristen di Inggris. Baker sendiri termasuk orang yang telah menonton film itu. Menurutnya, sutradara Religulous adalah contoh orang yang fanatik dan tidak toleran terhadap diri sendiri.

"Bill Maher hanya suka berteriak-teriak di depan kamera dan hal itu justru mengurangi nilai keseluruhan film," ujarnya.

Film ini juga memicu perdebatan sengit di kalangan pemuka agama dan pemikir tentang meningkatnya tren anti-agama.

"Para ateis hanya berkata 'tutup mulut'. Apa yang kita lihat adalah agama berada di bawah tekanan dan dikalahkan," ujar AC Grayling, profesor filosofi di Birkbeck College, London.

Menurut Grayling, film ini bagian dari respon kaum ateis atas meningkatnya 'kegaduhan' agama sejak serangan 11 September 2001 di AS.

"Terjadi peningkatan suara gaduh dari berbagai agama sejak tragedi itu. Dan kami melihat reaksi dari para ateis. Mereka berdiri dan dihitung karena mereka tidak menyukainya," jelasnya.

Bagi Baker, tren anti-agama di media massa dan di jalur kehidupan lain jelas melukai hati para penganut agama.

"Orang Afrika menganggap bahwa kami, orang Barat, adalah orang-orang yang tidak beragama," ujar Baker. Namun ia percaya bahwa serangan dari para ateis tidak akan pernah sukses.

"Agama itu penting. Orang-orang lebih tertarik pada kehidupan ketimbang hanya berbelanja saja," ujarnya.


Sumber : http://www.forumkami.com/forum/berita/4785-religulous-film-agama-berwajah-sindiran.html

Rabu, 28 April 2010

2012

“Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman – maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin – mereka pasti tidak akan luput. Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” (I Tes 5:1–11)


Manusia sedang berusaha menyelamatkan bumi dan dirinya sendiri. Konon, berita dan kenyataan di dunia menunjukkan bahwa sekitar bulan Desember tahun 2012 akan terjadi kejadian luar biasa. Tidak hanya di bumi, tapi juga matahari membuat manusia mempersiapkan dirinya untuk penyelamatan. Apa pun usaha yang dilakukan anak-anak Tuhan haruslah kembali merujuk ke Alkitab bahwa semua ini memang harus terjadi, entah kapan sebagai penggenapan nubuat Allah. Yang penting bagi kita adalah terus berjaga-jaga karena hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.

Secara ilmiah, pada tahun 2012 nanti para ahli sudah melakukan penelitian bahwa akan terjadi sebuah keadaan di mana planet-planet akan menjadi tidak beraturan. Oleh karena itu, manusia mulai membangun sebuah Kubah di Kutub Utara yang saat ini lebih dikenal sebagai Kubah Kiamat.

Disebut Kubah Kiamat karena dibangunan untuk melindungi plasma nutfah. Jika terjadi bencana alam besar yang dapat memusnahkan sumber pangan, biji-bijian tersebut diharapkan menjadi penyelamat manusia dari kelaparan. Bangunan yang menyimpan biji-bijian dari seluruh dunia tersebut resmi difungsikan. Fasilitas yang disebut sebagai Kubah Kiamat (Doomsday Vault) ini dibuat di dalam sebuah gunung beku di Kepulauan Svalbard.

“Svalbard Global Seed Vault" merupakan kebijakan untuk melindungi keragaman biologi generasi masa depan. Ini adalah semacam "Bahtera Nuh" yang berada di dalam perut gunung sedalam 127,5 meter. Kubah tersebut akan menyimpan cadangan bibit dari ratusan bank benih dari seluruh dunia. Ruangan di dalamnya dapat memuat 4,5 juta sampel benih. Bangunan tersebut dibuat selama satu tahun dengan biaya pembangunan mencapai 9,1 juta dollar AS.



Sumber : http://iloveyougod.net/tag/2012-kristen/

Selasa, 26 Januari 2010

Da Vinci Code: Antara Fakta dan Fiksi

Akhir-akhir ini, sudah banyak gereja mengadakan seminar tentang Da Vinci Code. Banyak orang Kristen bingung. Apa benar, Yesus menikah dengan Maria Magdalena? Apa benar, Maria pergi ke Perancis lalu beranak cucu di sana, dan keturunannya sekarang masih ada? Apa benar skandal ini ditutup-tutupi oleh gereja ribuan tahun lamanya? Kebingungan ini muncul karena Dan Brown, pengarang Da Vinci Code, meng-klaim bahwa novelnya bukan sekedar fiksi, tetapi dibuat berdasar fakta sejarah dan "riset ilmiah."

