Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Agustus 2013

Two Faces of Lebaran

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Lebaran merupakan momen yang paling indah bagi saudara-saudara Muslim karena mereka merayakan kemenangan mereka atas godaan dan nafsu duniawi selama satu bulan penuh. Momen Lebaran biasanya ditandai dengan meningkatnya arus mudik menuju "kampung halaman" masing-masing pemudik. Mereka berbondong-bondong kembali ke daerah asalnya untuk bersilaturahmi dengan anggota keluarga dan sanak saudara.

Di Indonesia, momen Lebaran ini biasanya dimanfaatkan juga oleh khalayak non-Muslim untuk "ikut-ikutan" berlibur panjang. Hal ini mengakibatkan perpindahan jumlah penduduk dari daerah modern menuju daerah lain secara signifikan. Saya ambil contoh suasana kota Bandung yang relatif sepi di dua hari Lebaran ini (8 dan 9 Agustus 2013). Suasana yang sepi ini menggambarkan begitu timpangnya perbandingan mobilitas sebuah kota Bandung dibandingkan dengan akhir pekan yang biasanya dipenuhi oleh mobil-mobil berpelat nomor B (asal Jakarta dan sekitarnya).

Kota Bandung sepi pengunjung

Lain halnya dengan suasana Bali, di mana orang malah berlomba-lomba untuk menikmati liburan sambil memboyong keluarga ke tempat-tempat wisata tertentu.

Pantai Kuta menjadi padat

Saya terkadang heran, "Apakah sebegitu semunya pemikiran manusia di jaman yang modern ini?" Oke lah, seandainya ada tiket promo untuk berlibur akhir pekan di libur Lebaran ini. Tapi, bukankah lebih baik jika uang yang digunakan untuk berlibur ini disimpan demi keperluan sehari-hari?

Contoh, saya memiliki beberapa kolega yang sering mengeluh di akhir bulan bahwa mereka sedang menunggu "cendol" yang ditransfer oleh pihak kantor ke rekening masing-masing karyawan. Kebanyakan dari mereka bercerita saat makan siang, "Lagi ngirit nih, belum dapet cendol." Atau mungkin berdalih ketika diajak nonton film paling anyar ke bioskop, "Bokek, Gan. Belum ada yang bening-bening di rekening ane." Dan seterusnya, dan seterusnya, dst.

Menyikapi kejadian ini, saya hanya ingin mengingatkan supaya kita tidak menjadi takabur semata-mata oleh keadaan di sekeliling kita. Berlibur memang perlu, tapi jangan sampai menyiksa diri. Saya merasa mendengar cerita lama seandainya ada di antara kita yang mengeluhkan gaji yang tidak pernah cukup untuk hidup sebulan, tapi selalu cukup untuk dihambur-hamburkan dalam hitungan hari.

Kesannya konyol, bukan?
Hahaha, semoga tidak terjadi di antara teman-teman yang membaca artikel ini ya.

Semoga Tuhan memberkati!

Sumber:

Minggu, 08 Juli 2012

True Story

"Marilah kepada-Ku, hai kamu sekalian yang berlelah dan yang menanggung berat. Aku ini akan memberi sentosa kepadamu. (Matius 11:28)"

Setelah lebih dari 1 tahun merantau, saya merasakan banyak perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Perubahan yang sangat kentara adalah pertumbuhan kemandirian saya. Saya tidaklah lagi semanja dulu ketika tinggal dengan orang tua, saya tidak lagi mengandalkan ayah dan ibu untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya merasa bersyukur bahwa saya telah mengambil suatu keputusan yang tepat untuk bekerja di luar kampung halaman.

Pada awalnya, ayah dan ibu saya tidak setuju ketika saya menerima tawaran pekerjaan di tempat yang letaknya sangat jauh dari rumah ini. Mungkin mereka sadar bahwa saya bukan tipe anak yang mandiri, sehingga timbul kekhawatiran bahwa saya tidak akan bertahan lama dan nantinya merengek untuk kembali pulang atau malah lebih memillih berhenti bekerja daripada merasa tidak nyaman untuk jangka waktu yang lama. Saya akui bahwa pertimbangan mereka tidaklah salah, sebab saya sendiri tidak pernah berjuang sedemikian keras semenjak saya pertama kali menyusun skripsi. Sejak lulus kuliah, saya lebih banyak merenung mengenai masa depan karir saya. Pekerjaan dosen yang saya jalani selama 6 bulan bagi almamater pun tidak menjadi pilihan utama.
Sempat terlintas di benak saya untuk meneruskan studi S2 di bidang yang berbeda dengan gelar sarjana yang telah saya sandang. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah solusi yang cerdas. Bayangkan saja, saya ini masih fresh grad dan minim dengan pengalaman kerja. Seandainya pun saya lulus S2, jam terbang saya belum mumpuni. Belum lagi biaya studi S2 yang orang tua saya harus tangani, rasa-rasanya saya malah menjadi anak yang tidak berbakti kepada mereka. Ha ha ha.

Saya yakin bahwa Tuhan telah merencanakan segala hal yang baik bagi umat-Nya. Segala pergumulan saya telah Dia jawab dengan indah. Pada awal tahun 2011, entah kenapa, saya merasa bahwa ada suatu dorongan dalam diri saya untuk mengajukan beberapa lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan. Beberapa di antara lamaran-lamaran tersebut berakhir tanpa kabar lebih lanjut, ada pula yang menawarkan pekerjaan dengan sistem kerja serabutan, ada juga yang menawarkan gaji besar dengan sistem multi-level, dan banyaaaakkk lagi. Saya begitu bingung tanpa tujuan pasti. Sampai-sampai saya telah mencapai kepada suatu titik jenuh, saking begitu bosannya mengajukan lamaran yang tak sesuai dengan panggilan hati.

Pada suatu saat, akhirnya saya relakan saja harapan-harapan kosong untuk mendambakan pekerjaan yang saya impikan. Ketika itu, saya hanya melayangkan lamaran ke sebuah perusahaan saja. Nama perusahaannya adalah Mitrais. Seperti biasa, untuk tahap pertama dari setiap lamaran, saya mengikuti ujian tertulis. Setelah lolos ujian tertulis, masuk ke tahap wawancara. Nah, biasanya saya selalu gagal di tahap wawancara. Lucunya, kali ini saya lolos di tahap wawancara dan mendapat tawaran pekerjaan sekaligus medical check-up. Saya sempat berpikir, "Apakah perusahaan Mitrais ini benar-benar berbeda dengan perusahaan-perusahaan lainnya?" Hal tersebut sempat saya renungkan selama 5 hari 5 malam dengan larangan orang tua supaya tidak merantau. Saya menimbang-nimbang, "Apakah saya akan mendapatkan tawaran yang lebih baik dan lebih transparan di perusahaan-perusahaan yang sebelumnya saya lamar? Rasa-rasanya tidak serealistis tawaran Mitrais ini."

Pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk "membangkang" kepada orang tua saya dan mengambil tawaran pekerjaan ini. Toh, saya pikir jangka waktu training yang diberikan hanya 3 bulan. Seandainya saya tidak merasa nyaman, saya bisa kembali pulang setelah kontrak training habis. Orang tua dan adik-adik saya tertegun. Mereka tidak menyangka saya akan begitu nekat. Saya hanya dapat meyakinkan mereka bahwa saya akan berusaha semaksimal mungkin dan akan berkunjung pulang setiap 3 bulan sekali. Padahal saya tau hal tersebut tidaklah memungkinkan, ha ha ha.

Saya tanda tangani kontrak tersebut dan langsung dibelikan tiket terbang ke kantor pusat. Setibanya di tempat tujuan, setiap trainee diberikan fasilitas untuk tinggal di sebuah losmen yang disediakan oleh Mitrais. Saya tinggal selama 3 malam saja dan langsung pindah begitu saya mendapatkan kos yang letaknya tidak jauh dari kantor. Betapa kewalahannya saya ketika saya harus membereskan kos saya sendiri: mulai dari menyapu, mengepel, membeli perabotan, air minum galon, dan hal-hal lain yang belum pernah saya jalani sebelumnya.

Dengan uang seadanya, saya jalani 3 bulan training tersebut. Dalam waktu 3 bulan tersebut, saya mencari sebuah jawaban untuk mempertahankan pekerjaan ini atau tidak. Saya akhirnya menyadari bahwa faktor kenyamanan dan atmosfer bekerja di perusahaan ini sangatlah kondusif untuk mengembangkan aspek pribadi karyawan-karyawannya. Sangatlah disayangkan apabila saya harus melepaskan kesempatan emas ini. Alhasil, ketika kontrak untuk jangka waktu 1 tahun kerja itu ditawarkan, langsung saja saya tanda tangani.

Karena saya menyadari bahwa inilah perusahaan yang saya cari selama ini. Inilah jawaban Tuhan atas segala pergumulan yang saya hadapi. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Papa & Mama. Terima kasih, Adik-adikku. Aku akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan!


Inti Cerita:
Ketika kita berharap, yang akan kita temukan hanyalah kekecewaan. Lain halnya ketika kita tidak berharap. Tuhan akan menjawab segala pergumulan dan memberikan jawaban yang terbaik atas segala doa kita. Tuhan tidak akan pernah sekali pun mengecewakan umat-Nya.

Semoga Tuhan memberkati!

Sabtu, 07 Juli 2012

Jadilah Seperti Air

Dapatkah Anda menyebutkan apa saja sifat–sifat air? Tentunya dari beberapa sifat air yang sederhana, banyak hal yang dapat kita pelajari dan kita terapkan dalam hidup kita.


  1. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah.
    Sifat air yang satu ini mengingatkan kita untuk rendah hati. Semakin tinggi posisi kita, semakin cepat kita harus merendahkan hati. Sama seperti air: semakin tinggi posisi air, maka semakin cepat dan deraslah air mengalir ke bawah.

  2. Permukaan air selalu datar
    Permukaan air yang datar ini melambangkan kesederajatan, bahwa kita memiliki derajat yang sama. Jadi, janganlah kita membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Jadilah seperti air yang dapat membaur dengan banyak zat.

