Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dengan nama Ahok adalah politikus asal Belitung. Dia menjadi pasangan Jokowi dalam Pemilu Gubernur DKI Jakarta 2012. Pada pemilu tahun 2012, Jokowi dan Ahok terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Bupati Belitung Timur menggantikan Usman Saleh.
Ahok lahir di Belitung pada tanggal 29 Juni 1966. Dia adalah anak pertama dari pasangan Indra Tjahaja Purnama dan Buniarti Ningsih yang merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia. Bersama dengan ketiga adiknya, Ahok menghabiskan masa kecilnya di Desa Gantung, Belitung Timur, hingga tamat Sekolah Menengah Pertama. Setelah itu, Ahok hijrah ke Jakarta untuk meneruskan pendidikannya.
Di Jakarta, Ahok menimba Ilmu di Universitas Trisakti dengan mengambil Jurusan Teknik Geologi di Fakultas Teknik Mineral. Setelah lulus dan mendapatkan gelar Insinyur Geologi pada tahun 1989 Ahok kembali ke Belitung dan mendirikan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah.
Dua tahun kemudian, Ahok melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya. Setelah mendapatkan gelar Magister Manajemen, dia kemudian bernaung di bawah PT Simaxindo Primadaya dengan menjabat sebagai Staf Direksi bidang Analisis Biaya dan Keuangan Proyek.
Dengan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan pengalamannya bekerja, Ahok mendirikan PT Nurindra Ekapersada, yang merupakan awal perjalanan dari Gravel Pack Sand (GPS). Setelah berhenti bekerja untuk PT Simaxindo, Ahok mendirikan pabrik pengolahan pasir kuarsa pertama di Belitung, yang berlokasi di Dusun Burung Mandi. Perusahaan tersebut dia dirikan dengan mengadopsi dan mengadaptasi teknologi Amerika Serikat dan Jerman. Bersama dengan berkembangnya pabrik tersebut, kawasan industri dan pelabuhan samudra berkembang. Kawasan tersebut sekarang dikenal dengan nama Kawasan Industri Air Kelik (KIAK).
Kemudian, pada tahun 2004, Ahok berhasil meyakinkan seorang investor Korea untuk membangun Tin Smelter atau peleburan bijih timah di KIAK.
Pada tahun itu juga, Ahok mulai bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB) dan ditunjuk sebagai ketua DPC PIB Kabupaten Belitung. Pada Pemilu 2004, dia terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung hingga tahun 2009.
Satu tahun kemudian, setelah mengantongi 37% lebih suara rakyat, Ahok menjabat sebagai Bupati Belitung Timur. Dalam pemerintahannya, Ahok membebaskan biaya kesehatan kepada seluruh warga, tanpa kecuali. Namun, pada 22 Desember 2006, Ahok resmi mengundurkan diri dari pemerintahan dan menyerahkan jabatan tersebut kepada wakilnya, Khairul Effendi.
Pada tahun 2007, Ahok mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur Bangka Belitung. Pada saat itu, dia mendapatkan dukungan penuh dari Abdurrahman Wahid. Namun, dia kalah dengan Eko Maulana Ali. Pada tahun yang sama, Ahok mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi. program pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi Belitung Timur juga berhasil mengantarkan Ahok untuk meraih penghargaan tersebut.
Kemudian, pada tahun 2008, Ahok meluncurkan sebuah buku berjudul "Merubah Indonesia". Ahok adalah seorang ayah dari Nicholas, Natania, dan Daud Albeenner, dan seorang suami bagi seorang wanita asal Medan, Veronica.
Sebagai wakil gubernur DKI, Ahok juga sudah mempunyai rencana akan membenahi sistem transportasi dengan memperbanyak jumlah busway sampai seribu unit yang diperuntukkan khusus bagi orang cacat, anak-anak, dan perempuan. Bahkan monorel serta kereta gratis yang menghubungkan Blok M sampai Monas juga akan diadakan. Meski menjadi orang nomor dua di ibukota, dia tetap tampil sederhana. Ahok mengaku tidak pernah pusing memikirkan pakaian dan sepatu yang dipakainya hanya itu-itu saja setiap waktu.
Maju terus, Bung Ahok! Semoga Tuhan memberkati Anda dan negara Indonesia!
Sumber: http://profil.merdeka.com/indonesia/b/basuki-tjahaja-purnama/
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 September 2013
Kamis, 10 Maret 2011
John Calvin
John Calvin (10 Juli 1509 – 27 Mei 1564) adalah seorang teolog Kristen berkebangsaan Prancis yang terkemuka pada masa Reformasi Protestan. Namanya kini dikenal dalam sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme. Ia lahir dengan nama Jean Chauvin di Noyon, Picardie, Prancis.