Dan Brown memang pintar membumbui novelnya dengan pelbagai data sejarah yang sangat rinci, sehingga kelihatan begitu meyakinkan. Padahal, jika diteliti lebih jauh, ada banyak kesalahan data. Misalnya, menurut Brown, adat Yahudi mengharuskan seorang lelaki dewasa menikah. Mereka yang tidak menikah dianggap terkutuk. Dari situ disimpulkan: Yesus sebagai lelaki Yahudi pasti menikah! Padahal di jaman Yesus ada orang-orang yang tidak menikah. Kaum Eseni, misalnya, hidup selibat untuk melayani Tuhan sepenuhnya. Kelompok ini tetap saja diterima di masyarakat, tidak dianggap terkutuk! Jadi, tidak jadi persoalan jika Yesus selibat. Dan Brown memberi latar belakang sejarah yang keliru.

Kesalahan data lainnya, dikatakan "lebih dari 80 kitab Injil telah dipertimbangkan untuk masuk dalam Perjanjian Baru, namun akhirnya hanya empat yang masuk dalam Alkitab, yaitu kitab Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes." Ia menyimpulkan: Alkitab kita telah disensor oleh penguasa saat itu, Kaisar Konstantin, untuk memenuhi ambisi politiknya. Di sini Brown menarik kesimpulan yang terlalu jauh. Memang ada kitab-kitab yang tidak masuk dalam kanon Alkitab. Jumlahnya tidak sampai 80, namun hanya belasan. Kitab-kitab tersebut tidak dimasukkan bukan karena kehendak Kaisar Konstantin! Sejak awal, gereja telah mengakui keempat Injil dan memakainya secara luas sebagai pegangan ajaran. Sedangkan kitab-kitab lain, seperti Injil Thomas, Injil Filipus, atau Injil Yudas sejak semula sudah ditolak oleh orang percaya, karena dikarang oleh pengikut ajaran gnostik Kristen. Ajaran yang menghubungkan kekristenan dengan agama-agama alam, Yudaisme, dan filsafat Yunani ini sejak semula ditolak. Oleh sebab itu, tentu kitab-kitab karya mereka tidak dimasukkan dalam kanon Alkitab.

Masih banyak lagi isu kontroversial yang diangkat dalam Da Vinci Code. Misalnya, lukisan "Perjamuan Terakhir" karya Leonardo Da Vinci. Menurut penafsiran Brown, mengandung pesan-pesan rahasia. Figur yang duduk di sebelah kanan Yesus bukanlah rasul Yohanes, melainkan Maria Magdalena. Karena gambar wajahnya begitu feminin. Brown lupa, bahwa Leonardo Da Vinci memang selalu melukis orang yang karakternya lembut seperti malaikat dengan wajah feminin. Karena Yohanes dijuluki sebagai "murid yang dikasihi Yesus", Leonardo pun menggambar wajahnya begitu tenang seperti malaikat! Singkatnya, hampir 20% isi novel Da Vinci Code memaparkan data-data sejarah yang telah dikacaukan. Pembaca yang buta sejarah bisa jadi terpesona dan diyakinkan secara mentah, karena tidak adanya pembanding.

Oleh sebab itulah, Da Vinci Code hendaknya dibaca dengan kacamata yang tepat. Ingatlah, Da Vinci Code adalah dongeng. Cerita fiksi belaka yang tidak perlu dipercayai atau dipandang serius. Sebagai cerita, Brown memang berhasil mengarang karya fiksi yang seru, menegangkan, dan cerdas. Brown telah sukses mengarang sebuah dongeng post-modern. Dongeng yang merelatifkan apa yang sudah diterima sebagai kebenaran umum, sehingga mengundang kontroversi dan membuat orang penasaran. Tidak heran ia menjadi kaya raya!

Di masa depan, suksesnya novel Da Vinci Code bakal mendorong penulis-penulis lain mengarang novel dengan tema serupa. Oleh sebab itu, kita perlu berhati-hati. Jangan asal percaya dengan cerita yang tidak jelas kebenarannya. Bacalah dengan kacamata yang benar. Akhirnya, Rasul Paulus mengingatkan kita: "peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu ... Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng" (2Tim 1:13, 4:4).

Sumber : http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=22