  3. Air dapat melalui celah–celah kecil (kapiler).
    Bila kita memiliki air satu ember penuh dan di dasar ember ada lubang kecil, maka air akan keluar dari lubang kecil tersebut. Sama halnya jika kita memiliki masalah, "Apakah kita akan berusaha terus mencari lubang untuk keluar atau lebih memilih untuk tetap berada di dalam?" Tentunya, kita tidak boleh menyerah! Sama seperti air, sekecil apapun lubangnya, air akan tetap keluar sampai habis. Demikian halnya jika kita memiliki masalah, kita harus mencari lubang untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi, jangan sampai terbelenggu di dalam masalah.

  4. Air mengikuti bentuk wadah.
    Jika kita memiliki 1 gelas air, lalu kita pindahkan ke dalam ember, maka air dalam ember tentu tidak berbentuk gelas lagi. Nah, sifat air yang satu ini mengajarkan kita untuk cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita berada.
    Jika kita memiliki air 1 gelas penuh, lalu kita memasukkan batu ke dalamnya, apa yang akan terjadi? Tentu aja airnya tumpah dan batunya kini berada di dalam gelas. Nah, hal ini mengajarkan kita untuk mengalah; sama seperti air. Air tidak menolak batu untuk masuk ke dalam gelas, malah sebagian air keluar dari gelas dan memberi ruang pada batu untuk masuk.

  5. Riak air berbentuk lingkaran.
    Lingkaran adalah lambang keadilan. Kita harus ingat untuk selalu berlaku adil di setiap tindakan kita.

  6. Air tenang kembali setelah dilempar batu.
    Sifat air yang satu ini mengingatkan kita untuk bisa menguasai diri dalam kondisi apa pun. Walau pada awalnya ada riakan air, tapi air akan kembali tenang. Umumnya, ketika kita menghadapi masalah, emosi pasti bergejolak. Namanya juga manusia. Namun demikian, kita harus dengan cepat menguasai diri untuk tenang kembali dan bertindak dengan kepala dingin.

  7. Air tidak meninggalkan bekas.
    Bayangkan di depan Anda ada seember air. Anda dalam keadaan yang sangat marah, kemudian Anda memukul-mukul ember yang penuh air tersebut. Apa di airnya ada bekas pukulan tangan Anda? Tentu tidak, bukan? Analogi yang ingin saya sampaikan adalah seandainya kita disakiti, kita jangan menyimpannya dalam hati atau bahkan menjadikannya sebagai dendam. Belajarlah untuk saling memaafkan.

Nah, ternyata dari air pun kita bisa mempelajari banyak hal. Memang, untuk menerapkan sifat–sifat air tersebut dalam kehidupan sehari–hari tidaklah mudah.

Semoga Tuhan memberkati!

Sumber
: http://fanyamel.wordpress.com/2009/03/17/jadilah-seperti-air/

Minggu, 08 Januari 2012

Makna Hidup Bersama

Hidup bersama adalah realitas kehidupan yang tidak bisa diingkari, sebab manusia memang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi "penolong yang sepadan" bagi sesamanya (Kejadian 2:18). Melalui hidup bersama, orang dipanggil untuk hidup menjadi berkat dan mendatangkan kebaikan bagi dunia sekitarnya.

Makna hidup bersama adalah:
  1. Menjadi garam dan terang (Matius 5:13-16)
    Fungsi garam adalah memberi rasa dan mengawetkan sesuatu. Fungsi terang adalah membimbing dan menolong seseorang untuk melihat; memperhatikan sesuatu dengan jelas. Hidup dalam kebersamaan adalah kesempatan untuk saling mendatangkan berkat, mendatangkan kebaikan, mendatangkan sesuatu yang menyenangkan bagi orang banyak orang di sekitarnya. Hidup dalam kebersamaan seharusnya membuat orang mampu melihat dan membangun hal-hal yang baik. Hidup dalam kebersamaan adalah kesempatan bagi orang percaya untuk menyatakan, membuktikan, dan memperlihatkan kebenaran-kebenaran Allah, supaya orang lain bisa melihatnya. Hidup dalam kebersamaan akan memberikan kesempatan pada orang percaya untuk memberikan arti dan makna dalam lingkungan dan masyarakat.

  2. Menyeimbangkan hidup sebagai anak Tuhan dan anak manusia (I Samuel 2:11-26)
    Samuel adalah seorang anak yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai nazar yang dilakukan oleh orang tuanya. Ia dibesarkan dalam lingkungan rumah ibadah di Silo dan dipersiapkan untuk menjadi pelayan Tuhan. Dalam masa pembinaan diri itu, Samuel menghadapi banyak masalah, terutama dari anak-anak imam Eli, Hofni dan Pinehas. Sebagai orang yang memang dipersiapkan untuk menjadi pelayan Tuhan, persoalan yang dihadapi oleh Samuel menjadi sebuah batu ujian untuk tetap setia kepada ajaran-ajaran Tuhan. Hubungan dengan sesama manusia yang tetap terjaga dengan baik. Ia mengalami tantangan dari sesama manusia dan tidak menanggapi dengan sikap negatif, membuktikan bahwa Samuel setia pada kebenaran dan ajaran-ajaran Tuhan. Pada akhirnya, Samuel semakin disukai di hadapan Tuhan dan di depan sesama manusia.

  3. Membangun kasih dalam suka dan duka, dalam keadaan apa pun (I Samuel 20:1-43)

    Kisah Daud dan Yonathan yang disaksikan dalam I Samuel 20:1-43, menceritakan kisah suka dan duka dalam kehidupan bersama. Karena kebencian Saul pada Daud, persahabatan Yonathan dan Daud mendapat ujian yang tidak mudah. Saul akan membunuh Daud. Sebagai sahabat yang baik, Yonathan mencoba menolong Daud dan mencari tahu alasan Saul (ayah Yonathan) yang akan membunuh Daud. Yonathan ingin menempatkan dirinya secara adil dan bijaksana di antara sahabat dan ayahnya. Ini bukan menjelaskan sikap dan tindakan yang "plin-plan". Yonathan ingin membangun persahabatannya dengan Daud dan ketaatan pada ayahnya dengan prinsip keadilan dan kebenaran. Hidup dalam kebersamaan yang baik dengan orang, mendorong seseorang untuk melakukan yang terbaik untuk sesamanya. Walau risikonya berat, meskipun kematian.

Sumber diambil dari buku Dewasa Dalam Kristus
"Aspek-aspek Pertumbuhan"

karya Pdt. Himawan Djaja Endra, M.Min.

Jumat, 30 Desember 2011

Pembawa Kabar Baik, Pembawa Damai Sejahtera

"Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Lukas 2:13-14).

Dua ribu tahun yang lalu, di malam yang sunyi di tengah padang, dalam situasi hidup yang menyesakkan karena penjajahan pemerintah Romawi, sekumpulan gembala yang sedang menjaga ternaknya tiba-tiba dikejutkan oleh sepasukan malaikat yang menyanyikan: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Lukas 2:14).

Nyanyian para malaikat itu menjadi katarsis (sarana kelegaan jiwa) bagi para gembala. Mereka menyambutnya dengan sukacita. Apalagi ketika mereka mendapati bahwa apa yang dikatakan para malaikat itu memang sungguh-sungguh terjadi. Perjumpaan dengan Yesus membuat para gembala mengalami damai sejahtera.


Sekarang, di tengah berbagai kepiluan yang melanda hidup, kita juga mendengar dari berbagai pusat perbelanjaan, dari dalam mobil-mobil, dari dalam gereja-gereja, lagu-lagu yang mengumandangkan damai sejahtera di bumi; di antara manusia yang berkenan pada Allah. Untuk sesaat, kita mungkin merasakan damai sejahtera melalui lagu-lagu Natal yang kita dengar. Namun, sungguhkah damai sejahtera itu sudah terwujud?

Kalau kita mencermati apa yang terjadi di sekitar kita saat ini, di dalam maupun di luar gereja, maka kita mesti berbesar hati untuk menerima kenyataan bahwa damai sejahtera (seperti yang dimaksud dalam nyanyian para bala tentara sorgawi itu) belum terwujud. Pemerintah belum secara signifikan mewujudkan janjinya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, membangun demokrasi yang lebih bermartabat, dan membumikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih ada koruptor yang bebas melenggang. Ketidakadilan masih terus berlangsung di Papua. Pelanggaran terhadap hak beribadah masih terjadi. Ketidakpatuhan pejabat terhadap keputusan Mahkamah Agung (seperti dalam kasus bakal pos Taman Yasmin) masih terjadi. Kekerasan dalam rumah tangga, anak-anak putus sekolah karena ketiadaan biaya, perceraian antara suami-istri, semakin meningkat. Semua hal ini semakin menegaskan bahwa damai sejahtera memang masih belum terwujud.

Dalam realitas seperti ini, kepada seluruh anggota jemaat dan simpatisan GKI, kami menyampaikan beberapa pesan berikut ini:
  1. Pilihlah yang benar!
    Dalam menyikapi berbagai situasi saat ini, ada berbagai sikap yang bisa kita pilih. Yang paling sederhana adalah dengan bersikap apatis, atau setidaknya pasif. Sebab kita merasa tak mampu untuk menyelesaikan berbagai persoalaan yang ada. Semua dibiarkan berlalu sebagaimana adanya. Atau, kita bisa bersikap proaktif. Ketika Natal menyapa kita kembali, bukan saja lagu damai sejahtera yang kita kembali dengar, melainkan ada ajakan untuk secara bersama untuk mewujudkan damai sejahtera. Dan kita memang dapat menjadi bagian dari orang-orang yang mengupayakan agar damai sejahtera itu menjadi nyata, sebab kita sudah menerima kabar baik itu. Kita malah telah mengalami damai sejahtera itu oleh iman kepada Tuhan Yesus.

  2. Belajarlah mengalahkan diri sendiri!
    Ini bukan sesuatu yang sederhana dan mudah. Kuasa dosa yang membelenggu manusia untuk lebih sering bersikap egois, sehingga usaha untuk mengalahkan diri sendiri itu seperti berhadapan dengan ketidakmungkinan; jalan buntu! Syukur kepada Allah, sebab ternyata kita tak menemui jalan buntu. Peristiwa Natal menerobos semua ketidakmungkinan itu. Para gembala telah membuktikannya. Merespons berita Natal, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem... " (Lukas 2:15), dan bukan: "Izinkan aku pergi ke Betlehem." Berita Natal ternyata memicu semangat kebersamaan dan bukan pementingan diri sendiri.