Biografi
Masa kecil John Calvin sering dihubungkan dengan Charles de Hangest, salah seorang dari twelve Peers of France (dua belas bangsawan tertinggi di Prancis yang memerintah di Ngoyon). Calvin dikenal memiliki hubungan yang dekat dengan beberapa anggota keluarga Hangest. Karena kedekatannya dengan keluarga Hangest, Calvin otomatis memiliki sikap dan pembawaan layaknya seorang aristokrat. Di usianya yang ke-14, ayah Calvin yang berprofesi sebagai seorang pengacara, mengirimnya ke Universitas Paris untuk belajar humaniora dan hukum. Konon, Calvin berangkat ke Prancis bersama dengan tiga pemuda dari keluarga Hangest. Pada tahun 1532, ia telah menjadi Doktor Hukum di Orléans. Terbitan karya ilmiahnya yang pertama adalah sebuah komentar mengenai De Clementia (sebuah buku karya seorang filsuf Romawi yang bernama Seneca).
Pada tahun 1536, ia berupaya untuk menuju ke Basel. Namun, William Farel (seorang tokoh reformator pada masa itu) membujuk Calvin untuk menetap di Jenewa. Calvin menjadi pendeta di Strasbourg tahun 1538-1541, lalu kembali tinggal di Jenewa hingga akhir hayatnya.
Calvin berniat menikah untuk menunjukkan sikap positifnya terhadap pernikahan. Ia meminta teman-temannya untuk mencarikan seorang wanita yang sederhana, taat, tidak sombong, tidak boros, sabar, dan bisa merawat kesehatan Calvin. Pada tahun 1539, ia akhirnya menikah dengan seorang janda yang bernama Idelette de Bure. Idelette mempunyai seorang anak laki-laki dan perempuan dari almarhum suaminya. Namun, hanya anak perempuannya yang pindah bersama ke Jenewa.
Pada tahun 1542, pasangan Calvin dianugerahi seorang anak lelaki. Sangat disayangkan bahwa bayi tersebut meninggal dunia dua minggu kemudian. Idelette Calvin meninggal pada tahun 1549. Calvin menulis bahwa istrinya telah banyak menolong dalam pelayanan gerejanya, tidak pernah menghalangi, tidak pernah menyusahkan Calvin dengan urusan anak-anaknya, dan berjiwa besar.
Karya Tulis Calvin
Calvin menerbitkan beberapa revisi dari Institutio (sebuah karya yang menjadi dasar dalam teologi Kristen yang masih dibaca hingga saat ini). Revisi ini dibuat oleh Calvin dalam bahasa Latin pada tahun 1536 dan kemudian dalam bahasa Prancis pada tahun 1541. Ia juga banyak menulis tafsiran mengenai Alkitab. Untuk Perjanjian Lama, ia menerbitkan tafsiran tentang semua kitab kecuali kitab-kitab sejarah setelah Kitab Yosua (meskipun ia menerbitkan khotbah-khotbahnya berdasarkan Kitab I Samuel). Untuk Perjanjian Baru, ia melewatkan kitab Wahyu.
Sebagian orang berpendapat bahwa Calvin mempertanyakan kanonisitas kitab Wahyu. Walau demikian, belakangan ia mengutip kitab Wahyu dalam karya tulisnya yang lain dan mengakui otoritasnya. Tafsiran-tafsiran ini pun ternyata tetap berharga bagi para peneliti Alkitab dan masih terus diterbitkan setelah lebih dari 400 tahun.
Dalam jilid ke-8 dari Sejarah Gereja Kristen karya Philip Schaff, Calvin mengutip seorang teolog Belanda yang bernama Jacobus Arminius. Arminianisme merupakan sebuah gerakan anti-Calvinisme yang dipelopori oleh Arminius untuk menentang karya-karya tulis Calvin. Berikut adalah kutipan Calvin yang ditentang oleh Arminius.
"Selain mempelajari Alkitab yang sangat saya anjurkan, saya mengimbau murid-murid saya untuk memanfaatkan tafsiran-tafsiran Calvin, yang saya puji jauh melebihi Helmich (seorang tokoh gereja Belanda, 1551-1608). Karena saya yakin bahwa ia sungguh tidak tertandingi dalam penafsiran Kitab Suci dan bahwa tafsiran-tafsirannya harus jauh lebih dihargai daripada semua yang telah diwariskan kepada kita oleh khazanah para Bapak Gereja, sehingga saya mengakui bahwa ia memiliki jauh dari kebanyakan orang lain, atau lebih tepatnya, jauh melampaui semua orang, apa yang dapat disebut sebagai semangat nubuat yang menonjol. Institutio-nya harus dipelajari setelah Katekismus Heidelberg, karena mengandung penjelasan yang lebih lengkap. Namun demikian, seperti karya tulis orang secara umum, karya tulisnya juga menimbulkan prasangka."
Penyebaran Calvinisme
Sebagaimana praktik Calvin di Jenewa, terbitan-terbitannya menyebarkan gagasan-gagasan tentang bagaimana Gereja Reformasi yang benar ke berbagai bagian di Eropa. Calvinisme menjadi sistem teologi dari mayoritas Gereja Kristen di Skotlandia, Belanda, dan bagian-bagian tertentu dari Jerman dan berpengaruh di Prancis, Hongaria, dan Polandia.
Kebanyakan kolonis di daerah Atlantik Tengah dan New England di Amerika adalah Calvinis, termasuk kaum Puritan dan para kolonis di New Amsterdam (New York). Para kolonis Calvinis Belanda juga merupakan kolonis Eropa pertama yang berhasil di Afrika Selatan pada awal abad ke-17 dan disebut sebagai orang Boer atau Afrikaner.
Sebagian besar wilayah Sierra Leone dihuni oleh para kolonis Calvinis dari Nova Scotia, yang pada umumnya adalah kaum loyalis kulit hitam, yaitu orang-orang kulit hitam yang berperang untuk Britania Raya pada masa Perang Kemerdekaan Amerika.
Sebagian dari gereja-gereja Calvinis yang paling besar dimulai oleh para misionaris abad ke-19 dan abad ke-20; khususnya di Indonesia, Korea, dan Nigeria.
Kapitalisme
Sebagian orang menganggap Calvinisme merupakan revolusi permusuhan terhadap profit (keuntungan). Calvin mengungkapkan pikirannya tentang riba dalam sebuah suratnya kepada seorang teman yang bernama Oecolampadius. Dalam surat ini, ia mengecam penggunaan ayat-ayat Alkitab tertentu oleh orang-orang yang menentang pemberlakuan bunga uang. Calvin menafsirkan kembali ayat-ayat tersebut dan mengatakan bahwa ayat-ayat lain sudah tidak relevan lagi, mengingat kondisi-kondisi yang telah berubah.
Calvin juga menolak argumen (yang didasarkan pada tulisan-tulisan Aristoteles) bahwa mengambil bunga uang adalah keliru, karena uang sendiri itu mandul. Ia mengatakan bahwa dinding dan atap rumah pun mandul, tetapi orang diizinkan meminta bayaran dari seseorang yang menggunakannya. Dalam cara yang sama, uang pun dapat dimanfaatkan.
Namun demikian, Calvin juga berkata bahwa uang harus dipinjamkan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya tanpa harus mengharapkan bunga.
Jenewa yang Diperbarui
Pada saat perang Ottoman, Calvin sedang melakukan perjalanan ke Strasbourg. Ketika singgah di Jenewa, William Farel meminta Calvin agar menolongnya mengenai urusan gereja. Tentang permohonan Farel ini, Calvin menulis, "Saya merasa seolah-olah Allah sendiri dari sorga telah menyuruh saya untuk menghentikan perjalanan saya." Bersama-sama Farel, Calvin berusaha melembagakan sejumlah perubahan dalam pemerintahan kota dan kehidupan keagamaan. Mereka menyusun sebuah buku katekismus dan pengakuan iman; mereka mewajibkan seluruh warga kota itu untuk mengakuinya. Dewan kota menolak pengakuan iman Calvin dan Farel. Pada Januari 1538, mereka mencabut kekuasaan kedua orang tersebut untuk melakukan ekskomunikasi, yaitu sebuah kekuasaan yang mereka anggap penting untuk pekerjaan mereka. Calvin dan Farel menjawabnya dengan memberlakukan larangan umum kepada semua penduduk Jenewa untuk mengikuti Perjamuan Kudus pada kebaktian Paskah. Karena itu, dewan kota pun mengusir mereka dari kota tersebut. Farel kemudian pergi ke Neuchâtel dan Calvin ke Strasbourg.
Selama tiga tahun, Calvin melayani sebagai seorang dosen dan pendeta sebuah gereja dari orang-orang Huguenot, Prancis di Strasbourg. Pada masa pembuangannya itulah, Calvin menikahi Idelette de Bure. Ajaran Calvin juga dipengaruhi oleh Martin Bucer, yang menganjurkan sebuah sistem politik dan struktur gerejawi yang mengikuti pola Perjanjian Baru. Ketika Jacopo Sadoleto, seorang kardinal Katolik, menulis sebuah surat terbuka kepada dewan kota yang isinya mengajak Jenewa untuk kembali ke Gereja induk (Gereja Katolik Roma), jawaban Calvin atas nama kaum Protestan Jenewa yang sedang mengalami berbagai serangan, malah menolong Calvin mendapatkan kembali respek yang telah hilang sebelumnya. Setelah sejumlah pendukung Calvin memenangkan jabatan di Dewan Kota Jenewa, ia diundang kembali ke kota itu pada tahun 1541.
Sekembalinya ke sana, berbekal wewenang untuk menyusun bentuk kelembagaan gereja, Calvin memulai program pembaharuannya. Ia menetapkan empat kategori dalam pelayanan gereja dengan peranan dan kekuasaan yang berbeda-beda. Keempat kategori tersebut adalah:
Kaum Protestan pada abad ke-16 seringkali dikenai tuduhan oleh pihak Katolik bahwa mereka menciptakan doktrin-doktrin baru dan bahwa inovasi seperti itu mau tidak mau menyebabkan kemerosotan akhlak dan, pada akhirnya, kehancuran masyarakat itu sendiri. Calvin mengklaim bahwa ia ingin menegakkan legitimasi moral dari gereja yang diperbarui sesuai dengan programnya, sekaligus meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, dan masyarakat. Dokumentasi yang baru-baru ini ditemukan memperlihatkan perhatian terhadap kehidupan rumah tangga yang harmonis. Untuk pertama kalinya, kaum laki-laki yang selingkuh akan dihukum sama kerasnya dengan kaum wanita.
Konsistori sama sekali tidak memperlihatkan toleransi terhadap pemukulan atau penyiksaan terhadap pasangan (khususnya istri). Peranan Konsistori ini kompleks. Badan ini membantu mentransformasikan Jenewa menjadi kota yang digambarkan oleh reformator Skotlandia, John Knox, sebagai "sekolah Kristus yang paling sempurna yang pernah ada di muka bumi sejak zaman para Rasul."
Namun demikian, tampaknya Calvin tidak bermaksud menggunakan Konsistori untuk mencapai tujuan-tujuan politik atau mempertahankan kontrolnya terhadap kehidupan sipil dan keagamaan di Jenewa. Calvin bergerak dengan cepat untuk menjawab segala pertanyaan yang diajukan mengenai tindakan-tindakannya. Kejadian yang paling menonjol adalah kasus Pierre Ameaux dan Jacques Gruet. Calvin enggan menahbiskan orang-orang Jenewa, karena ia lebih suka memilih pendeta dari arus para imigran Prancis yang masuk ke kota itu dengan maksud semata-mata mendukung program pembaruan Calvin. Ketika Pierre Ameaux mengeluh tentang praktik ini, Calvin menganggapnya sebagai serangan terhadap kewibawaannya sebagai seorang pendeta dan ia membujuk dewan kota untuk memaksa Ameaux untuk berjalan mengelilingi kota dan memohon belas kasihan di lapangan terbuka. Jacques Gruet berpihak dengan sejumlah keluarga Jenewa lama, yang menentang kekuasaan dan metode-metode Konsistori. Ia dipersalahkan dalam suatu insiden di mana seseorang menempatkan sebuah plakat di salah satu gereja di kota itu, yang berbunyi, "Bila orang telah terlalu banyak menderita, balas dendam pun akan dilakukan." Calvin menyetujui supaya Gruet disiksa sampai mati, dengan tuduhan bahwa ia telah bersekongkol dengan sebuah komplotan Prancis untuk menyerang kota itu.
Pada tahun 1553, Michael Servetus (Miguel de Servetus) dijatuhi hukuman mati pada sebuah tiang atas tuduhan menyebarkan ajaran sesat. Servetus dipandang banyak Unitarian sebagai salah seorang pendiri agama mereka. Calvin sendiri meminta dewan, namun gagal, agar hukuman mati itu diubah dari hukuman bakar dengan hukuman mati oleh pedang. Calvin tetap berkuasa hingga ia meninggal. Hukuman mati Servetus merupakan sebuah argumen utama yang digunakan untuk menyerang Calvin sejak masa hidupnya hingga sekarang; meskipun sejumlah sejarahwan percaya bahwa Calvin hanya sial dan tidak bersalah karena intoleransi di antara para Reformator. Ia dan Servetus adalah orang-orang yang paling banyak diserang pada abad ke-16. Nama baik Calvin telah dijelek-jelekkan, sementara Servetus telah terlalu jauh dibersihkan dari kesalahan jauh melampaui titik tolak abad ke-16, bukan abad ke-19.
Pada tahun 1559, Calvin mendirikan sebuah sekolah untuk mendidik anak-anak serta rumah sakit untuk merawat orang miskin. Kesehatan Calvin memburuk ketika ia menderita sakit kepala, pendarahan paru-paru, asam urat, dan batu ginjal. Kadang-kadang, ia harus digotong ke mimbar. Calvin juga mengalami hal-hal yang mengalihkan perhatiannya. Menurut Beza, Calvin hanya makan satu kali sehari selama satu dasawarsa. Namun, atas nasihat dokternya, ia makan telur dan minum segelas anggur pada tengah hari, meskipun ia seorang yang keras menentang konsumsi alkohol yang berlebihan. Menjelang akhir hayatnya, Calvin berkata pada teman-temannya yang kuatir tentang kadar kerjanya sehari-hari, "Apa? Apakah kalian ingin aku menganggur apabila Tuhan menemukan aku saat Ia datang kembali kedua kalinya?"
Calvin meninggal di Jenewa pada 27 Mei 1564. Ia dikuburkan di Cimetière des Rois dengan sebuah batu nisan yang ditandai dengan inisialnya, "J.C", untuk menghormati permintaannya supaya ia dikuburkan di sebuah tempat yang tidak dikenal, tanpa saksi atau pun upacara.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Yohanes_Calvin.