    Ketika orang bersedia untuk mendahulukan orang lain dan memberi diri untuk memungkinkan orang lain menjalani kehidupan yang lebih baik, maka damai sejahtera niscaya terwujud. Natal, kelahiran Yesus ke dalam dunia, membawa pengharapan bahwa perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri ternyata mungkin. Ia memberikan hidup-Nya bagi manusia. Ia menebus manusia dari kuasa dosa supaya manusia bisa hidup berdampingan satu dengan yang lain. Ia memberikan hidupnya agar damai sejahtera bisa terwujud.

    Mari kita mulai hal ini dari lingkup yang paling kecil (keluarga) dan meluas sampai ke tengah masyarakat. Mari mewujudkan damai sejahtera dalam keluarga dengan menghindari segala wujud kekerasan dalam rumah tangga dan menjaga kesucian pernikahan.

    Mari wujudkan damai sejahtera dalam masyarakat dengan terus memperjuangkan tegaknya keadilan; memberi teladan dalam kesediaan menerima perbedaan dan kesediaan untuk hidup dalam kemajemukan. Untuk mencapai semua itu, kita perlu terus bergandengan tangan dengan semua saudara kita yang memiliki semangat dan tujuan yang sama.

  3. Jalanilah keseharian secara baru!
    Perjumpaan dengan bayi Yesus telah mengubah cara pandang, bahkan sikap para gembala terhadap realitas hidup. Mereka kini menjalani hidup dengan cara yang berbeda. "Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka" (Lukas 2:20). Realitas hidup para gembala tidak berubah. Mereka kembali ke padang untuk menggembalakan domba, namun kini mereka menjalani itu dengan memuji dan memuliakan Tuhan. Kita semestinya demikian juga. Perjuangan hidup memang tak jadi berkurang atau menjadi lebih mudah; aneka keruwetan dan persoalan hidup mungkin tidak semakin berkurang. Namun, peristiwa Natal hendaknya membuat kita menjalani realitas, yang mungkin masih sama, tapi secara baru. Kita hendaknya menjalani hidup tidak lagi dengan keluhan atau amarah, melainkan dengan memuji dan memuliakan Allah. Kita tetap optimis bahwa kita akan mengalami yang lebih baik.

Selamat Natal 2011 dan Selamat Tahun Baru 2012.
Badan Pekerja Majelis Sinode
Gereja Kristen Indonesia

Sumber diambil dari Warta Jemaat GKI Kebonjati
No.52/WJ/2011 Tanggal 25 Desember 2011, Minggu Ke-4
.

Minggu, 11 September 2011

Berpikir Positif

Salah satu hal yang sangat mungkin kita kendalikan sendiri adalah bagaimana cara berpikir kita. Kalau kita mau berpikir positif, maka kita memiliki kesempatan untuk membuang segala hal yang tidak baik, memungkinkan kita untuk menjaga perasaan kita, menjaga langkah perjalanan kita, dan menjaga hubungan kita dengan orang lain. Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka membangun cara berpikir positif:

  1. Bersikap tenang
    Jangan biarkan orang lain membuat kita emosi, sebab mereka menjadi pihak yang menang dan kita yang kalah. Kita memiliki pilihan untuk marah atau tidak marah, tergantung bagaimana kita mengendalikan emosi kita. Marah atau tidak marah bukanlah sesuatu yang harus dikerjakan. Kita harus memilihnya; memilih marah atau tidak marah.

  2. Buanglah hal-hal buruk yang pernah terpikir dan terjadi
    Menyimpan hal-hal atau peristiwa-peristiwa buruk dan bersiap-siap untuk membalasnya adalah sikap dan tindakan hidup yang merusak diri sendiri dan orang lain. Apa perlu kita menyimpan hal-hal buruk kalau hal-hal itu tidak diperlukan dan tidak ada gunanya? Apa untungnya kita melakukan hal-hal buruk kalau hal-hal itu justru menggambarkan kejelekan kita sendiri dan merusak hubungan dengan orang lain? Rasanya memang tidak ada gunanya, tidak ada perlunya!


  3. Mencari sisi-sisi baik dan memperbaiki sisi-sisi yang buruk
    Mau tidak mau, kita harus mengakui apa pun, siapa pun selalu memiliki sisi baik-buruk, sisi yang menyenangkan-tidak menyenangkan, sisi positif-negatif. Itu hal yang wajar. Akan menjadi tidak wajar jika kita memandang sesuatu dengan hanya memperhatikan hal-hal yang jeleknya saja. Padahal, ada sisi baik, indah, positif, dan sisi yang menyenangkan. Sikap orang yang sudah diselamatkan adalah ketika ia melihat sesuatu (benda atau manusia), ia akan melihat dalam keseimbangan. Apa yang baik akan dilihat sebagai sesuatu yang perlu dikembangkan, sedangkan hal-hal buruk dilihat sebagai hal-hal yang perlu diperbaiki. Hal-hal baik perlu diambil, sedangkan hal-hal yang tidak baik perlu dibuang (Roma 12:2). Hal-hal yang baik harus menjadi titik pandang ketika kita menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan.

  4. Memandang kesulitan sebagai tantangan dan peluang untuk maju
    Oleh sebab itu, hadapilah setiap kesulitan yang ada dan kalahkanlah kesulitan. Jangan lari dari kesulitan. Apabila kita berlari, kita tidak memiliki pengalaman menghadapi kesulitan, kita tidak memiliki kekuatan dan ketangguhan dalam menghadapi kesulitan.

Sumber diambil dari buku Dewasa Dalam Kristus 2
"Gaya Hidup dan Kekristenan"

karya Pdt. Himawan Djaja Endra, M.Min.

Jumat, 09 September 2011

Heroik

"Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu. (1 Samuel 17:37)

Majalah Tempo edisi khusus tokoh pilihan menulis tentang sembilan pahlawan dari tanah bencana. Dan, salah satu tokoh yang ditulis di situ adalah Ferry Imbiri, seorang guru SD Inpres Wasior. Kisah heroiknya dicatat bukan hanya karena ia mengambil keputusan meliburkan anak-anak tatkala melihat air sungai meluap, tiga puluh menit sebelum bencana air bah menimpa Wasior. Akan tetapi, juga keberaniannya mengarungi derasnya air dengan menggandeng tujuh orang di tangannya.

Di dalam Alkitab juga ada seseorang yang memiliki sikap heroik, yaitu Daud. Anak bungsu Isai yang masih sangat muda dan perawakannya belum sebesar atau segagah kakak-kakaknya yang menjadi barisan tentara Saul. Akan tetapi, di tengah ketakutan yang melanda seluruh tentara Israel karena digertak oleh Goliat, Daud memberanikan diri untuk maju melawan sang pahlawan dari negeri Filistin. Daud maju bukan karena ia nekat atau sok berani (apalagi berharap upah atau penghargaan), melainkan ia maju karena tidak terima melihat bangsanya—barisan tentara Allah—diolok-olok sedemikian rupa. Berangkat dari hati yang seperti inilah akhirnya Daud tampil menjadi sosok heroik di Israel.


Seorang yang berjiwa heroik masih terus dibutuhkan hingga saat ini. Seseorang yang menolong orang lain tanpa memedulikan keuntungan apa yang akan ia peroleh. Seseorang yang tidak mengharapkan pujian atas perbuatan baiknya tidak akan memanfaatkan kesempatan untuk keuntungan di tengah kesempitan yang dialami orang lain. Seseorang bangkit menolong yang lain karena hatinya mengasihi Tuhan dan sesama.

Tolonglah orang tanpa pamrih.
Itulah sikap hati PAHLAWAN yang sesungguhnya.

Sumber
: http://www.renunganharian.net/index.php/2011/8-september/7-heroik

Selasa, 17 Mei 2011

Bagaimana Kita Menilai Diri Sendiri dan Orang Lain

Setiap orang memiliki cara-cara terntentu dalam berhubungan, berkomunikasi, dan cara memandang orang lain. Ada beberapa pola yang sering dipakai manusia dalam hubungannya dengan orang lain. Berikut adalah penjelasan masing-masing pola.

  1. Saya manusia tidak baik - orang lain manusia baik.


    Orang dengan pola hubungan seperti ini cenderung memasukkan segala sesuatu ke dalam hatinya; segala sesuatu dipikir dalam-dalam. Orang seperti ini tidak rileks. Sikap ini menimbulkan cara hidup dan cara bertindak yang selalu salah dan merasa bersalah karena merasa diri tidak baik. Manusia ini selalu iri terhadap orang lain.


  2. Saya manusia tidak baik - orang lain juga manusia tidak baik.


    Orang seperti ini tidak peduli pada diri sendiri dan orang lain; tidak peduli tentang apa yang dipikirkan dan dilakukannya. Berpikir dan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan sebab-akibatnya. Berpikir pendek saja, tidak ada yang ingin dicapai. Melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu.


  3. Saya manusia yang baik - orang lain manusia yang tidak baik.


    Pola pikir seperti ini memungkinkan orang untuk berpikir tentang apa yang akan dilakukannya dan mempertimbangkan apa yang menjadi sebab-akibat sebuah perbuatan. Yang menjadi masalah adalah orang seperti ini menganggap orang lain berada di bawah kuasanya. Memandang orang lain lebih rendah, arogan, mengancam orang lain, dan meremehkan orang lain. Ia selalu menganggap bahwa dirinya yang paling bisa, paling baik, dan paling segala-galanya.


  4. Saya manusia yang baik - orang lain juga manusia baik.


    Ini sikap yang paling ideal. Manusia yang termasuk dalam kelompok ini adalah manusia yang selalu mampu menghargai orang lain apa adanya, sebagaimana ia menghargai dirinya sendiri. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan dan memiliki harga diri yang sama. Orang ini bisa melihat dan menerima kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri maupun orang lain. Selalu mau mengembangkan apa yang dimilikinya dan rela menolong orang lain dalam segala kesulitan/persoalan mereka; bukan malah mencelanya. Ia mau diingatkan dan dibangun oleh orang lain atas kekurangan-kekurangannya.

Mana yang kita harus pilih? Kita memiliki kesempatan dan hak untuk memilih, tetapi sikap "saya baik - orang lain baik" adalah pilihan yang paling bijaksana. Pilihan ini menjelaskan tingkat kedewasaan kita dalam memahami diri sendiri dan orang lain.

Tuhan Yesus pernah mengingatkan kepada orang percaya demikian, "... apa yang orang lain ingin lakukan pada dirimu, lakukanlah lebih dahulu kepada orang lain." Kalau saya ingin dianggap baik dan orang memperlakukan kita dengan baik, maka saya harus menganggap baik orang lain dan memperlakukan orang lain dengan baik.

Sumber diambil dari buku Dewasa Dalam Kristus "Aspek-aspek Pertumbuhan"
karya Pdt. Himawan Djaja Endra, M.Min.

Sabtu, 05 Februari 2011

Lompatan Iman

Ada sebuah artikel yang bercerita tentang seorang pria yang melakukan 'leap of faith'; seorang eksekutif sebuah perusahaan ternama yang kemudian berganti profesi menjadi seorang stock broker dengan memulai segalanya dari awal kembali.


Koran LA Times menceritakan tentang seorang engineer dari Korea, dengan karirnya yang cemerlang, melakukan lompatan iman dengan meninggalkan pekerjaannya dan berganti haluan menjadi seorang pendeta. Menurut pengakuannya, ia mendapat panggilan dari Tuhan untuk melayani. Ia meninggalkan karirnya dan mengambil pendidikan theologi. Dengan berbekal gelar Ph.D dari Biola University, ia melayani jemaat komunitas Korea di Los Angeles dan sekitarnya.

Sama halnya dengan Abram. Ia meninggalkan sanak keluarganya di Uhr Kasdim untuk berkelana menuju ke 'tanah perjanjian' yang tidak diketahui di mana tempatnya. Ia hanya berbekal iman kepada Tuhan yang telah memanggilnya. Kita tahu nama Abram kemudian berubah menjadi Abraham, yang memiliki arti bapak orang-orang beriman.

Pada Perjanjian Baru, Yesus melakukan lompatan iman terbesar dalam sejarah umat manusia. Yesus menyerahkan dirinya untuk disalib tanpa kesalahan apa pun. Dengan iman kepada Bapa-Nya, yang telah mengutus Dia datang ke dunia. Yesus datang untuk menebus manusia, untuk disalib.

Melakukan lompatan iman sama sekali tidak mudah. Walau terkadang membaca berbagai cerita terlihat begitu smooth seperti membalikkan telapak tangan saja. Tetapi, pada kenyataannya, penuh perjuangan dan ketekunan.


Si stock broker dikira sinting oleh teman-temannya. Sebab butuh waktu yang cukup lama untuk belajar dan belajar; jatuh bangun kembali tanpa penghasilan untuk beberapa saat. Dalam hal ini memang diperlukan ketekunan dan kerja keras untuk dapat sukses. Abram harus melewati berbagai peperangan dan rintangan di dalam kehidupannya sebelum menjadi Abraham. Yesus bermandikan keringat darah di taman Getsemane dan kedatangan seorang malaikat untuk menguatkan iman-Nya.

Berbagai orang telah melakukan lompatan iman, melangkah maju dengan menghadapi berbagai rintangan dan risiko untuk menggapai keinginannya, demi memenuhi panggilan. Mengambil langkah awal memang berat dan membutuhkan perjuangan, tetapi itu barulah permulaan. Langkah berikutnya membutuhkan ketekunan dan pantang menyerah. Rasul Paulus mengatakan bahwa barang siapa yang bertahan sampai kesudahan, dialah yang akan mendapat mahkota. Hal ini berlaku bukan hanya dalam kehidupan rohani, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa temanku ada yang berputus asa, banyak yang berhenti di tengah jalan untuk menyerah. Padahal aku tahu mereka telah bekerja keras, siang-malam membanting tulang. Mengais kehidupan bukan hanya kesediaan untuk bekerja keras, tetapi juga berjuang untuk mengatasi berbagai halangan yang ada. Masalah pertama adalah bahasa, hal berikutnya adalah pengetahuan/keterampilan. Hal-hal ini haruslah diatasi untuk bisa melangkah ke jenjang berikutnya. Aku pun mempunyai kendala yang sama. Dan itu tidak bisa dihilangkan dengan membalikkan telapak tangan saja.

Di mana ada kemauan di situ ada jalan.
Di mana ada usaha, mahkota keberhasilan akan menanti.

Sumber:
http://www.glorianet.org/index.php/goeij/518-iman

Minggu, 30 Januari 2011

Menang Dalam Masa Penantian

Apapun panggilan kehidupan Anda, satu hal yang tersulit yang kita harus hadapi adalah ketika Tuhan meminta kita untuk menunggu. Pada awalnya, Dia akan menyiapkan hati kita untuk panggilan itu. Dia akan memberikan petunjuk tentang rencana-Nya bagi kita dan melahirkan harapan yang besar dalam hati kita.

Namun, kesulitan biasanya berada di antara waktu persiapan itu dan waktu penggenapan janji. Pada permulaan, kita tahu apa yang telah Tuhan katakan dan kita tahu bahwa kita pasti akan melihatnya menjadi nyata; tidak peduli seperti apapun serangan musuh dalam hidup kita. Iman kita setinggi gunung. Kita mengambil langkah iman dan bersemangat untuk melihat buah dari kerja keras kita.

Lalu tiba waktu untuk menunggu.


Hari berganti menjadi minggu, bahkan bulan menjadi tahun, kita masih terus menunggu penggenapan janji Tuhan dalam hidup kita. Banyak dari kita tidak bisa mengatasi dengan baik masa menunggu ini. Harapan kita mulai pudar. Kita mulai lupa betapa mulianya janji Tuhan yang diberikan pada kita dan bagaimana kita bersemangat saat menerima janji Tuhan itu. Jadi, banyak dari kita kehilangan iman pada masa menunggu ini.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan hati kita tetap terarah pada masa menunggu ini?

  1. Berdiam dalam hadirat Tuhan.
    Mendengar suara Tuhan di masa-masa menunggu seperti ini ibarat menemukan sumur di tengah padang gurun. Kita tidak dapat bertahan di masa menunggu ini dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan Tuhan. Hanya dengan berada dalam hadirat Tuhan kita akan mendapatkan kekuatan baru. Akan sangat sulit menjaga hati Anda untuk tetap memiliki semangat jika Anda tidak pernah menyediakan waktu untuk beristirahat di hadirat-Nya.

    ...tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)


  2. Peka dengan suara Tuhan.
    Paulus menuliskan dalam Roma 10 bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan. Maksud dari pendengaran akan Firman Tuhan di sini yaitu dipenuhi, terpaut, makanan sehari-hari, menjadi fokus pada Firman Tuhan – hal inilah yang akan meningkatkan iman Anda.

    Jadi, ketika Anda menghadapi masa menunggu itu, pastikan diri Anda mengarahkan diri pada Firman Tuhan. Apa yang Tuhan katakan melalui Firman-Nya? Peganglah janji Tuhan tersebut, tuliskan dan tempelkan dimana Anda bisa sering membacanya.

    Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus.” (Roma 10:17)


  3. Berani mengambil risiko.
    Pada akhirnya, kita perlu mempertimbangkan untuk membuat tindakan yang belum pernah kita lakukan. Mungkin Tuhan sudah mempersiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan, dan satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah mengambil risiko.

    Petrus adalah contoh seorang murid Yesus yang berani mengambil risiko. Perjanjian Baru banyak menceritakan tentangnya. Sekalipun Petrus tidak selalu mengambil pilihan dengan risiko yang positif, Yesus tidak pernah mengkritiknya karena begitu berani.

    Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (Matius 14:28)


Jika Anda melakukan ketiga hal di atas – menyediakan waktu untuk berada dalam hadirat Tuhan, fokus pada Firman Tuhan dan berani mengambil risiko – saya jamin Anda akan melihat perubahan karena Anda mencari Tuhan. Anda memegang janji Tuhan dan mengingat perkataannya. Jadi, saat ini jika Anda menghadapi masa menunggu, kuatkanlah hati Anda dan ijinkan Tuhan memberikan kekuatan yang baru itu. Ijinkan Tuhan menyegarkan roh Anda dan menguatkan iman Anda. Percayalah, jika Anda tidak menjadi lemah, pasti Anda akan menuai apa yang tabur.

Sumber : http://www.gkikwitang.or.id/spiritual-life/teachings/396-menang-dalam-masa-penantian

Senin, 02 Agustus 2010

Benih-benih Sikap Rajin

Kemarin aku duduk mengikuti ibadah penutupan peti ibu dari salah seorang temanku. Tidak ada yang terlalu istimewa dalam ibadah itu, kecuali saat anak tertua menyampaikan ucapan terima kasih dari pihak keluarga. Kata-kata yang ia ucapkan sangatlah menyentuh, sehingga ada banyak pengunjung yang meneteskan air mata.

Aku tidak dapat mengingat setiap detil kata-katanya, namun ada beberapa kalimat yang masih terngiang-ngiang di telingaku. Kurang lebih demikian apa yang dikatakan anak sulung itu di hadapan ratusan orang yang hadir waktu itu.

---------------------------------------------------------

Mama kami seringkali berbohong. Mungkin Anda terkejut mengapa saya menyampaikan hal ini di penutupan peti Mama. Tapi, kami mau Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi. Papa meninggal ketika mama berusia 30 tahun, dan sejak itu mama tidak pernah menikah lagi. Bayangkan, apa yang harus dilakukan seorang janda berumur 30 tahun dengan dua anak berusia 4 dan 2 tahun untuk bertahan hidup? Sejak kecil saya dan adik melihat mama bekerja keras mencuci pakaian tetangga dan menjual makanan kecil. Pagi hari mencuci, kemudian memasak, dan berkeliling kampung menjual makanan kecil sampai sore.