Biografi
Masa kecil John Calvin sering dihubungkan dengan Charles de Hangest, salah seorang dari twelve Peers of France (dua belas bangsawan tertinggi di Prancis yang memerintah di Ngoyon). Calvin dikenal memiliki hubungan yang dekat dengan beberapa anggota keluarga Hangest. Karena kedekatannya dengan keluarga Hangest, Calvin otomatis memiliki sikap dan pembawaan layaknya seorang aristokrat. Di usianya yang ke-14, ayah Calvin yang berprofesi sebagai seorang pengacara, mengirimnya ke Universitas Paris untuk belajar humaniora dan hukum. Konon, Calvin berangkat ke Prancis bersama dengan tiga pemuda dari keluarga Hangest. Pada tahun 1532, ia telah menjadi Doktor Hukum di Orléans. Terbitan karya ilmiahnya yang pertama adalah sebuah komentar mengenai De Clementia (sebuah buku karya seorang filsuf Romawi yang bernama Seneca).
Pada tahun 1536, ia berupaya untuk menuju ke Basel. Namun, William Farel (seorang tokoh reformator pada masa itu) membujuk Calvin untuk menetap di Jenewa. Calvin menjadi pendeta di Strasbourg tahun 1538-1541, lalu kembali tinggal di Jenewa hingga akhir hayatnya.
Calvin berniat menikah untuk menunjukkan sikap positifnya terhadap pernikahan. Ia meminta teman-temannya untuk mencarikan seorang wanita yang sederhana, taat, tidak sombong, tidak boros, sabar, dan bisa merawat kesehatan Calvin. Pada tahun 1539, ia akhirnya menikah dengan seorang janda yang bernama Idelette de Bure. Idelette mempunyai seorang anak laki-laki dan perempuan dari almarhum suaminya. Namun, hanya anak perempuannya yang pindah bersama ke Jenewa.
Pada tahun 1542, pasangan Calvin dianugerahi seorang anak lelaki. Sangat disayangkan bahwa bayi tersebut meninggal dunia dua minggu kemudian. Idelette Calvin meninggal pada tahun 1549. Calvin menulis bahwa istrinya telah banyak menolong dalam pelayanan gerejanya, tidak pernah menghalangi, tidak pernah menyusahkan Calvin dengan urusan anak-anaknya, dan berjiwa besar.
Karya Tulis Calvin
Calvin menerbitkan beberapa revisi dari Institutio (sebuah karya yang menjadi dasar dalam teologi Kristen yang masih dibaca hingga saat ini). Revisi ini dibuat oleh Calvin dalam bahasa Latin pada tahun 1536 dan kemudian dalam bahasa Prancis pada tahun 1541. Ia juga banyak menulis tafsiran mengenai Alkitab. Untuk Perjanjian Lama, ia menerbitkan tafsiran tentang semua kitab kecuali kitab-kitab sejarah setelah Kitab Yosua (meskipun ia menerbitkan khotbah-khotbahnya berdasarkan Kitab I Samuel). Untuk Perjanjian Baru, ia melewatkan kitab Wahyu.
Sebagian orang berpendapat bahwa Calvin mempertanyakan kanonisitas kitab Wahyu. Walau demikian, belakangan ia mengutip kitab Wahyu dalam karya tulisnya yang lain dan mengakui otoritasnya. Tafsiran-tafsiran ini pun ternyata tetap berharga bagi para peneliti Alkitab dan masih terus diterbitkan setelah lebih dari 400 tahun.
Dalam jilid ke-8 dari Sejarah Gereja Kristen karya Philip Schaff, Calvin mengutip seorang teolog Belanda yang bernama Jacobus Arminius. Arminianisme merupakan sebuah gerakan anti-Calvinisme yang dipelopori oleh Arminius untuk menentang karya-karya tulis Calvin. Berikut adalah kutipan Calvin yang ditentang oleh Arminius.
"Selain mempelajari Alkitab yang sangat saya anjurkan, saya mengimbau murid-murid saya untuk memanfaatkan tafsiran-tafsiran Calvin, yang saya puji jauh melebihi Helmich (seorang tokoh gereja Belanda, 1551-1608). Karena saya yakin bahwa ia sungguh tidak tertandingi dalam penafsiran Kitab Suci dan bahwa tafsiran-tafsirannya harus jauh lebih dihargai daripada semua yang telah diwariskan kepada kita oleh khazanah para Bapak Gereja, sehingga saya mengakui bahwa ia memiliki jauh dari kebanyakan orang lain, atau lebih tepatnya, jauh melampaui semua orang, apa yang dapat disebut sebagai semangat nubuat yang menonjol. Institutio-nya harus dipelajari setelah Katekismus Heidelberg, karena mengandung penjelasan yang lebih lengkap. Namun demikian, seperti karya tulis orang secara umum, karya tulisnya juga menimbulkan prasangka."
Penyebaran Calvinisme
Sebagaimana praktik Calvin di Jenewa, terbitan-terbitannya menyebarkan gagasan-gagasan tentang bagaimana Gereja Reformasi yang benar ke berbagai bagian di Eropa. Calvinisme menjadi sistem teologi dari mayoritas Gereja Kristen di Skotlandia, Belanda, dan bagian-bagian tertentu dari Jerman dan berpengaruh di Prancis, Hongaria, dan Polandia.
Kebanyakan kolonis di daerah Atlantik Tengah dan New England di Amerika adalah Calvinis, termasuk kaum Puritan dan para kolonis di New Amsterdam (New York). Para kolonis Calvinis Belanda juga merupakan kolonis Eropa pertama yang berhasil di Afrika Selatan pada awal abad ke-17 dan disebut sebagai orang Boer atau Afrikaner.
Sebagian besar wilayah Sierra Leone dihuni oleh para kolonis Calvinis dari Nova Scotia, yang pada umumnya adalah kaum loyalis kulit hitam, yaitu orang-orang kulit hitam yang berperang untuk Britania Raya pada masa Perang Kemerdekaan Amerika.
Sebagian dari gereja-gereja Calvinis yang paling besar dimulai oleh para misionaris abad ke-19 dan abad ke-20; khususnya di Indonesia, Korea, dan Nigeria.
Kapitalisme
Sebagian orang menganggap Calvinisme merupakan revolusi permusuhan terhadap profit (keuntungan). Calvin mengungkapkan pikirannya tentang riba dalam sebuah suratnya kepada seorang teman yang bernama Oecolampadius. Dalam surat ini, ia mengecam penggunaan ayat-ayat Alkitab tertentu oleh orang-orang yang menentang pemberlakuan bunga uang. Calvin menafsirkan kembali ayat-ayat tersebut dan mengatakan bahwa ayat-ayat lain sudah tidak relevan lagi, mengingat kondisi-kondisi yang telah berubah.
Calvin juga menolak argumen (yang didasarkan pada tulisan-tulisan Aristoteles) bahwa mengambil bunga uang adalah keliru, karena uang sendiri itu mandul. Ia mengatakan bahwa dinding dan atap rumah pun mandul, tetapi orang diizinkan meminta bayaran dari seseorang yang menggunakannya. Dalam cara yang sama, uang pun dapat dimanfaatkan.
Namun demikian, Calvin juga berkata bahwa uang harus dipinjamkan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya tanpa harus mengharapkan bunga.
Jenewa yang Diperbarui
Pada saat perang Ottoman, Calvin sedang melakukan perjalanan ke Strasbourg. Ketika singgah di Jenewa, William Farel meminta Calvin agar menolongnya mengenai urusan gereja. Tentang permohonan Farel ini, Calvin menulis, "Saya merasa seolah-olah Allah sendiri dari sorga telah menyuruh saya untuk menghentikan perjalanan saya." Bersama-sama Farel, Calvin berusaha melembagakan sejumlah perubahan dalam pemerintahan kota dan kehidupan keagamaan. Mereka menyusun sebuah buku katekismus dan pengakuan iman; mereka mewajibkan seluruh warga kota itu untuk mengakuinya. Dewan kota menolak pengakuan iman Calvin dan Farel. Pada Januari 1538, mereka mencabut kekuasaan kedua orang tersebut untuk melakukan ekskomunikasi, yaitu sebuah kekuasaan yang mereka anggap penting untuk pekerjaan mereka. Calvin dan Farel menjawabnya dengan memberlakukan larangan umum kepada semua penduduk Jenewa untuk mengikuti Perjamuan Kudus pada kebaktian Paskah. Karena itu, dewan kota pun mengusir mereka dari kota tersebut. Farel kemudian pergi ke Neuchâtel dan Calvin ke Strasbourg.
Selama tiga tahun, Calvin melayani sebagai seorang dosen dan pendeta sebuah gereja dari orang-orang Huguenot, Prancis di Strasbourg. Pada masa pembuangannya itulah, Calvin menikahi Idelette de Bure. Ajaran Calvin juga dipengaruhi oleh Martin Bucer, yang menganjurkan sebuah sistem politik dan struktur gerejawi yang mengikuti pola Perjanjian Baru. Ketika Jacopo Sadoleto, seorang kardinal Katolik, menulis sebuah surat terbuka kepada dewan kota yang isinya mengajak Jenewa untuk kembali ke Gereja induk (Gereja Katolik Roma), jawaban Calvin atas nama kaum Protestan Jenewa yang sedang mengalami berbagai serangan, malah menolong Calvin mendapatkan kembali respek yang telah hilang sebelumnya. Setelah sejumlah pendukung Calvin memenangkan jabatan di Dewan Kota Jenewa, ia diundang kembali ke kota itu pada tahun 1541.
Sekembalinya ke sana, berbekal wewenang untuk menyusun bentuk kelembagaan gereja, Calvin memulai program pembaharuannya. Ia menetapkan empat kategori dalam pelayanan gereja dengan peranan dan kekuasaan yang berbeda-beda. Keempat kategori tersebut adalah:
- Doktor memegang jabatan dalam ilmu teologi dan pengajaran untuk membangun umat dan melatih orang-orang dalam jabatan-jabatan lain di gereja.
- Pendeta yang bertugas berkhotbah, melayankan sakramen, dan menjalankan disiplin gereja, mengajar, dan memperingatkan umat.
- Diaken mengawasi pekerjaan amal, termasuk pelayanan di rumah sakit dan program-program untuk melawan kemiskinan.
- Penatua, yaitu 12 orang awam yang tugasnya adalah melayani sebagai suatu polisi moral. Mereka mengeluarkan surat-surat peringatan serta, bila perlu, menyerahkan para pelanggar ke Konsistori.
Kaum Protestan pada abad ke-16 seringkali dikenai tuduhan oleh pihak Katolik bahwa mereka menciptakan doktrin-doktrin baru dan bahwa inovasi seperti itu mau tidak mau menyebabkan kemerosotan akhlak dan, pada akhirnya, kehancuran masyarakat itu sendiri. Calvin mengklaim bahwa ia ingin menegakkan legitimasi moral dari gereja yang diperbarui sesuai dengan programnya, sekaligus meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, dan masyarakat. Dokumentasi yang baru-baru ini ditemukan memperlihatkan perhatian terhadap kehidupan rumah tangga yang harmonis. Untuk pertama kalinya, kaum laki-laki yang selingkuh akan dihukum sama kerasnya dengan kaum wanita.
Konsistori sama sekali tidak memperlihatkan toleransi terhadap pemukulan atau penyiksaan terhadap pasangan (khususnya istri). Peranan Konsistori ini kompleks. Badan ini membantu mentransformasikan Jenewa menjadi kota yang digambarkan oleh reformator Skotlandia, John Knox, sebagai "sekolah Kristus yang paling sempurna yang pernah ada di muka bumi sejak zaman para Rasul."
Namun demikian, tampaknya Calvin tidak bermaksud menggunakan Konsistori untuk mencapai tujuan-tujuan politik atau mempertahankan kontrolnya terhadap kehidupan sipil dan keagamaan di Jenewa. Calvin bergerak dengan cepat untuk menjawab segala pertanyaan yang diajukan mengenai tindakan-tindakannya. Kejadian yang paling menonjol adalah kasus Pierre Ameaux dan Jacques Gruet. Calvin enggan menahbiskan orang-orang Jenewa, karena ia lebih suka memilih pendeta dari arus para imigran Prancis yang masuk ke kota itu dengan maksud semata-mata mendukung program pembaruan Calvin. Ketika Pierre Ameaux mengeluh tentang praktik ini, Calvin menganggapnya sebagai serangan terhadap kewibawaannya sebagai seorang pendeta dan ia membujuk dewan kota untuk memaksa Ameaux untuk berjalan mengelilingi kota dan memohon belas kasihan di lapangan terbuka. Jacques Gruet berpihak dengan sejumlah keluarga Jenewa lama, yang menentang kekuasaan dan metode-metode Konsistori. Ia dipersalahkan dalam suatu insiden di mana seseorang menempatkan sebuah plakat di salah satu gereja di kota itu, yang berbunyi, "Bila orang telah terlalu banyak menderita, balas dendam pun akan dilakukan." Calvin menyetujui supaya Gruet disiksa sampai mati, dengan tuduhan bahwa ia telah bersekongkol dengan sebuah komplotan Prancis untuk menyerang kota itu.
Pada tahun 1553, Michael Servetus (Miguel de Servetus) dijatuhi hukuman mati pada sebuah tiang atas tuduhan menyebarkan ajaran sesat. Servetus dipandang banyak Unitarian sebagai salah seorang pendiri agama mereka. Calvin sendiri meminta dewan, namun gagal, agar hukuman mati itu diubah dari hukuman bakar dengan hukuman mati oleh pedang. Calvin tetap berkuasa hingga ia meninggal. Hukuman mati Servetus merupakan sebuah argumen utama yang digunakan untuk menyerang Calvin sejak masa hidupnya hingga sekarang; meskipun sejumlah sejarahwan percaya bahwa Calvin hanya sial dan tidak bersalah karena intoleransi di antara para Reformator. Ia dan Servetus adalah orang-orang yang paling banyak diserang pada abad ke-16. Nama baik Calvin telah dijelek-jelekkan, sementara Servetus telah terlalu jauh dibersihkan dari kesalahan jauh melampaui titik tolak abad ke-16, bukan abad ke-19.
Pada tahun 1559, Calvin mendirikan sebuah sekolah untuk mendidik anak-anak serta rumah sakit untuk merawat orang miskin. Kesehatan Calvin memburuk ketika ia menderita sakit kepala, pendarahan paru-paru, asam urat, dan batu ginjal. Kadang-kadang, ia harus digotong ke mimbar. Calvin juga mengalami hal-hal yang mengalihkan perhatiannya. Menurut Beza, Calvin hanya makan satu kali sehari selama satu dasawarsa. Namun, atas nasihat dokternya, ia makan telur dan minum segelas anggur pada tengah hari, meskipun ia seorang yang keras menentang konsumsi alkohol yang berlebihan. Menjelang akhir hayatnya, Calvin berkata pada teman-temannya yang kuatir tentang kadar kerjanya sehari-hari, "Apa? Apakah kalian ingin aku menganggur apabila Tuhan menemukan aku saat Ia datang kembali kedua kalinya?"
Calvin meninggal di Jenewa pada 27 Mei 1564. Ia dikuburkan di Cimetière des Rois dengan sebuah batu nisan yang ditandai dengan inisialnya, "J.C", untuk menghormati permintaannya supaya ia dikuburkan di sebuah tempat yang tidak dikenal, tanpa saksi atau pun upacara.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Yohanes_Calvin.
Sabtu, 12 Februari 2011
Bunda Teresa
"By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the heart of Jesus."