Sering saya bertanya, ”Mama pasti capek ya?”

Saya tahu Mama pasti lelah, tapi ia selalu tersenyum. Sambil mengusap kepala saya dan kepala adik, Mama berkata,” Tidak Nak. Mama tidak capek.”

Mama berbohong pada kami.

Seringkali kami melihat mama membagi makanan menjadi dua; untuk saya dan adik. Ia hanya mengambil sebagian kecil untuk dirinya. Kalau itu daging, mama hanya mengambil kuah daging itu untuk dirinya. Daging diberikan untuk saya dan adik. Saya meminta, ”Mama, ayo ambil dan makan dagingnya bersama-sama. Dibagi tiga kan masih cukup.”

Mama hanya menggeleng dan berkata,” Mama tidak bisa makan daging. Kalian saja makan supaya kuat dan sehat.”

Setelah besar saya tahu bahwa mama berbohong. Mama sebenarnya bisa dan suka makan daging. Ia mengalah untuk kami.

Jika ada sedikit uang lebih untuk membeli pakaian, maka Mama pasti akan memilih yang terbaik untuk saya dan adik. Ketika kami makin besar, berulang kali kami mendesak Mama untuk membeli pakaian untuk dirinya sendiri. Mama selalu menjawab, ”Baju yang ada masih bisa dipakai. Masih bagus.”

Padahal kami tahu di tengah malam hari, Mama menjahit lubang-lubang yang ada di bajunya. Mama berbohong. Baju itu sebenarnya sudah jelek.

Mama adalah sosok pekerja keras. Ia tidak pernah malas melakukan apapun bagi anak-anaknya. Ia jarang mengeluh dan seperti yang saya katakan tadi, Mama malah cenderung menutupi kelelahan dan keinginannya demi anak-anaknya. Sewaktu menemani Mama di hari-hari terakhir hidupnya, saya bertanya mengapa Mama bisa begitu rajin bekerja. Mama menjawab, ”Mama harus rajin bekerja, karena Mama mencintai kalian. Mama ingin kalian sukses."

---------------------------------------------------------

Bagiku, ibu dari rekanku itu adalah contoh hidup apa yang disebut dalam Amsal 31:27, "Ia selalu rajin bekerja dan memperhatikan urusan rumah tangganya."

Dengan saksama ia memperhatikan segala sesuatu yang terjadi di dalam rumah tangganya dan ia tidak pernah malas. Ibu rekanku itu telah menjadi wanita yang maksimal. Maksimal memperhatikan rumah tangganya walau seorang diri. Aku bisa melihat buah kerja keras dan sikap rajin ibu itu. Dua rekanku adalah sosok pekerja keras, rajin, ulet dan tangguh seperti ibunya. Sungguh, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. SIKAP RAJIN AKAN MENGHASILKAN BUAH YANG MANIS DI MASA DEPAN.


Selamat menabur benih sikap rajin.

Sumber:
Wahyu Pramudya.

Sabtu, 17 Juli 2010

Pintar Tapi Bodoh

Seorang manajer dari sebuah perusahaan mendengar gosip bahwa dirinya akan dipromosikan menjadi seorang General Manager, menggantikan orang sebelumnya yang baru saja mengundurkan diri.


Meski sumber berita itu tidak jelas dari mana datangnya, namun itu cukup membuatnya melayang penuh KEGEMBIRAAN. Mengingat perjalanan karirnya yang dimulai dari bawah, usianya yang masih 29 tahun dan lama kerja yang masih baru di bawah 6 tahun, tentu ini adalah hal yang sangat menggembirakan sekaligus menjadi prestasi yang sangat mentereng.

Namun, seperti pada beberapa perusahaan, selalu ada orang-orang iri yang tidak rela melihat orang lain berhasil. Para manajer yang usianya lebih senior dan sudah bekerja lebih lama dari manajer muda itu juga mendengar kabar burung yang sama dan mulai merasa cemburu. Maka, para manajer yang lebih senior menyebarkan gosip lain yang isinya adalah menjelek-jelekkan manajer muda tersebut. Mulai dari masalah pribadi, hingga fitnah dalam pekerjaan.

Secepat angin berhembus, berita buruk itu segera sampai ke telinga sang manajer muda. Pada awalnya, manajer muda itu masih bisa menahan diri. Namun, semakin hari semakin banyak berita yang ia dengar dan kesabarannya pun semakin tipis. Belum lagi perilaku para manajer senior yang sering menyindir dan mengeluarkan humor-humor sarkasme di depan sang manajer muda.

Hingga suatu hari, dalam sebuah rapat rutin, seluruh manajer hadir di sana dan direktur perusahaan itu mengemukakan sebuah kasus cukup besar yang terjadi di dalam perusahaan itu. Ternyata dalam rapat tersebut seluruh manajer senior bersepakat untuk menyudutkan sang manajer muda, menjadikan ia kambing hitam dan semuanya bersatu padu melemparkan kesalahan pada sang manajer muda.

Ketika perdebatan mulai alot, sang manajer muda mulai frustasi mempertahankan diri. Tiba-tiba ia berdiri dan berteriak kepada seluruh manajer yang ada di sana. Sambil menudingkan jarinya ia membentak geram, “Ucapan kalian semuanya bullshit!!!! Kalian berusaha memojokkan saya karena kalian iri dengan prestasi saya dan tidak mau saya diangkat menjadi General Manager!”

Singkat cerita, manajer muda itu dipanggil oleh sang direktur.
“Saya tahu kamu adalah manajer yang potensial. Tapi siapa yang bilang kalau kamu akan dipromosikan jadi GM? Sampai hari ini manajemen belum memutuskan siapa yang akan menggantikan menjadi GM. Tadinya kami memperhitungkan dirimu, tapi setelah melihat perilakumu di meeting, jelas sudah bahwa kamu belum layak menjadi General Manager.”

Manajer muda itu tidak bodoh. Pendidikan S1 ia selesaikan di salah satu kampus elit Amerika. IQ-nya lebih dari cukup untuk membuat ia sadar bahwa tindakannya di dalam meeting bisa mengancam karirnya. Namun, tetap saja, kepintaran otak kita tidak mampu menyelamatkan kita dari tindakan-tindakan konyol yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Anthony Dio Martin, pernah berkata, “Sebenar apapun posisi Anda, ketika Anda membiarkan emosi mengambil alih tindakan, Anda bisa menjadi salah!”

That’s exactly what happen with that young manager.
WHAT A PITY?


Sumber diambil dari buku "Emotion for Success" karya Josua Iwan Wahyudi.

Selasa, 25 Mei 2010

Mengalah Untuk Menang

Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan (Mazmur 37:8)

Apakah Anda pernah melihat anak nelayan memancing kepiting? Mereka mengikatkan tali di sebatang bambu. Ujungnya diikatkan pada batu kecil. Lalu bambu itu diayun ke arah kepiting yang diincar, kemudian disentak-sentakkan agar kepiting itu marah. Begitu si kepiting marah, ia akan mencengkeram batu kecil itu dengan kuat dan terjeratlah ia karena kemarahannya!

Karena adanya akibat serupa dengan gambaran di atas, itulah sebabnya amarah kita tidak boleh terpancing melihat orang jahat. Tiga kali pemazmur menasihati para pembacanya agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat. Sebab itu hanya akan membawa kita pada kejahatan.

Emosi tinggi bisa membuat kita berbuat sesuatu yang berakibat buruk. Misalnya karena ingin melampiaskan kemarahan, kita justru menyakiti orang lain secara fisik atau perasaan. Bahkan sekalipun kemarahan itu beralasan, kita bisa menjadi marah atau iri hati terhadap orang yang bebas berbuat jahat.

Seolah-olah hidup mereka tetap aman dan terlindungi dari murka Allah. Seakan-akan Allah tidak adil. Sepertinya Dia membiarkan saja jika orang benar lebih kerap bermasalah dibanding orang jahat. Benarkah?


Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah disini untuk “menang”; untuk tidak jatuh dalam perbuatan dosa. Jika kita harus menyaksikan kefasikan merajalela dan kita tak bisa berbuat apa-apa, kita harus meneguhkan hati untuk tidak marah. Ya, marah kepada orang fasik hanya membuat kita masuk ke dalam pancingan mereka.

Kemarahan yang tak terkendali justru akan menjerat kita ke dalam dosa. Ingat saja kata pemazmur. Orang fasik takkan bertahan lama dalam keberdosaan, kejahatan mereka akan terbongkar. Tuhan selalu adil. Dia tidak menutup mata atas kefasikan

KEBERUNTUNGAN ORANG FASIK HANYA SEMENTARA.
KEBERUNTUNGAN ORANG BENAR SUNGGUH TAK TERKIRA.


Sumber : http://harianwanita.com/blog/

Senin, 10 Mei 2010

Kala Harapan Tak Berjumpa Realita

"Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel" (Lukas 24:21)

"Seorang jagoan menang belakangan." Pepatah ini menyiratkan harapan dan keyakinan. Namun, ini tidak berlaku bagi Mike Tyson ketika berhadapan dengan Evander Holyfield.

Dengan gaya jagoannya, Tyson memasuki arena pertandingan. Orang-orang yakin ini akan menjadi pertandingan yang mudah bagi Tyson untuk mengalahkan Holyfield. Akan tetapi, Tyson malah mendapat serangan bertubi-tubi dari Holyfield. Harapan untuk kembali menyabet juara dunia menjadi jauh dari kenyataan.

Pada ronde ke-3, Tyson pun menjadi putus asa dan menggigit telinga sang lawan.


Hal tersebut dapat dianalogikan sebagai harapan bangsa Israel terhadap Tuhan Yesus. Sebab Tuhan Yesus juga diharapkan menjadi seorang Mesias; membebaskan bangsa Israel dari dosa. Pada kenyataannya, Tuhan Yesus justru tidak menunjukkan diri sebagai seorang jagoan. Ia kalah dan mati disalib. Kekecewaan dan keputusasaan meliputi para murid Tuhan Yesus. Mereka meninggalkan kota Yerusalem dengan penuh kesedihan. Dalam kondisi seperti ini, Tuhan Yesus hadir dan menyapa mereka. Sapaan-Nya bukan sembarang sapaan. Sapaan-Nya sarat dengan kepedulian. Sapaan Tuhan Yesus tersebut menjadi awal dari pemulihan luka akibat kekecewaan.

"Lihat tangan-Ku dan lihat kaki-Ku. Ketahuilah, bahwa Aku sendirilah ini! Rabalah dan perhatikanlah, karena hantu tidak mempunyai daging atau tulang, seperti yang kalian lihat pada-Ku." (Lukas 24:39)

Dalam hidup ini, harapan tidak senantiasa bertemu dengan realita. Banyak orang di sekitar kita yang terpuruk karena pupusnya harapan, entah karena sakit hati atau permasalahan lainnya. Kristus telah menyapa kita dengan sapaan yang memberikan kekuatan untuk menjalani hidup yang tak sesuai dengan harapan. Kita pun diundang untuk menyapa mereka yang saat ini terpuruk dan putus asa.

Sapaan Tuhan Yesus yang sudah bangkit akan senantiasa membangkitkan harapan baru.

Amin.

Sumber : WASIAT vol.43 edisi Maret-April 2010 (Jumat, 19 Maret 2010)

Kamis, 25 Maret 2010

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi Masalah

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa yang akan memulihkan semangat yang patah?” Amsal 18:14

Beragam persoalan bisa menimpa siapa saja; entah orang kaya atau miskin, tua atau muda. Setiap orang selama hidup di dunia ini selalu berhadapan dengan berbagai persoalan. Setiap orang, terlepas dari status sosial, pendidikan, profesinya, dan bahkan sebagai hamba Tuhan pun, tidak luput dari yang namanya pergumulan atau persoalan. Manusia harus berhadapan dengan masalah selama hidup di dunia ini. Setiap orang tentunya memiliki persoalan yang berbeda-beda.

Kita tidak boleh menyerah, walau badai apa pun yang sedang menerpa. Sebab pencobaan yang kita alami tidak pernah melebihi kekuatan kita.

Allah itu baik. Dia sahabat kita, dalam segala kesusahan Dia selalu menghibur. Biasanya ada beberapa hambatan-hambatan dalam meraih sebuah keberhasilan yaitu, sikap yang putus asa, patah semangat, menyerah, keinginan untuk mundur, dan lain sebagainya. Kalau sikap seperti ini dibiarkan, akan membuat seseorang menjadi frustrasi dan tetap tinggal dalam masalahnya. Dalam menghadapi setiap masalah, kita membutuhkan sebuah semangat untuk berjuang dan bangkit, dengan pertolongan Tuhan supaya kita sampai pada tujuan yang diinginkan.


Untuk menjadi orang yang bersemangat yang selalu optimis, kita memerlukan:

  1. Keberanian bertindak untuk mengambil resiko. Orang yang bersemangat memiliki keberanian untuk bertindak. Siap hidup dan siap mati, tidak takut dan tidak gemetar karena mempunyai ketetapan hati yang mantap. Ingat kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego? Ada sebuah perintah yang telah dibuat supaya setiap orang sujud menyembah patung yang telah didirikan oleh raja Nebukadnezar. Mereka tidak mau menyembah patung tersebut. (Daniel 3:17-18)

  2. Sikap tidak mau menyerah. Dalam Alkitab, ada sebuah cerita tentang seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Perempuan ini sudah diobati oleh berbagai-bagai tabib, namun keadaannya makin memburuk. Perempuan ini tidak putus asa, ia tetap memiliki semangat untuk sembuh. Tatkala ia mendengar berita tentang Yesus Sang Penyembuh itu, ia pun berusaha untuk mencari Yesus.
    Sebab ia yakin Yesus dapat menolong untuk menyembuhkannya. (Matius 9:21)

  3. Iman yang teguh. Rasul Paulus setelah pertobatannya, memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan, ia memenuhi panggilan Tuhan sebagi salah satu rasul yang ikut menderita bagi Kristus. Dalam mengiring Yesus, Paulus banyak sekali mengalami penderitaan dan aniaya. Paulus juga mengalami kesedihan, ia ditinggalkan oleh teman-temannya. (II Timotius 4:16-18)

Apapun keadaan yang kini tengah kita hadapi, kita tidak boleh hilang pengharapan, putus asa, atau melepaskan iman saat menghadapi berbagai masalah. Hadapilah semua bersama Tuhan, kita akan mengalami pengalaman-pengalaman yang baru bersama Tuhan. Kita harus tetap percaya bahwa setiap Firman Tuhan yang kita butuhkan terjadi atas kita.

Semangat merupakan jalan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan. Miliki keberanian untuk melakukan Firman Allah, jangan pernah menyerah dan tetap teguh pegang janji Tuhan sampai menjadi sebuah kenyataan. Tuhan memulihkan setiap semangat yang patah. Orang yang bersemangat akan selalu optimis dalam menghadapi setiap persoalan, untuk meraih keberhasilan. Selamat berjuang dan tetap semangat, Tuhan Yesus memberkati kita semuanya.

Amin.

Sumber : http://www.pelitahidup.com/2009/10/23/menjadi-orang-bersemangat-dan-optimis-menghadapi-masalah/

Selasa, 23 Maret 2010

1 Jam Berjaga Bersama Yesus

"Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?" Matius 26:40

Ketika kita mendengar ajakan atau perintah dari Tuhan untuk berjaga-jaga, maka ada perkara penting yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita. Hal tersebut adalah kita harus berdoa dan menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Walau pada kenyataannya kita terkadang bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ayat di atas sedang menggambarkan Tuhan Yesus di akhir pelayananNya, bahkan di akhir hidupNya di dalam dunia ini. Hal ini haruslah menjadi contoh buat kita semua, karena kita harus menjadi segambar dan serupa dengan Kristus Tuhan kita.

Keadaan para murid yang sedang tidur adalah keadaan kita sebagai orang percaya (yang juga mungkin sedang tertidur). Dan teguran kepada Petrus adalah teguran buat kita semua untuk berjaga bersama Dia.


Mari kita renungkan keadaan kita yang sedang berada di akhir zaman. Tuhan sedang menuntut kita untuk diam dan berada di "Taman Getsemani" kita masing-masing, yakni di dalam doa dan persekutuan dengan Allah secara pribadi. Tuhan Yesus meminta untuk cawan ini, namun biarlah kehendak Tuhan yang jadi. Berarti di "Taman Getsemani" kita juga akan lebih memilih Allah dan tunduk pada kehendak Tuhan daripada tunduk kepada kehendak kita sendiri.

Dari taman ini, Tuhan Yesus bisa memandang ke arah Yerusalem. Karena tempat ini berada di Bukit Zaitun, yakni di sebelah timur Kota Yerusalem. Dan Yesus pernah meratapi kota Yerusalem ketika di tengah kota itu berdiri bait suci megah yang pembangunannya dibantu oleh Romawi. Yesus meratapi bait suci itu karena dinubuatkan akan roboh dan hal tersebut terjadi di tahun 70 Masehi oleh serangan Titus.

Saya percaya ketika kita mau diam di "Taman Getsemani" kita masing-masing, maka kita pun akan bisa memandang dengan benar keadaan orang percaya (=Yerusalem), dan akan melihat bahwa gereja (=bait suci) pun akan diruntuhkan/disesatkan, karena Alkitab sudah menubuatkan itu semua menjelang akhir zaman ini (Lukas 21:8, II Tesalonika 2:3, Matius 24:8-13). Kita harus berdoa untuk keadaan ini seperti yang Tuhan Yesus lakukan.

Ketika kita terus berada di "Taman Getsemani" kita masing-masing, kita diingatkan bahwa nenek moyang kita pernah kalah oleh si iblis di taman Eden. Namun Tuhan kita menang di "Taman Getsemani" ini, bahkan ketaatanNya membuat rencana Allah untuk keselamatan umat manusia tergenapi. Biarlah kita didorong untuk taat dan menyenangkan hati Tuhan dengan melakukan semua kehendakNya.

Menjelang akhir zaman ini, Yesus meminta kita untuk berjaga bersama Dia di "Taman Getsemani" kita masing-masing dalam persekutuan yang indah. Melalui persekutuan ini, kita akan dikuatkan dan diteguhkan. Kita tidak berjaga-jaga sendiri, melainkan bersama Tuhan Yesus. Bila waktu itu Dia ingin ditemani murid-muridNya, sekarang Dia yang ingin menemani kita dalam menghadapi kehidupan yang semakin keras dan menakutkan ini.

Mari kita buat keputusan untuk bangun sepagi mungkin, berdoa bersama orang-orang percaya lainnya, bertemu di udara dalam roh dan kebenaran setiap hari. Saya percaya kita akan disegarkan dan dikuatkan menjelang kedatanganNya yang kedua.

Amin.

Sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Renungan&table=isi&id=1601&next=0

Minggu, 21 Maret 2010

Persembahan Yang Harum

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya” (Filipi 3:7-8).

Pada Yohanes 12:1-2 disaksikan Tuhan Yesus diundang dalam suatu perjamuan oleh keluarga Lazarus. Perjamuan tersebut dilatarbelakangi oleh sikap syukur karena Dia telah membangkitkan Lazarus dari kematiannya (Yohanes 11:43-44). Namun, sangat menarik, bahwa yang menyentuh dalam kisah di Yohanes 12 bukanlah kisah keramaian dan kekhususan dari peristiwa perjamuan tersebut. Tetapi, di tengah-tengah keramaian peristiwa perjamuan tersebut, dikisahkan bahwa Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni, membuka tutup botol minyak narwastu tersebut, dan dia meminyaki kaki Tuhan Yesus. Tindakan Maria tersebut tentunya sangat mencengangkan orang-orang yang hadir dalam perjamuan itu, sebab:

  1. Harga minyak tersebut sangat mahal. Orang-orang harus menabung satu tahun penuh dengan bekerja, barulah ia mampu membeli minyak narwastu.