Itulah yang dikatakan oleh salah seorang tokoh kemanusiaan yang dipenuhi oleh cinta kasih. Bunda Teresa merupakan seorang wanita yang memberikan hatinya untuk melayani masyarakat miskin di India.
Dilahirkan di Skopje, Albania, 26 Agustus 1910, Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Ia memiliki dua saudara perempuan dan seorang saudara lelaki. Ketika dibaptis, ia diberi nama Agnes Gonxha. Ia menerima pelayanan sakramen pertamanya ketika berusia lima setengah tahun dan diteguhkan pada bulan November 1916.
Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat mempengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha.
Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokal yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Tampaknya hal inilah yang kemudian berperan dalam dirinya sehingga pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.
Pada tanggal 28 November 1928, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal karena pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.
Suster Teresa pun dikirim ke India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Setelah mengikrarkan komitmennya kepada Tuhan, ia pun mulai mengajar pada St. Mary's High School di Kalkuta. Di sana ia mengajarkan geografi dan katekisasi. Dan pada tahun 1944, ia menjadi kepala sekolah St. Mary.
Akan tetapi, kesehatannya memburuk. Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi mengajar. Untuk memulihkan kesehatannya, ia pun dikirim ke Darjeeling. Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, tanggal 10 September 1946, disebut sebagai "Hari Penuh Inspirasi" oleh Bunda Teresa.
Selama berbulan-bulan, ia mendapatkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya. Pada tahun 1948, pihak Vatikan mengizinkan Suster Teresa untuk meninggalkan ordonya dan memulai pelayanannya di bawah Keuskupan Kalkuta. Dan pada 17 Agustus 1948, untuk pertama kalinya ia memakai pakaian putih yang dilengkapi dengan kain sari bergaris biru.
Ia memulai pelayanannya dengan membuka sebuah sekolah pada 21 Desember 1948 di lingkungan yang kumuh. Karena tidak memiliki dana, ia membuka sekolah terbuka di sebuah taman. Di sana ia mengajarkan pentingnya pengenalan akan hidup yang sehat, di samping mengajarkan membaca dan menulis pada anak-anak yang miskin. Selain itu, dengan berbekal pengetahuan medis, ia juga membawa anak-anak yang sakit ke rumahnya dan merawat mereka.

Tuhan memang tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjuang sendirian. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Teresa saat perjuangannya mulai mendapat perhatian dari berbagai individu dan organisasi gereja. Pada 19 Maret 1949, salah seorang muridnya di St. Mary bergabung dengannya. Terinspirasi oleh gurunya itu, ia membaktikan dirinya untuk pelayanan kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan.
Segera saja mereka menemukan begitu banyak pria, wanita, bahkan anak-anak yang sekarat. Mereka terlantar di jalanan setelah ditolak oleh rumah sakit setempat. Tergerak oleh belas kasihan, Bunda Teresa dan rekan barunya itu pun menyewa sebuah ruangan untuk merawat mereka yang sekarat. Pada tanggal 7 Oktober 1950, Missionary of Charity didirikan di Kalkuta. Mereka yang tergabung di dalamnya pun semakin teguh untuk melayani dengan sepenuhnya memberi diri mereka untuk melayani kaum miskin. Mereka tidak pernah menerima pemberian materi apa pun sebagai balasan atas pelayanan yang mereka lakukan.
Pada awal 1960-an, Bunda Teresa mulai mengirimkan suster-susternya ke berbagai daerah lain di India. Selain itu, pelayanan dari Missionary of Charity mulai melebarkan sayapnya di Venezuela (1965), yang kemudian diikuti oleh pembukaan rumah-rumah di Ceylon, Tanzania, Roma, dan Australia yang ditujukan untuk merawat kaum miskin. Setelah Missionary of Charity, sejumlah yayasan pun didirikan untuk memperluas pelayanan Bunda Teresa. Yang pertama ialah Association of Coworkers sebagai afiliasi dari Missionary of Charity. Asosiasi ini sendiri di setujui oleh Paus Paulus VI pada 26 Maret 1969. Meskipun merupakan afiliasi Missionary of Charity, asosiasi ini memiliki anggaran dasar tersendiri.
Selama tahun-tahun berikutnya, dari semula melayani hanya dua belas, Missionary of Charity berkembang hingga dapat melayani ribuan orang. Bahkan 450 pusat pelayanan tersebar di seluruh dunia untuk melayani orang-orang miskin dan terlantar. Ia membangun banyak rumah bagi mereka yang menderita, sekarat, dan ditolak oleh masyarakat, dari Kalkuta hingga kampung halamannya di Albania. Ia juga salah satu pionir yang membangun rumah bagi penderita AIDS.
Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas, Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai penghargaan kemanusiaan. Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII International Prize for Peace. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Paus Paulus VI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Good Samaritan di Boston. Setelah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun di India, tentu saja pemerintah India tidak menutup mata akan pelayanannya. Pada tahun 1972, Bunda Teresa menerima Pandit Nehru Prize. Setahun kemudian, ia menerima Templeton Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih untuk menerima penghargaan tersebut dari dua ribu kandidat dari berbagai negara dan agama oleh juri dari sepuluh kelompok agama di dunia.
Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah uang sebesar $6.000 yang diperolehnya disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Hadiah tersebut memungkinkannya untuk memberi makan ratusan orang selama setahun penuh. Ia berkata bahwa penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan. Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan pusat rehabilitasi pertama bagi korban AIDS di New York. Menyusul kemudian sejumlah rumah penampungan yang didirikan di San Fransisco dan Atlanta. Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal of Freedom.
Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.
Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh Bunda Teresa tidak mengizinkannya melakukan aktivitas yang berlebihan, khususnya setelah serangan jantung pada 1989. Kesehatannya merosot, sebagian karena usianya, sebagian karena kondisi tempat tinggalnya, sebagian lain dikarenakan perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Menyadari kondisi kesehatannya yang demikian, Bunda Teresa meminta Missionary of Charity untuk memilih penggantinya. Maka, pada 13 Maret 1997, Suster Nirmala terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda Teresa.
Bunda Teresa akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya. Upacara pemakaman diadakan pada 13 September 1997, di Stadion Netaji, India, yang berkapasitas 15.000 orang. Atas kebijakan Missionary of Charity, sebagian besar yang menghadiri upacara tersebut adalah orang-orang yang selama ini dilayani oleh Bunda Teresa.
Sumber : http://biokristi.sabda.org/terpanggil_bagi_kaum_miskin_kisah_singkat_pelayanan_bunda_teresa

Itulah yang dikatakan oleh salah seorang tokoh kemanusiaan yang dipenuhi oleh cinta kasih. Bunda Teresa merupakan seorang wanita yang memberikan hatinya untuk melayani masyarakat miskin di India.
Dilahirkan di Skopje, Albania, 26 Agustus 1910, Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Ia memiliki dua saudara perempuan dan seorang saudara lelaki. Ketika dibaptis, ia diberi nama Agnes Gonxha. Ia menerima pelayanan sakramen pertamanya ketika berusia lima setengah tahun dan diteguhkan pada bulan November 1916.
Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat mempengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha.
Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokal yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Tampaknya hal inilah yang kemudian berperan dalam dirinya sehingga pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.
Pada tanggal 28 November 1928, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal karena pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.
Suster Teresa pun dikirim ke India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Setelah mengikrarkan komitmennya kepada Tuhan, ia pun mulai mengajar pada St. Mary's High School di Kalkuta. Di sana ia mengajarkan geografi dan katekisasi. Dan pada tahun 1944, ia menjadi kepala sekolah St. Mary.
Akan tetapi, kesehatannya memburuk. Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi mengajar. Untuk memulihkan kesehatannya, ia pun dikirim ke Darjeeling. Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, tanggal 10 September 1946, disebut sebagai "Hari Penuh Inspirasi" oleh Bunda Teresa.
Selama berbulan-bulan, ia mendapatkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya. Pada tahun 1948, pihak Vatikan mengizinkan Suster Teresa untuk meninggalkan ordonya dan memulai pelayanannya di bawah Keuskupan Kalkuta. Dan pada 17 Agustus 1948, untuk pertama kalinya ia memakai pakaian putih yang dilengkapi dengan kain sari bergaris biru.
Ia memulai pelayanannya dengan membuka sebuah sekolah pada 21 Desember 1948 di lingkungan yang kumuh. Karena tidak memiliki dana, ia membuka sekolah terbuka di sebuah taman. Di sana ia mengajarkan pentingnya pengenalan akan hidup yang sehat, di samping mengajarkan membaca dan menulis pada anak-anak yang miskin. Selain itu, dengan berbekal pengetahuan medis, ia juga membawa anak-anak yang sakit ke rumahnya dan merawat mereka.

Tuhan memang tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjuang sendirian. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Teresa saat perjuangannya mulai mendapat perhatian dari berbagai individu dan organisasi gereja. Pada 19 Maret 1949, salah seorang muridnya di St. Mary bergabung dengannya. Terinspirasi oleh gurunya itu, ia membaktikan dirinya untuk pelayanan kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan.
Segera saja mereka menemukan begitu banyak pria, wanita, bahkan anak-anak yang sekarat. Mereka terlantar di jalanan setelah ditolak oleh rumah sakit setempat. Tergerak oleh belas kasihan, Bunda Teresa dan rekan barunya itu pun menyewa sebuah ruangan untuk merawat mereka yang sekarat. Pada tanggal 7 Oktober 1950, Missionary of Charity didirikan di Kalkuta. Mereka yang tergabung di dalamnya pun semakin teguh untuk melayani dengan sepenuhnya memberi diri mereka untuk melayani kaum miskin. Mereka tidak pernah menerima pemberian materi apa pun sebagai balasan atas pelayanan yang mereka lakukan.
Pada awal 1960-an, Bunda Teresa mulai mengirimkan suster-susternya ke berbagai daerah lain di India. Selain itu, pelayanan dari Missionary of Charity mulai melebarkan sayapnya di Venezuela (1965), yang kemudian diikuti oleh pembukaan rumah-rumah di Ceylon, Tanzania, Roma, dan Australia yang ditujukan untuk merawat kaum miskin. Setelah Missionary of Charity, sejumlah yayasan pun didirikan untuk memperluas pelayanan Bunda Teresa. Yang pertama ialah Association of Coworkers sebagai afiliasi dari Missionary of Charity. Asosiasi ini sendiri di setujui oleh Paus Paulus VI pada 26 Maret 1969. Meskipun merupakan afiliasi Missionary of Charity, asosiasi ini memiliki anggaran dasar tersendiri.
Selama tahun-tahun berikutnya, dari semula melayani hanya dua belas, Missionary of Charity berkembang hingga dapat melayani ribuan orang. Bahkan 450 pusat pelayanan tersebar di seluruh dunia untuk melayani orang-orang miskin dan terlantar. Ia membangun banyak rumah bagi mereka yang menderita, sekarat, dan ditolak oleh masyarakat, dari Kalkuta hingga kampung halamannya di Albania. Ia juga salah satu pionir yang membangun rumah bagi penderita AIDS.
Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas, Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai penghargaan kemanusiaan. Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII International Prize for Peace. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Paus Paulus VI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Good Samaritan di Boston. Setelah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun di India, tentu saja pemerintah India tidak menutup mata akan pelayanannya. Pada tahun 1972, Bunda Teresa menerima Pandit Nehru Prize. Setahun kemudian, ia menerima Templeton Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih untuk menerima penghargaan tersebut dari dua ribu kandidat dari berbagai negara dan agama oleh juri dari sepuluh kelompok agama di dunia.
Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah uang sebesar $6.000 yang diperolehnya disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Hadiah tersebut memungkinkannya untuk memberi makan ratusan orang selama setahun penuh. Ia berkata bahwa penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan. Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan pusat rehabilitasi pertama bagi korban AIDS di New York. Menyusul kemudian sejumlah rumah penampungan yang didirikan di San Fransisco dan Atlanta. Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal of Freedom.
Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.
Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh Bunda Teresa tidak mengizinkannya melakukan aktivitas yang berlebihan, khususnya setelah serangan jantung pada 1989. Kesehatannya merosot, sebagian karena usianya, sebagian karena kondisi tempat tinggalnya, sebagian lain dikarenakan perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Menyadari kondisi kesehatannya yang demikian, Bunda Teresa meminta Missionary of Charity untuk memilih penggantinya. Maka, pada 13 Maret 1997, Suster Nirmala terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda Teresa.
Bunda Teresa akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya. Upacara pemakaman diadakan pada 13 September 1997, di Stadion Netaji, India, yang berkapasitas 15.000 orang. Atas kebijakan Missionary of Charity, sebagian besar yang menghadiri upacara tersebut adalah orang-orang yang selama ini dilayani oleh Bunda Teresa.
Sumber : http://biokristi.sabda.org/terpanggil_bagi_kaum_miskin_kisah_singkat_pelayanan_bunda_teresa
Kamis, 13 Mei 2010
Delon Thamrin
Nama Delon tentu sudah tidak asing di telinga masyarakat. Dia adalah juara kontes “Indonesian Idol” pertama. Selain singkat, nama ini juga mudah diingat.

Stanislaus Alexander Liauw Delon Thamrin mulai dikenal semenjak penampilannya pada "Indonesian Idol". Perjalanannya menuju babak puncak acara ini disertai kontroversi bahwa ia terus melaju hanya karena wajahnya yang menarik serta latar belakang hidupnya yang mengundang simpati dari masyarakat. Saat itu, media banyak mengekspos bahwa ibunda Delon mengidap penyakit jantung dan Delon bekerja keras untuk mendapatkan biaya pengobatannya. Delon juga sering dikritik kurang mampu menyanyikan lagu bertempo tinggi. Nyatanya, popularitas Delon terus meningkat dan tetap mendapat dukungan para penggemar setianya yang disebut Deloners, dan terus melaju sampai babak puncak.
Pria kelahiran 20 Mei 1978 itu menduduki posisi kedua, setelah kalah unggul dengan Joy Tobing. Delon akhirnya menjadi pemenang "Indonesian Idol" beberapa bulan kemudian. Hal ini terjadi setelah Joy Tobing memutuskan untuk keluar dari Indomugi Pratama, pihak manajemen yang ditunjuk oleh FreMantle Media dan RCTI. Proses keluarnya Joy berlangsung secara alot dan penuh konflik.
Semenjak itu pula, perlahan-lahan tawaran kepada Delon dalam bidang hiburan terus meningkat. Setelah Indonesian Idol, Delon pun berkesempatan merilis album. Di antaranya, album perdananya BAHAGIAKU yang kemudian mendapatkan double platinum dalam waktu dua bulan setelah peluncurannya. Menyusul album keduanya, THE SWEETEST GIFT FROM DELON yang bertemakan Natal, single "Terjaga Di Setiap Mimpi" pada album PORTRAIT OF YOVIE, single “Kokoro no Tomo” duet dengan Mayumi Itsuwa pada album BEST DUET LOVE SONG, single "Satu Hanya Kamu duet dengan Pingkan Mambo di album terbaru Pingkan, dan soundtrack untuk film VINA BILANG CINTA. Selain itu, Delon juga banyak membintangi iklan, sinetron, dan film layar perak.
Debut akting Delon lewat film layar lebar yang dibintanginya bersama aktris Rachel Maryam, dalam VINA BILANG CINTA (2005).
Penyanyi yang pernah digosipkan dengan artis cantik Sandra Dewi ini kembali meluncurkan album terbarunya pada Februari 2008. Album ketiga Delon diberi tajuk PERASAANKU. Selain lagu "Terbalik", di album ini Delon juga menjagokan lagu "Indah Pada Waktunya" berduet dengan Irene (pemenang ajang kontes bernyanyi Duet Bareng Delon).
Selain aktif di dunia hiburan, Delon pun aktif dalam pelayanan kerohanian. Pada tahun 2008, Delon berangkat ke Amerika Serikat untuk memenuhi undangan Gereja Bethel Indonesia di sana. Delon telah membuktikan eksistensinya di dunia nyanyi dan entertainment. Dia juga telah membuktikan bahwa dengan berserah penuh terus melayani Tuhan, talenta dan kualitas suaranya dapat bertahan hingga saat ini.
Delon adalah putra dari pasangan Benny Thamrin (alm.) dan Liauw Agin. Kini ia lebih banyak aktif dalam dunia pelayanan dan sosial. Delon mengakui bahwa ia sedang mempersiapkan single dari album terbarunya. Di samping itu, Delon pun mempersiapkan album lagu rohaninya. Saat ditanyai mengenai hal apa yang membuat ia berniat membuat album rohani, Delon mengatakan bahwa ia memang ingin mencoba album rohani. Permintaan banyak pihak akan album rohaninya pun memang telah lama ia pertimbangkan.
Sumber : http://www.reformata.com/02393-delon-aktif-di-dunia-pelayanan.html

Stanislaus Alexander Liauw Delon Thamrin mulai dikenal semenjak penampilannya pada "Indonesian Idol". Perjalanannya menuju babak puncak acara ini disertai kontroversi bahwa ia terus melaju hanya karena wajahnya yang menarik serta latar belakang hidupnya yang mengundang simpati dari masyarakat. Saat itu, media banyak mengekspos bahwa ibunda Delon mengidap penyakit jantung dan Delon bekerja keras untuk mendapatkan biaya pengobatannya. Delon juga sering dikritik kurang mampu menyanyikan lagu bertempo tinggi. Nyatanya, popularitas Delon terus meningkat dan tetap mendapat dukungan para penggemar setianya yang disebut Deloners, dan terus melaju sampai babak puncak.
Pria kelahiran 20 Mei 1978 itu menduduki posisi kedua, setelah kalah unggul dengan Joy Tobing. Delon akhirnya menjadi pemenang "Indonesian Idol" beberapa bulan kemudian. Hal ini terjadi setelah Joy Tobing memutuskan untuk keluar dari Indomugi Pratama, pihak manajemen yang ditunjuk oleh FreMantle Media dan RCTI. Proses keluarnya Joy berlangsung secara alot dan penuh konflik.
Semenjak itu pula, perlahan-lahan tawaran kepada Delon dalam bidang hiburan terus meningkat. Setelah Indonesian Idol, Delon pun berkesempatan merilis album. Di antaranya, album perdananya BAHAGIAKU yang kemudian mendapatkan double platinum dalam waktu dua bulan setelah peluncurannya. Menyusul album keduanya, THE SWEETEST GIFT FROM DELON yang bertemakan Natal, single "Terjaga Di Setiap Mimpi" pada album PORTRAIT OF YOVIE, single “Kokoro no Tomo” duet dengan Mayumi Itsuwa pada album BEST DUET LOVE SONG, single "Satu Hanya Kamu duet dengan Pingkan Mambo di album terbaru Pingkan, dan soundtrack untuk film VINA BILANG CINTA. Selain itu, Delon juga banyak membintangi iklan, sinetron, dan film layar perak.
Debut akting Delon lewat film layar lebar yang dibintanginya bersama aktris Rachel Maryam, dalam VINA BILANG CINTA (2005).
Penyanyi yang pernah digosipkan dengan artis cantik Sandra Dewi ini kembali meluncurkan album terbarunya pada Februari 2008. Album ketiga Delon diberi tajuk PERASAANKU. Selain lagu "Terbalik", di album ini Delon juga menjagokan lagu "Indah Pada Waktunya" berduet dengan Irene (pemenang ajang kontes bernyanyi Duet Bareng Delon).
Selain aktif di dunia hiburan, Delon pun aktif dalam pelayanan kerohanian. Pada tahun 2008, Delon berangkat ke Amerika Serikat untuk memenuhi undangan Gereja Bethel Indonesia di sana. Delon telah membuktikan eksistensinya di dunia nyanyi dan entertainment. Dia juga telah membuktikan bahwa dengan berserah penuh terus melayani Tuhan, talenta dan kualitas suaranya dapat bertahan hingga saat ini.
Delon adalah putra dari pasangan Benny Thamrin (alm.) dan Liauw Agin. Kini ia lebih banyak aktif dalam dunia pelayanan dan sosial. Delon mengakui bahwa ia sedang mempersiapkan single dari album terbarunya. Di samping itu, Delon pun mempersiapkan album lagu rohaninya. Saat ditanyai mengenai hal apa yang membuat ia berniat membuat album rohani, Delon mengatakan bahwa ia memang ingin mencoba album rohani. Permintaan banyak pihak akan album rohaninya pun memang telah lama ia pertimbangkan.
Sumber : http://www.reformata.com/02393-delon-aktif-di-dunia-pelayanan.html
Senin, 19 April 2010
Stephen Tong
Latar Belakang
Stephen Tong (bahasa Tionghoa: 唐崇荣; pinyin: Tang Chongrong) lahir pada tahun 1940 di Xiamen, provinsi Fujian, Republik Rakyat Cina. Ayahnya berkebangsaan Cina dan ibunya seorang Tionghoa Indonesia. Pada usia 3 tahun, ayahnya meninggal dunia. Keluarganya bermigrasi ke Indonesia ketika ia berumur 9 tahun.

Pdt. Stephen Tong
Orang tuanya memiliki tujuh anak laki-laki (Tony, Yohanes, Petrus, Caleb, Solomon, Stephen, dan Joseph) dan seorang anak perempuan (Maria). Pada usia 17 tahun, ia menyatakan tekad untuk mengabdi pada Kristus setelah mendengar sebuah khotbah oleh Andrew Gih di sebuah KKR di Surabaya.
Pendidikan
Stephen Tong memperoleh gelar Bachelor Degree in Theology (B. Th) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di Malang, Indonesia; tempat di mana ia kemudian melayani dan mengajar teologi selama 25 tahun. Pada tahun 1985, Stephen Tong dianugerahi gelar doktor kehormatan dalam kepemimpinan dalam penginjilan Kristen dari La Madrid International Academy of Leadership di Manila, Filipina. Pada bulan Mei 2008, ia menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Westminster Theological Seminary.