  2. Minyak narwastu tersebut ditumpahkan di kaki Tuhan Yesus, sehingga minyak tersebut juga tertumpah ke berbagai tempat.

  3. Maria menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya. Bagaimana mungkin seorang wanita bersedia menyeka kaki seseorang dengan rambutnya? Bukankah rambut merupakan lambang kehormatan atau mahkota yang membanggakan bagi seorang wanita?

Tindakan Maria yang tampak sia-sia dan bodoh tersebut, justru oleh Tuhan Yesus dihargai. Matius 26:13 memuat ucapan Tuhan Yesus yang berkata, “Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (paralel dengan Markus 14:9).

Tuhan Yesus memuji tindakan Maria secara terbuka, karena Maria telah mengungkapkan kasih dan rasa hormat yang begitu dalam. Lukas 7:37-50 menyebutkan bahwa tindakan wanita tersebut karena dia menyesali dosa-dosanya di depan kaki Tuhan Yesus. Di Lukas 7:47, Tuhan Yesus juga berkata, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih”. Jadi baik Injil Lukas, Matius, Markus, maupun Yohanes sepakat Maria menuangkan minyak ke kaki Tuhan Yesus karena didasari oleh kasihnya yang begitu besar kepadaNya. Manakala seseorang digerakkan oleh kasih yang begitu besar, pastilah dia bersedia melakukan sesuatu yang begitu menakjubkan.


Kesaksian tentang Maria yang penuh kasih dan sangat menyentuh hati, mengingatkan kita juga kepada bangunan Taj Mahal di Agra, India. Bangunan Taj Mahal merupakan ekspresi atau ungkapan cinta seorang suami, Sultan Shah Jahan, yang begitu mengasihi istrinya, Mumtaz Mahal, yang telah meninggal pada tahun 1631. Taj Mahal mulai dibangun tahun 1632-1643. Namun seluruh bangunan di sekitar Taj Mahal baru diselesaikan tahun 1653. Jadi untuk membangun Taj Mahal seluruhnya membutuhkan waktu 21 tahun lamanya!

Maria dan Sultan Shah Jahan memiliki kesamaan untuk memberikan sesuatu yang agung kepada orang yang dikasihinya. Hanya bedanya, Maria mengungkapkan kasih kepada Tuhan Yesus sebagai Mesiasnya dengan minyak narwastu. Sedangkan Shah Jahan mengungkapkan cintanya yang mendalam kepada mendiang istrinya dengan mendirikan bangunan Taj Mahal yang begitu megah di dunia.

Wujud dari kasih yang agung senantiasa mengandung suatu ide yang unik, menyentuh hati, mengesankan dan senantiasa dikenang secara kekal. Wujud dari kasih senantiasa melampaui pola berpikir ekonomis. Maksudnya, tindakan kasih yang tulus tidak pernah mendasarkan kemampuan finansial sebagai tolok ukur yang menentukan. Namun, di balik tindakan yang terkesan “tidak hemat” tersebut terungkaplah makna spiritualitas, ungkapan kasih, ketulusan hati dan pengorbanan diri yang sangat dalam.

Sebaliknya, tokoh Yudas Iskariot dalam Yohanes 12 cenderung untuk melihat segala sesuatu dari sudut ekonomis dan manusiawi terhadap orang-orang miskin. Injil Yohanes memberi catatan, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kasih yang dipegangnya” (Yohanes 12:6). Di sini kita dapat melihat perbedaan paradigma dari tindakan Maria yang mengasihi Kristus dengan pengorbanan yang melampaui ukuran ekonomi dan paradigma Yudas yang cenderung berpikir serba ekonomis dan melihat segala sesuatu dari manfaatnya. Kedua paradigma tersebut sering bertemu di dalam kenyataan hidup sehari-hari apakah di dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, pelayanan di tengah jemaat dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Paradigma profit tersebut juga meresapi pola pelayanan gerejawi. Apabila pelayanan tersebut menghasilkan suatu manfaat secara ekonomi, misal dengan biaya sedikit namun menghasilkan keuntungan besar, pastilah kita akan mendukung program tersebut. Namun, ketika kita dimotivasi untuk belajar memberi yang terbaik kepada Tuhan, tidak semua orang percaya tergerak untuk ambil bagian secara tulus. Bahkan terdapat kecenderungan bagaimana agar kita sebisa mungkin hanya memberi sehemat mungkin, toh tidak ada orang yang tahu ketika kita menyerahkan persembahan di tengah-tengah suatu kebaktian.

Di suatu desa Perancis setiap tahun dilaksanakan suatu festival anggur. Untuk itu setiap orang diminta untuk membawa 1 liter air anggur dan air anggur tersebut akan dikumpulkan dalam suatu tempayan besar, lalu seluruh penduduk akan minum bersama-sama sebagai tanda sukacita. Tetapi, ketika walikota membuka tempayan itu, sungguh mengejutkan karena ternyata isinya hanyalah air. Hal ini terjadi karena setiap orang berpikir bahwa mereka tidak akan ketahuan kalau hanya membawa air, siapa tahu orang-orang lain akan membawa anggur. Tetapi ternyata yang membawa anggur tidak ada. Sebab mereka pada umumnya terlalu sayang menyerahkan air anggurnya.

Paradigma serba ekonomis sering merusak suasana, bahkan merusak sukacita dan hubungan antar umat manusia. Sebab paradigma serba ekonomis mendorong orang-orang yang terlibat untuk saling mencurigai, menyudutkan, dan mendiskreditkan orang lain. Dalam hal ini Yudas Iskariot secara tidak langsung telah mendiskreditkan tindakan Maria, ketika ia berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yohanes 12:5). Dengan ungkapan ini, sepertinya Yudas mau mengatakan bahwa betapa tololnya Maria membuang-buang minyak yang sangat mahal hanya dipakai untuk menyeka kaki Yesus.

Manakala kita bersedia meneladani Maria dengan menjadikan seluruh hidup kita bagaikan minyak narwastu yang tertumpah di kaki Tuhan Yesus, maka pastilah kehidupan dan pelayanan kita akan menghasilkan sesuatu yang harum dan senantiasa mempermuliakan nama Tuhan. Persembahan diri yang demikian tentunya menjadi cermin dari keharuman kasih, sehingga persembahan hidup kita menjadi suatu persembahan yang harum di hadapan Tuhan.

Amin.

Sumber : http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=42

Sabtu, 20 Maret 2010

Yang Terlupakan, Tuhan Kasihi

"Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah." Wahyu 21:10

Dalam Injil Yohanes 5:1-9, dikisahkan tentang penyembuhan di Kolam Betesda. Dikatakan Yesus berangkat ke Yerusalem dan melewati sebuah Kolam Betesda dengan lima serambinya, di mana di tiap serambi sekitar kolam itu terdapat sejumlah besar orang sakit; orang-orang timpang dan lumpuh yang menantikan keajaiban saat air dalam kolam itu terguncang. Sebab sewaktu-waktu malaikat Tuhan turun ke kolam itu dan menggoncangkan air itu. Siapa pun yang duluan masuk ke dalamnya akan menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.

Di sana juga terdapat seorang yang sudah 38 tahun lamanya sakit. Yesus menghampiri orang itu (Yesus tahu orang itu sakit cukup lama) dan bertanya: ”Maukah engkau sembuh?“ jawab orang itu: ”Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang dan sementara aku menuju kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.“ Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.“ Dan... sembuhlah orang itu.

Persoalan utama dari orang adalah bukan lamanya dia sakit, tetapi lamanya tidak ada orang yang mau membantu menurunkannya ke kolam itu (ayat 7). Bagian inilah yang menunjukkan bentuk kehidupan kita saat ini, kecenderungan orang menjadi sangat individualistik, memikirkan bagaimana diri sendiri menjadi sembuh dengan cara adu cepat, dan otomatis tidak memperhatikan yang lain.

Kehadiran Yesus, bagi orang yang sakit selama 38 tahun adalah penghiburan dan akhir dari masa penantian yang panjang. Namun, berita ini menunjukkan betapa kehadiran Yesus membuat suasana individualistik menjadi berkurang. Kita tak dapat membayangkan bagaimana sikap orang-orang sakit ketika menyaksikan perbuatan Yesus pada rekannya itu. Mungkin saja mereka berharap disembuhkan juga oleh-Nya, sehingga mereka tidak perlu lagi bersaing untuk mendapatkan kesembuhan. Tetapi, bagi Yesus yang paling tak berdaya mendapat kesempatan yang sama untuk dikasihi, untuk disembuhkan.

Ibu Teresa pernah berkata, ”Kita hidup di dunia di mana terang dan kegelapan ada“. Melalui kehidupannya, Ibu Teresa mengundang orang-orang untuk memilih terang. Ibu Teresa membuat kata-kata yang ditulis oleh Santo Agustinus empat abad setelah Kristus, menjadi mudah bagi kita, "Cintailah dan katakanlah melalui hidupmu," karena sampai akhir hidupnya beliau menyatakan cinta-Nya melalui kebersamaannya dengan orang-orang kusta yang sudah tidak memiliki harapan lagi, yang sudah di ambang kematian. Beliau mencoba untuk menenangkan kecemasan mereka.

Ibu Teresa, memberi semangat juga seperti Kristus bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk diperhatikan, dikasihi dan merasakan kuasa kebangkitan Kristus. Di musim panas tahun 1976, bersama dengan kaum muda dari berbagai negara, beliau mengajarkan doa bersama-sama, "O Tuhan, Bapa segala umat manusia, Engkau meminta kami semua untuk membawa kasih ketika kaum papa dihina, rujuk kembali taat kala umat manusia tercerai berai, kegembiraan saat Gereja terguncang. Engkau membuka jalan ini bagi kami sehingga kami boleh menjadi ragi persatuan bagi seluruh keluarga umat manusia."


Kita ingat, ketika bencana besar terjadi di negeri ini, Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, Gempa Bumi di Nias, Yogyakarta, Merapi, busung lapar di NTT, dll. Namun demikian, bagaimana nasib mereka saat ini? Di TV sudah tidak lagi sering, bahkan hampir tidak ada kabar tentang mereka, apakah ini berarti mereka sudah baik-baik saja? Satu-satunya cara mengetahui keadaan mereka adalah dengan cara mendatangi “kantong-kantong” dimana belas kasih pernah ditaburkan... Jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang terlupakan oleh kita.