Dr. Stephen Tong bersama Dr. Peter A. Lillback (President of Westminster Theological Seminary)
Karir Musik
Selain sebagai pendeta, Dr. Tong juga dikenal sebagai salah satu konduktor musik. Sejak kecil ia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap segala bentuk seni; termasuk musik, lukisan, arsitektur, dan seni pahat. Ia mengamati dan mempelajari seni-seni tersebut secara otodidak. Ia telah menciptakan musik sejak usia 16 tahun dan memimpin oratorio sejak umur 17. Sejak saat itu, ia telah memimpin oratorio dan musik gerejawi di Seminari Alkitab Asia Tenggara dan gereja-gereja yang ia layani.
Pada tahun 1986, ia mendirikan Jakarta Oratorio Society yang melakukan penampilan di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia, Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia. Konser-konser tersebut dihadiri oleh ribuan orang dan mendapatkan sambutan yang positif.
Ia memecahkan rekor pada tahun 1985 dengan menarik 27.000 pengunjung pada konser di tujuh kota (Malang, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bandung, dan Jakarta) untuk memperingati seratus tahun J.S. Bach dan G.F. Handel. Konser tur tersebut menuai banyak pujian dari berbagai kritikus dan pecinta seni.
Salah satu mimpinya yang baru terwujud adalah pendirian Katedral Mesias di Jakarta pada tahun 2008, tepatnya di gedung Gereja Reformed Injili Indonesia pusat. Penyelesaian gedung tersebut diliput secara khusus oleh jurnalis mancanegara, termasuk dari Reuters dan Wall Street Journal.
Pada bulan Desember 2008, Dr. Tong kembali membuat rekor dengan menarik 9.000 pengunjung ke pagelaran musik lengkap Messiah oleh Handel di Katedral Mesias. Ini adalah rekor penampilan musik klasik terbesar di Indonesia. Dalam acara tersebut Dr. Tong memimpin 200 orang lebih anggota koor dan orkestra Jakarta Oratorio Society.
Pada bulan Oktober 2009, Aula Simfonia Jakarta di kawasan Kemayoran didedikasikan bagi seluruh pecinta musik klasik Indonesia dengan konser yang dipimpin oleh Dr. Jahja Ling (music director San Diego Symphony) dan Dr. Tong (yang memainkan karya G.F. Handel Organ Concerto in B flat major Op. 4 No. 6 HWV 294 dan F.J. Haydn The Creation).

Undangan konser inaugurasi Aula Simfonia Jakarta 2009
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Stephen_Tong
Stephen Tong (bahasa Tionghoa: 唐崇荣; pinyin: Tang Chongrong) lahir pada tahun 1940 di Xiamen, provinsi Fujian, Republik Rakyat Cina. Ayahnya berkebangsaan Cina dan ibunya seorang Tionghoa Indonesia. Pada usia 3 tahun, ayahnya meninggal dunia. Keluarganya bermigrasi ke Indonesia ketika ia berumur 9 tahun.

Orang tuanya memiliki tujuh anak laki-laki (Tony, Yohanes, Petrus, Caleb, Solomon, Stephen, dan Joseph) dan seorang anak perempuan (Maria). Pada usia 17 tahun, ia menyatakan tekad untuk mengabdi pada Kristus setelah mendengar sebuah khotbah oleh Andrew Gih di sebuah KKR di Surabaya.
Pendidikan
Stephen Tong memperoleh gelar Bachelor Degree in Theology (B. Th) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di Malang, Indonesia; tempat di mana ia kemudian melayani dan mengajar teologi selama 25 tahun. Pada tahun 1985, Stephen Tong dianugerahi gelar doktor kehormatan dalam kepemimpinan dalam penginjilan Kristen dari La Madrid International Academy of Leadership di Manila, Filipina. Pada bulan Mei 2008, ia menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Westminster Theological Seminary.

Karir Musik
Selain sebagai pendeta, Dr. Tong juga dikenal sebagai salah satu konduktor musik. Sejak kecil ia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap segala bentuk seni; termasuk musik, lukisan, arsitektur, dan seni pahat. Ia mengamati dan mempelajari seni-seni tersebut secara otodidak. Ia telah menciptakan musik sejak usia 16 tahun dan memimpin oratorio sejak umur 17. Sejak saat itu, ia telah memimpin oratorio dan musik gerejawi di Seminari Alkitab Asia Tenggara dan gereja-gereja yang ia layani.
Pada tahun 1986, ia mendirikan Jakarta Oratorio Society yang melakukan penampilan di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia, Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia. Konser-konser tersebut dihadiri oleh ribuan orang dan mendapatkan sambutan yang positif.
Ia memecahkan rekor pada tahun 1985 dengan menarik 27.000 pengunjung pada konser di tujuh kota (Malang, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bandung, dan Jakarta) untuk memperingati seratus tahun J.S. Bach dan G.F. Handel. Konser tur tersebut menuai banyak pujian dari berbagai kritikus dan pecinta seni.
Salah satu mimpinya yang baru terwujud adalah pendirian Katedral Mesias di Jakarta pada tahun 2008, tepatnya di gedung Gereja Reformed Injili Indonesia pusat. Penyelesaian gedung tersebut diliput secara khusus oleh jurnalis mancanegara, termasuk dari Reuters dan Wall Street Journal.
Pada bulan Desember 2008, Dr. Tong kembali membuat rekor dengan menarik 9.000 pengunjung ke pagelaran musik lengkap Messiah oleh Handel di Katedral Mesias. Ini adalah rekor penampilan musik klasik terbesar di Indonesia. Dalam acara tersebut Dr. Tong memimpin 200 orang lebih anggota koor dan orkestra Jakarta Oratorio Society.
Pada bulan Oktober 2009, Aula Simfonia Jakarta di kawasan Kemayoran didedikasikan bagi seluruh pecinta musik klasik Indonesia dengan konser yang dipimpin oleh Dr. Jahja Ling (music director San Diego Symphony) dan Dr. Tong (yang memainkan karya G.F. Handel Organ Concerto in B flat major Op. 4 No. 6 HWV 294 dan F.J. Haydn The Creation).

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Stephen_Tong
Rabu, 07 April 2010
Kaká - Atlet Kristus
Lahir di Brasil tahun 1982 dengan nama Ricardo Izecson dos Santos Leite, Kaká lahir dari sebuah keluarga penginjil yang kaya raya. Hal itu tidak membuat ia menjadi sombong dengan mengandalkan kekayaan keluarganya atau pun mengikuti jalan hidup keluarganya dengan menjadi penginjil. Kaká punya jalannya sendiri dan caranya sendiri.
Sejak kecil ia sangat menyukai sepak bola. Bahkan dalam usia remaja ia menjadi pemain yang cukup terkenal dengan bermain sebagai pemain cadangan di klub San Paulo.
Namun, pada usia 18 tahun sebuah bencana terjadi. Ia mengalami cedera punggung yang serius saat sedang berenang. Dokter mengatakan ia tidak bisa bermain sepakbola lagi, bahkan kemungkinan besar akan lumpuh akibat cedera itu. Tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkannya.
Tapi Kaká tahu persis ke mana ia harus minta tolong saat dokter sudah angkat tangan. Kaká bergumul dengan Tuhan, ia bernazar pada Tuhan. Bila ia sembuh dan dapat bermain sepak bola lagi, ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya itu pada Tuhan Yesus.
Dan keajaiban pun terjadi. Setahun setelah kecelakaannya itu (tahun 2001), Tuhan menyembuhkannya, ia sembuh total dari sakitnya. Bahkan ia dapat merumput lagi. Tuhan juga memberikan hadiah bonus. Ia tidak lagi menjadi pemain cadangan, melainkan menjadi pemain utama dan andalan dalam klubnya.
Tuhan membuat permainan Kaká menjadi begitu hebat, sehingga manajer tim nasional Brasil terpikat akan permainannya dan memanggil Kaká untuk bertarung di Piala Dunia 2002.
Beberapa pertandingan berjalan begitu keras bagi Brasil, sehingga beberapa pemain bintang harus disimpan karena cedera. Datanglah kesempatan bagi Kaká untuk turun membela timnya. Di bawah pembelaannya, Brasil pun menang. Peristiwa legendaris yang menggemparkan dunia itu pun terjadi. Kaká mengangkat seragamnya dan di baliknya ada sebuah tulisan yang menggegerkan. Kaos putih itu bertuliskan "I BELONG TO JESUS".
Dan akhirnya Brasil pun memenangkan Piala Dunia 2002 setelah menaklukan Jerman di final dengan skor 2-0. Dalam parade kemenangan di negaranya sendiri, kaos kesayangan yang bertuliskan "I BELONG TO JESUS" itu tidak pernah dilepasnya. Hal itu menginspirasi banyak pemain Brasil (bahkan pemain negara lain) melakukan hal yang sama.
Saat diwawancara oleh stasiun TV dan ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia berkata, "Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan mereka."
Permainannya yang cantik di Piala Dunia tidak luput dari perhatian sebuah klub raksasa di Italia, AC Milan. Kaká pun pindah bergabung dengan AC Milan, masuk dalam liga Italia yang keras dan penuh bintang. Di musim pertamanya di Serie A, ia langsung menyumbangkan gelar juara Scudetto bagi AC Milan.
Dalam waktu singkat Kaká menjadi bintang dan pujaan banyak orang khususnya wanita.
Namun cinta dan kesetiannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya yang jauh di Brasil. Walau kehidupan pemain sepakbola selalu dikelilingi wanita-wanita super model atau pesta-pesta kemenangan, Kaká selalu menghindari semuanya itu. Tahun 2005, Kaká meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sangat sederhana, sangat berbeda dengan pernikahan selebritis lain yang super mewah. Dalam jumpa pers ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.

"Itu adalah periode yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang pria normal dan pasti tergoda untuk melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya bisa melewatinya. Malam pertama kami juga ditandai darah keperawanan, sebagai tanda cinta suci kami."
Kaká membuktikan pada mata dunia bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final Liga Champions Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, kemenangan ini merupakan mukjizat. Tidak ada yang menyangka AC Milan akan menang. Kaká menjadi Top Scorer dalam Liga Champions dan pantas dinobatkan sebagai UEFA Club Footballer of the Year.
Kaká kini memiliki dua paspor, Italia dan Brasil. Kaká juga dikontrak menjadi model oleh Armani, Dolce & Gabbana, dan Adidas.
Kaká resmi bergabung ke Real Madrid pada Senin, 8 Juni 2009, dengan nilai transfer sebesar €65 juta (rekor tertinggi kedua setelah Zinedine Zidane pindah dari Juventus ke Los Blancos pada tahun 2001 lalu dengan biaya €76 juta).
Sumber : http://ekasih.com/index.php/kesaksian/273-kaka-atlet-kristus-i-belong-to-jesus
Sejak kecil ia sangat menyukai sepak bola. Bahkan dalam usia remaja ia menjadi pemain yang cukup terkenal dengan bermain sebagai pemain cadangan di klub San Paulo.
Namun, pada usia 18 tahun sebuah bencana terjadi. Ia mengalami cedera punggung yang serius saat sedang berenang. Dokter mengatakan ia tidak bisa bermain sepakbola lagi, bahkan kemungkinan besar akan lumpuh akibat cedera itu. Tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkannya.
Tapi Kaká tahu persis ke mana ia harus minta tolong saat dokter sudah angkat tangan. Kaká bergumul dengan Tuhan, ia bernazar pada Tuhan. Bila ia sembuh dan dapat bermain sepak bola lagi, ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya itu pada Tuhan Yesus.
Dan keajaiban pun terjadi. Setahun setelah kecelakaannya itu (tahun 2001), Tuhan menyembuhkannya, ia sembuh total dari sakitnya. Bahkan ia dapat merumput lagi. Tuhan juga memberikan hadiah bonus. Ia tidak lagi menjadi pemain cadangan, melainkan menjadi pemain utama dan andalan dalam klubnya.
Tuhan membuat permainan Kaká menjadi begitu hebat, sehingga manajer tim nasional Brasil terpikat akan permainannya dan memanggil Kaká untuk bertarung di Piala Dunia 2002.
Beberapa pertandingan berjalan begitu keras bagi Brasil, sehingga beberapa pemain bintang harus disimpan karena cedera. Datanglah kesempatan bagi Kaká untuk turun membela timnya. Di bawah pembelaannya, Brasil pun menang. Peristiwa legendaris yang menggemparkan dunia itu pun terjadi. Kaká mengangkat seragamnya dan di baliknya ada sebuah tulisan yang menggegerkan. Kaos putih itu bertuliskan "I BELONG TO JESUS".
Dan akhirnya Brasil pun memenangkan Piala Dunia 2002 setelah menaklukan Jerman di final dengan skor 2-0. Dalam parade kemenangan di negaranya sendiri, kaos kesayangan yang bertuliskan "I BELONG TO JESUS" itu tidak pernah dilepasnya. Hal itu menginspirasi banyak pemain Brasil (bahkan pemain negara lain) melakukan hal yang sama.Saat diwawancara oleh stasiun TV dan ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia berkata, "Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan mereka."
Permainannya yang cantik di Piala Dunia tidak luput dari perhatian sebuah klub raksasa di Italia, AC Milan. Kaká pun pindah bergabung dengan AC Milan, masuk dalam liga Italia yang keras dan penuh bintang. Di musim pertamanya di Serie A, ia langsung menyumbangkan gelar juara Scudetto bagi AC Milan.
Dalam waktu singkat Kaká menjadi bintang dan pujaan banyak orang khususnya wanita.
Namun cinta dan kesetiannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya yang jauh di Brasil. Walau kehidupan pemain sepakbola selalu dikelilingi wanita-wanita super model atau pesta-pesta kemenangan, Kaká selalu menghindari semuanya itu. Tahun 2005, Kaká meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sangat sederhana, sangat berbeda dengan pernikahan selebritis lain yang super mewah. Dalam jumpa pers ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.

"Itu adalah periode yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang pria normal dan pasti tergoda untuk melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya bisa melewatinya. Malam pertama kami juga ditandai darah keperawanan, sebagai tanda cinta suci kami."
Kaká membuktikan pada mata dunia bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final Liga Champions Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, kemenangan ini merupakan mukjizat. Tidak ada yang menyangka AC Milan akan menang. Kaká menjadi Top Scorer dalam Liga Champions dan pantas dinobatkan sebagai UEFA Club Footballer of the Year.
Kaká kini memiliki dua paspor, Italia dan Brasil. Kaká juga dikontrak menjadi model oleh Armani, Dolce & Gabbana, dan Adidas.
Kaká resmi bergabung ke Real Madrid pada Senin, 8 Juni 2009, dengan nilai transfer sebesar €65 juta (rekor tertinggi kedua setelah Zinedine Zidane pindah dari Juventus ke Los Blancos pada tahun 2001 lalu dengan biaya €76 juta).
Sumber : http://ekasih.com/index.php/kesaksian/273-kaka-atlet-kristus-i-belong-to-jesus
Jumat, 26 Maret 2010
Choky Sitohang: "Saya Ini Hanya Alat Tuhan"
Bagi kebanyakan orang, kesuksesan adalah perpaduan antara bakat dan kerja keras. Namun bagi Choky Sitohang, sukses adalah bagaimana seseorang mampu memenuhi tujuan yang telah Allah tetapkan dalam hidupnya. Dan, ia telah melakukannya.

Pemirsa setia televisi di negeri ini tentu tidak asing dengan pria ini. Wajah tampannya kerap muncul di layar kaca. Ya, bisa dibilang lelaki yang selalu terlihat elegan tersebut adalah presenter terpopuler saat ini. Tak hanya bermodal fisik, pria bertinggi 175 cm dan berat 73 kg ini memang sangat smart membawakan acara. Semua yang ia dapatkan sekarang adalah buah perjuangannya selama 8 tahun.
Impian Masa Kecil
Menjadi presenter adalah impian yang dipendam Choky sejak remaja. Dan itu bukanlah hal yang berlebihan. Sejak usia 4 tahun, Choky sudah menunjukkan bakatnya itu. Ia mampu memesona orang-orang dengan selera humornya. Beranjak remaja, Choky sangat senang memperhatikan para presenter andal di televisi. Tantowi Yahya, Ferdy Hasan, Indy Barends, Tamara Geraldine adalah mentor virtualnya.
Anak pasangan Poltak Sitohang(alm.) dan Diana Br.Napitupulu itu lalu fokus mengejar impiannya. Ia memulai dari lingkup terkecil, yaitu radio. Usia 17 tahun, ia menjadi DJ di Radio Oz Bandung. Di situ, pria Batak yang tumbuh dan besar di Bandung itu mempertajam kemampuannya memandu acara.
Hingga suatu hari di tahun 2002, sang mama melihat di surat kabar, stasiun televisi Lativi membuka lowongan presenter. Choky pun mengadu keberuntungannya. Proses seleksi sebanyak 6 tahap, dilaluinya dengan sempurna. Meski awalnya Choky sempat merasa kelelahan. “Saya gunakan tabungan sendiri untuk biaya transportasi Bandung-Jakarta. Saya naik kereta yang turun di Jatinegara, lalu disambung angkutan umum, dan ojek sampai Pulogadung. Lelah sekali rasanya,” kenang Choky dengan mata menerawang.
Ujian Pertama
Ketika dinyatakan diterima, Choky girang bukang kepalang. Terbayang di benaknya, ia akan memandu berbagai program acara layaknya seorang presenter. Maka, ia sempat terbengong-bengong karena tugas pertamanya adalah meluncur ke kantor Polsek Tebet. “Di sana ada kejadian perkara,” kata Choky menirukan sang koordinator. Perasaan bingung mendera hatinya. “Mengapa harus ke polsek dan wawancara?,” batinnya. Ia dikirim bersama seorang kamerawan. Selepas dari sana, alumnus jurusan Komunikasi Politik, Universitas Bung Karno ini diminta menulis berita. Makin bingung dia.
Selidik punya selidik, ternyata posisi yang ditawarkan adalah news presenter; bukan presenter program acara TV seperti yang diinginkannya. Choky pun akhirnya terjun ke dunia jurnalistik. Sebuah dunia yang tidak pernah ada dalam imajinasinya. Namun, Choky berusaha menikmati hingga akhirnya ia mencintainya. “Saat itu saya sangat menikmati saat-saat on air sebagai pembaca berita dan juga ketika liputan di lapangan,” ujarnya sambil tersenyum.
Aktivitas padat sebagai jurnalis tak membuat Choky melupakan impian masa remajanya. Suatu hari, ia merasa mendapat peneguhan dari Tuhan. Setiap kali menyaksikan para presenter profesional, seperti Indy Barends atau Tamara Geraldine memandu acara di televisi, Tuhan berbicara padanya. “Saat itu Tuhan bilang bahwa saya mempunyai talenta seperti mereka. Kamu akan hebat di sana,” kata pria penggila buku ini.
Mengejar Impian
Konfirmasi dari Tuhan itu membuat Choky memutuskan berhenti bekerja sebagai jurnalis tahun 2005. Seperti janji-Nya, Tuhan pun membukakan jalan buat Choky. Ia diberi kepercayaan memandu program reality show bertajuk Cepetan Dong di RCTI. Ia dikontrak 12 episode sekaligus.
Perasaan Choky serasa melambung. Tinggal selangkah lagi, ia akan meraih impian masa kecilnya, menjadi presenter andal. Namun kenyataan berkata lain. Selepas episode ke-7, Choky tumbang. Bukan karena ada pesaing. Melainkan karena virus hepatitis A menyerang livernya. Selama menjadi wartawan, gaya hidup Choky cenderung tidak sehat. Ia tidak memperhatikan kebersihan makanan yang dikonsumsinya. Akibatnya, Choky harus bed rest dan menjalani perawatan intensif selama beberapa bulan.
Kenyataan itu membuatnya terpukul. Ia merasa telah mundur tiga langkah. Lagi-lagi Tuhan menguatkannya. Masa penyembuhan sekaligus menjadi masa perenungan. “Dalam masa penyembuhan, saya mencoba memahami maksud Tuhan,” tutur pria yang selalu mampu bangkit dari keterpurukan karena pertolongan Tuhan.
Akhirnya Datang Juga
Suatu hari, Tuhan bicara padanya secara pribadi, “Persiapkan dirimu karena Aku sedang memberikan kekuatan kepadamu. Lakukan bagianmu. Aku akan lakukan bagian-Ku,” ujar Choky menirukan suara yang didengarnya. Awalnya, Choky sempat bingung namun lambat laun dia mampu mengerti maksud Tuhan. Ia harus bangkit dan kembali berjuang dari titik nol.
Enam bulan setelah sembuh, ia mendapat kesempatan memandu acara My World di JAK-TV. Kariernya mulai bersinar saat ia berbagi stage dengan sang idola, Ferdy Hassan membawakan Good Morning on The Weekend di TransTV tahun 2006. Wajah tampan, kecerdasan, dan lontaran-lontaran kocaknya membawa acara itu memperoleh rating tinggi. Ini menjadi tonggak kariernya hingga menjadi presenter paling populer saat ini.
Kesempatan lebih besar bertubi-tubi menghampirinya. Ia dipercaya membawakan program acara-acara unggulan antara lain Solusi Life O-Channel (2006-2007), Stardut Indosiar (2007-2008), Mamamia Supershow Indosiar (2008), Mario Teguh Golden Ways Metro TV (2008), Euro World Cup RCTI (2008), Happy Song Indosiar (2009-2010), dan puncaknya Take Me Out, Take Him Out, Take A Celebrity Out Indosiar (2009-2010). Melihat semua itu ia berucap bijak, “Saya percaya, janji Tuhan selalu benar. Dia akan menjawab tepat pada waktunya.”
Berbagi Kesaksian Hidup
Atas semua berkat yang telah diterimanya, Choky pun aktif berbagi kesaksian hidup dengan sesamanya. Ia rindu setiap orang mendapat jamahan Tuhan seperti yang dialaminya. Baginya, pelayanan adalah wujud ucapan syukur atas kasih Tuhan dalam hidupnya. “Saya senang mengembalikan talenta saya pada Tuhan. Saya diciptakan Tuhan dengan tujuan mulia dan besar,” tandas jemaat Gereja Duta Injil Ambasador ini. Maka, di tengah kesibukannya sebagai presenter baik on air maupun off air, Choky selalu punya waktu untuk pelayanan. “Dengan talenta itu saya sering berbagi kesaksian hidup, menyanyi memuji Tuhan, dan kadang berkhotbah singkat,” ujar pria yang mengaku dirinya masih saja kerap emosional.
Ucapan syukur itu juga diwujudkan dalam bentuk perpuluhan. Namun, perpuluhan bukanlah untuk menabur benih. Ia hanya mengembalikan apa yang menjadi hak Tuhan. “Ketika saya telah memberikan apa yang menjadi hak Tuhan, itu baru ungkapan wujud terima kasih saya pada Tuhan,” jelas Choky yang tidak pernah meninggalkan ibadah hari Minggu.
Choky memang sosok yang berkarakter kuat sekaligus berkharisma, sehingga banyak orang menyukainya. Namun, lagi-lagi ia hanya merendah, “Saya ini hanya alat yang Tuhan pakai. Tentunya melalui proses panjang serta campur tangan penuh dari Tuhan.”
Penyayang Keluarga
Keluarga adalah salah satu hal penting dalam hidupnya. Seminggu atau dua minggu sekali ia selalu menyempatkan diri pulang ke Bandung. Waktu yang hanya 2-3 hari itu ia manfaatkan semaksimal mungkin, terutama dengan sang mama tercinta. Sejak ayahnya, Poltak Sitohang meninggal dunia tahun 2003 lalu, praktis Choky menjadi tulang punggung keluarga. Pasca meninggalnya sang ayah, hati Choky sempat hancur. ”Saat itu hati saya hancur. Tetapi, keesokan harinya Tuhan sudah buka lagi pemahaman baru tentang hubungan saya dengan ayah dan apa yang masih tersisa di keluarga saya.”
Dahulu, kondisi keluarga Choky tidak seperti sekarang. Dibandingkan beberapa tahun lalu, kondisi keluarganya sudah lebih baik. Hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat. Komunikasi terus berjalan dengan lancar. ”Secara finansial Tuhan sudah tolong kami. Saya yang dahulu tidak punya rumah, sekarang sudah punya. Ini merupakan bukti nyata penyertaan Tuhan,” paparnya. Walau sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga, Choky merasa belum bersikap adil dalam membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.
Ya, Choky adalah sosok yang sudah menemukan tujuan yang telah Tuhan tetapkan dalam hidupnya. Maka, kesukesan yang ia raih tak hanya untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk sesamanya.
Sumber : http://www.ebahana.com/warta-117-Saya-ini-Hanya-Alat-Tuhan.html