Sebetulnya tidak juga harus melihat jauh orang-orang yang terlupakan dalam hidup ini, karena di sekitar kita masih banyak orang-orang yang perlu kita kasihi sebagaimana Yesus mengasihinya. Bukankah Ia sendiri berkata, "Apapun yang kamu lakukan bagi seseorang yang paling hina, itu kamu lakukan untuk-Ku." Seperti, bagaimana kita telah memperhatikan nasib pembantu rumah tangga, koster gereja, tukang sampah, tukang becak, anak-anak terlantar di jalanan, tuna wisma, orang-orang gila yang berkeliaran, orang-orang dalam penjara, orang-orang jompo, orang-orang muda yang menganggur, dll.

Dalam hal ini kita diajak untuk menemukan orang-orang yang tak berdaya, yang terlupakan untuk ditolong, diberdayakan dan disembuhkan. Kita diajak untuk menghayati sosok Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian yang telah menjadi Tuhan dan Juruselamat manusia. Sebagaimana hal ini dihayati oleh orang-orang seperti Ibu Teresa, menghambat pertumbuhan benih-benih individualistik dalam kehidupan bersama.

Sangatlah berani, berharga, dan ajaibnya ketika kita sebagai pengikut-pengikut Kristus mau berbagi harta, waktu, dan tenaga kita dengan orang-orang yang terlupakan atau miskin, kehilangan pekerjaan, dan harapan mereka, sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan. Dengan demikian, kita memberikan wajah yang lebih manusiawi kepada sesama kita dan memancarkan yang ilahi dalam kehidupan kita.

Amin.

Sumber : http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=55

Sabtu, 06 Februari 2010

Kunci Rahasia Untuk Meraih Kemenangan Dalam Setiap Masalah

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Amsal 16:32

Masalah merupakan hal yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Selama kita masih hidup kita tidak akan lepas dari masalah. Bahkan, ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kitapun, kita akan tetap menghadapi masalah demi masalah.

Tetapi ketika hidup di dalam Yesus, Dia akan memberi kita kekuatan untuk dapat menghadapi dan menyelesaikan masalah. Dia berjanji untuk senantiasa memberi kemenangan demi kemenangan dalam setiap masalah kita. Dengan demikian, kita tidak perlu kuatir menjalani kehidupan ini.

Namun, pada prakteknya tidak semudah yang kita bayangkan.
Kita perlu mengetahui apa yang menjadi kunci rahasia untuk meraih kemenangan dalam setiap masalah.


Apakah kunci rahasia untuk meraih kemenangan dalam setiap masalah?
  1. Sabar
    “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan” Ams 17:32a

    Masalah yang bertubi-tubi datang membuat kita ingin agar masalah dapat cepat terselesaikan. Kita selalu menginginkan jawaban yang instan dalam kehidupan kita. Sehingga pada akhirnya, jika tidak ada pilihan lain, kita mulai mencari jalan pintas. Kita mulai menghalalkan cara-cara yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
    Kita mulai berkompromi dengan kehidupan dosa. Iblis senantiasa mencari kesempatan melalui masalah yang kita hadapi untuk dapat menjatuhkan kita. Iblis selalu ingin menyeret kita untuk jatuh ke dalam dosa.

    Firman Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi orang yang sabar. Orang yang sabar bagaikan seorang pahlawan. Seorang pahlawan adalah seseorang yang berjasa bagi orang/pihak tertentu, seorang yang mempunyai kekuatan untuk meraih kemenangan, seorang yang punya kemampuan untuk mengalahkan musuh dan seorang yang mampu memimpin orang banyak untuk memenangkan pertempuran.
    Ketika kita menanti jawaban Tuhan dengan sabar, maka Dia yang adalah setia akan selalu menolong kita tepat pada waktunya. Dan pada akhirnya kita akan dapat menyelesaikan masalah demi masalah dengan kekuatan yang dari Tuhan dan meraih kemenganan bagi masalah kita.

  2. Kuasai Dirimu
    “Orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Ams 17:32

    Seringkali dalam menghadapi masalah, kita cenderung berada dalam posisi yang tertekan. Hal ini mengakibatkan emosi kita naik dan menjadi mudah marah. Orang-orang di sekeliling kita akan mudah sekali kena efeknya; entah itu keluarga, suami, istri, kakak, adik, teman, rekan kerja dan lainnya. Ada kecenderungan untuk mencari-cari kesalahan. Bahkan hal-hal masa lalu yang tidak perlu diungkitpun juga ikut terungkit kembali.
    Kemarahan sering muncul ketika kita berada dalam masalah. Apalagi jika masalah yang satu belum selesai, kemudian datang lagi masalah-masalah lainnya. Seakan kepala akan meledak rasanya.

    Kitab Amsal mengajarkan kita untuk menguasai diri dan menjadi lambat dalam amarah. Ketika kita mau belajar untuk mengendalikan amarah dan emosi kita, kita melebihi orang yang dapat menguasai sebuah kota dalam suatu peperangan. Kita dapat menguasai segala masalah berat apapun yang kita hadapi. Kita akan dapat menyelesaikan masalah dengan pikiran yang jauh lebih jernih. Sebagian besar keputusan yang diambil pada waktu emosi adalah keputusan yang akan berakibat buruk bahkan fatal. Oleh karena itu perlu sekali bagi kita untuk dapat mengendalikan emosi kita. Jangan sampai kita mengambil keputusan yang akan disesali di kemudian hari.
    Amarah tidak akan membawa kepada penyelesaian masalah, melainkan akan menjadikan masalah semakin rumit. Tetapi kepala yang dingin akan sangat membantu sekali dalam menghadapi masalah.


“Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” 1 Pet 4:7b.Marilah kita menguasai diri dalam keadaan berat apapun yang dialami, sehingga kita sanggup meraih kemenangan.

Firman Tuhan banyak sekali memberi rahasia untuk meraih kemenangan dalam berbagai masalah kehidupan. Di atas telah kita lihat beberapa di antaranya. Dengan menjadi sabar dan menguasai diri maka kita memiliki kunci rahasia untuk meraih kemenangan dalam setiap masalah.

Sumber : http://www.pelitahidup.com/2009/03/19/kunci-rahasia-untuk-meraih-kemenangan-dalam-setiap-masalah/

Senin, 01 Februari 2010

Berjalan Dalam Kebenaran

"Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu." Mazmur 119:9

Perkembangan jaman dan kemajuan teknologi pada saat ini mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap pertumbuhan anak muda. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak muda senantiasa mengikuti perkembangan mode dan tren terbaru, dan berusaha untuk bisa menjadi pusat perhatian dari lingkungannya. Anak-anak muda akan berusaha agar dapat diterima oleh lingkungan pergaulannya, sehingga apapun yang teman-temannya sedang lakukan akan mereka ikuti.

Pengaruh dari pergaulan sangat kuat sekali kepada anak muda. Kecenderungan emosi yang masih labil dan masih dalam kondisi untuk mencari jati diri akan membuat mereka mencoba-coba apa yang mereka lihat dan rasakan. Oleh karena itu, anak muda perlu ekstra hati-hati dalam pergaulannya, karena masa depan mereka akan dipengaruhi dari apa yang dilakukan pada masa muda.


Tuhan ingin agar anak-anak muda dapat tetap berjalan dalam kebenaran. Pergaulan memang tetap dibutuhkan, tetapi anak muda harus tetap berada dalam pergaulan yang sehat dan positif.

Bagaimana agar anak-anak muda dapat tetap berjalan dalam kebenaran?

  1. "Dengan menjaganya sesuai dengan Firman-Mu" Mazmur 119:9b
    Firman Tuhan adalah perisai dan filter yang paling ampuh bagi anak muda untuk dapat tetap berada dalam pergaulan yang positif. Ketika anak muda tidak hidup sesuai dengan Firman Tuhan, maka iblis akan berusaha mempengaruhi kehidupan anak muda. Segala cara akan dilakukan oleh si jahat agar anak muda dapat terjerumus ke dalam dosa. Pada awalnya, si iblis akan menawarkan kenikmatan. Tetapi, pada akhirnya hidup anak muda akan dihancurkan sehingga masa depan mereka menjadi berantakan.

    "Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka." Mazmur 115:11.

    Dengan hidup sesuai dengan Firman Tuhan, maka Tuhan akan menjadi perisai bagi anak muda. Dia akan memberi perlindungan terhadap segala tipu muslihat si iblis. Tidak ada cara lain yang dapat dilakukan untuk dapat menghindari akal bulus si iblis. Hanya dengan menjaganya sesuai dengan firman Tuhan, maka anak-anak muda dapat tetap aman dalam pergaulan.


  2. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."
    I Kor 15:33

    Dengan siapa anak muda bergaul, seperti itulah anak muda akan terbentuk. Jika bergaul dengan teman-teman yang pintar, aktif dalam kegiatan positif, takut akan Tuhan dan rajin beribadah, maka anak muda akan ikut menjadi seperti teman-temannya itu.
    Tetapi jika anak muda bergaul dengan teman-teman yang mempunyai kebiasaan buruk seperti merokok, bolos, pergaulan bebas, kehidupan malam, perkelahian, pemberontakan terhadap orang tua, pencurian, narkotika dan obatan-obatan; maka tinggal menunggu waktu sampai kebiasaan mereka akan menjadi sama dengan teman-temannya itu.
    Memilih teman merupakan hal yang sangat penting bagi anak muda. Bukan berarti anak muda harus sombong dan tidak perlu mengenal orang lain, anak muda tetap perlu bergaul secara luas. Maksud dari teman di sini adalah orang lain yang dapat dijadikan sebagai orang yang ditemui hampir setiap hari, orang yang menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati, orang yang dapat mengerti kesukaan, orang yang dapat 'nyambung' dalam pembicaraan, orang yang dapat diajak jalan-jalan ke tempat yang disukai dan lainnya. Oleh karena orang itu juga yang akan mempengaruhi kehidupan anak muda, maka penting sekali bagi anak muda untuk memilih dengan siapa ia dapat bergaul.


Sumber : http://www.pelitahidup.com/2009/03/12/berjalan-dalam-kebenaran/