Pemirsa setia televisi di negeri ini tentu tidak asing dengan pria ini. Wajah tampannya kerap muncul di layar kaca. Ya, bisa dibilang lelaki yang selalu terlihat elegan tersebut adalah presenter terpopuler saat ini. Tak hanya bermodal fisik, pria bertinggi 175 cm dan berat 73 kg ini memang sangat smart membawakan acara. Semua yang ia dapatkan sekarang adalah buah perjuangannya selama 8 tahun.
Impian Masa Kecil
Menjadi presenter adalah impian yang dipendam Choky sejak remaja. Dan itu bukanlah hal yang berlebihan. Sejak usia 4 tahun, Choky sudah menunjukkan bakatnya itu. Ia mampu memesona orang-orang dengan selera humornya. Beranjak remaja, Choky sangat senang memperhatikan para presenter andal di televisi. Tantowi Yahya, Ferdy Hasan, Indy Barends, Tamara Geraldine adalah mentor virtualnya.
Anak pasangan Poltak Sitohang(alm.) dan Diana Br.Napitupulu itu lalu fokus mengejar impiannya. Ia memulai dari lingkup terkecil, yaitu radio. Usia 17 tahun, ia menjadi DJ di Radio Oz Bandung. Di situ, pria Batak yang tumbuh dan besar di Bandung itu mempertajam kemampuannya memandu acara.
Hingga suatu hari di tahun 2002, sang mama melihat di surat kabar, stasiun televisi Lativi membuka lowongan presenter. Choky pun mengadu keberuntungannya. Proses seleksi sebanyak 6 tahap, dilaluinya dengan sempurna. Meski awalnya Choky sempat merasa kelelahan. “Saya gunakan tabungan sendiri untuk biaya transportasi Bandung-Jakarta. Saya naik kereta yang turun di Jatinegara, lalu disambung angkutan umum, dan ojek sampai Pulogadung. Lelah sekali rasanya,” kenang Choky dengan mata menerawang.
Ujian Pertama
Ketika dinyatakan diterima, Choky girang bukang kepalang. Terbayang di benaknya, ia akan memandu berbagai program acara layaknya seorang presenter. Maka, ia sempat terbengong-bengong karena tugas pertamanya adalah meluncur ke kantor Polsek Tebet. “Di sana ada kejadian perkara,” kata Choky menirukan sang koordinator. Perasaan bingung mendera hatinya. “Mengapa harus ke polsek dan wawancara?,” batinnya. Ia dikirim bersama seorang kamerawan. Selepas dari sana, alumnus jurusan Komunikasi Politik, Universitas Bung Karno ini diminta menulis berita. Makin bingung dia.
Selidik punya selidik, ternyata posisi yang ditawarkan adalah news presenter; bukan presenter program acara TV seperti yang diinginkannya. Choky pun akhirnya terjun ke dunia jurnalistik. Sebuah dunia yang tidak pernah ada dalam imajinasinya. Namun, Choky berusaha menikmati hingga akhirnya ia mencintainya. “Saat itu saya sangat menikmati saat-saat on air sebagai pembaca berita dan juga ketika liputan di lapangan,” ujarnya sambil tersenyum.
Aktivitas padat sebagai jurnalis tak membuat Choky melupakan impian masa remajanya. Suatu hari, ia merasa mendapat peneguhan dari Tuhan. Setiap kali menyaksikan para presenter profesional, seperti Indy Barends atau Tamara Geraldine memandu acara di televisi, Tuhan berbicara padanya. “Saat itu Tuhan bilang bahwa saya mempunyai talenta seperti mereka. Kamu akan hebat di sana,” kata pria penggila buku ini.
Mengejar Impian
Konfirmasi dari Tuhan itu membuat Choky memutuskan berhenti bekerja sebagai jurnalis tahun 2005. Seperti janji-Nya, Tuhan pun membukakan jalan buat Choky. Ia diberi kepercayaan memandu program reality show bertajuk Cepetan Dong di RCTI. Ia dikontrak 12 episode sekaligus.
Perasaan Choky serasa melambung. Tinggal selangkah lagi, ia akan meraih impian masa kecilnya, menjadi presenter andal. Namun kenyataan berkata lain. Selepas episode ke-7, Choky tumbang. Bukan karena ada pesaing. Melainkan karena virus hepatitis A menyerang livernya. Selama menjadi wartawan, gaya hidup Choky cenderung tidak sehat. Ia tidak memperhatikan kebersihan makanan yang dikonsumsinya. Akibatnya, Choky harus bed rest dan menjalani perawatan intensif selama beberapa bulan.
Kenyataan itu membuatnya terpukul. Ia merasa telah mundur tiga langkah. Lagi-lagi Tuhan menguatkannya. Masa penyembuhan sekaligus menjadi masa perenungan. “Dalam masa penyembuhan, saya mencoba memahami maksud Tuhan,” tutur pria yang selalu mampu bangkit dari keterpurukan karena pertolongan Tuhan.
Akhirnya Datang Juga
Suatu hari, Tuhan bicara padanya secara pribadi, “Persiapkan dirimu karena Aku sedang memberikan kekuatan kepadamu. Lakukan bagianmu. Aku akan lakukan bagian-Ku,” ujar Choky menirukan suara yang didengarnya. Awalnya, Choky sempat bingung namun lambat laun dia mampu mengerti maksud Tuhan. Ia harus bangkit dan kembali berjuang dari titik nol.
Enam bulan setelah sembuh, ia mendapat kesempatan memandu acara My World di JAK-TV. Kariernya mulai bersinar saat ia berbagi stage dengan sang idola, Ferdy Hassan membawakan Good Morning on The Weekend di TransTV tahun 2006. Wajah tampan, kecerdasan, dan lontaran-lontaran kocaknya membawa acara itu memperoleh rating tinggi. Ini menjadi tonggak kariernya hingga menjadi presenter paling populer saat ini.
Kesempatan lebih besar bertubi-tubi menghampirinya. Ia dipercaya membawakan program acara-acara unggulan antara lain Solusi Life O-Channel (2006-2007), Stardut Indosiar (2007-2008), Mamamia Supershow Indosiar (2008), Mario Teguh Golden Ways Metro TV (2008), Euro World Cup RCTI (2008), Happy Song Indosiar (2009-2010), dan puncaknya Take Me Out, Take Him Out, Take A Celebrity Out Indosiar (2009-2010). Melihat semua itu ia berucap bijak, “Saya percaya, janji Tuhan selalu benar. Dia akan menjawab tepat pada waktunya.”
Berbagi Kesaksian Hidup
Atas semua berkat yang telah diterimanya, Choky pun aktif berbagi kesaksian hidup dengan sesamanya. Ia rindu setiap orang mendapat jamahan Tuhan seperti yang dialaminya. Baginya, pelayanan adalah wujud ucapan syukur atas kasih Tuhan dalam hidupnya. “Saya senang mengembalikan talenta saya pada Tuhan. Saya diciptakan Tuhan dengan tujuan mulia dan besar,” tandas jemaat Gereja Duta Injil Ambasador ini. Maka, di tengah kesibukannya sebagai presenter baik on air maupun off air, Choky selalu punya waktu untuk pelayanan. “Dengan talenta itu saya sering berbagi kesaksian hidup, menyanyi memuji Tuhan, dan kadang berkhotbah singkat,” ujar pria yang mengaku dirinya masih saja kerap emosional.
Ucapan syukur itu juga diwujudkan dalam bentuk perpuluhan. Namun, perpuluhan bukanlah untuk menabur benih. Ia hanya mengembalikan apa yang menjadi hak Tuhan. “Ketika saya telah memberikan apa yang menjadi hak Tuhan, itu baru ungkapan wujud terima kasih saya pada Tuhan,” jelas Choky yang tidak pernah meninggalkan ibadah hari Minggu.
Choky memang sosok yang berkarakter kuat sekaligus berkharisma, sehingga banyak orang menyukainya. Namun, lagi-lagi ia hanya merendah, “Saya ini hanya alat yang Tuhan pakai. Tentunya melalui proses panjang serta campur tangan penuh dari Tuhan.”
Penyayang Keluarga
Keluarga adalah salah satu hal penting dalam hidupnya. Seminggu atau dua minggu sekali ia selalu menyempatkan diri pulang ke Bandung. Waktu yang hanya 2-3 hari itu ia manfaatkan semaksimal mungkin, terutama dengan sang mama tercinta. Sejak ayahnya, Poltak Sitohang meninggal dunia tahun 2003 lalu, praktis Choky menjadi tulang punggung keluarga. Pasca meninggalnya sang ayah, hati Choky sempat hancur. ”Saat itu hati saya hancur. Tetapi, keesokan harinya Tuhan sudah buka lagi pemahaman baru tentang hubungan saya dengan ayah dan apa yang masih tersisa di keluarga saya.”
Dahulu, kondisi keluarga Choky tidak seperti sekarang. Dibandingkan beberapa tahun lalu, kondisi keluarganya sudah lebih baik. Hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat. Komunikasi terus berjalan dengan lancar. ”Secara finansial Tuhan sudah tolong kami. Saya yang dahulu tidak punya rumah, sekarang sudah punya. Ini merupakan bukti nyata penyertaan Tuhan,” paparnya. Walau sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga, Choky merasa belum bersikap adil dalam membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.
Ya, Choky adalah sosok yang sudah menemukan tujuan yang telah Tuhan tetapkan dalam hidupnya. Maka, kesukesan yang ia raih tak hanya untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk sesamanya.
Sumber : http://www.ebahana.com/warta-117-Saya-ini-Hanya-Alat-Tuhan.html
Langganan:
Postingan (Atom)

