Tampilkan postingan dengan label Kisah Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Pribadi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Mukjizat Itu Nyata

"Bukan kar'na kekuatan: namun Roh-Mu, ya Tuhan.
Ketika kuberdoa, mukjizat itu nyata"


Rabu, tanggal 28 Agustus 2013, waktu telah menunjukkan pukul 16.10 WITA. Ketika itu, saya sedang larut dalam tumpukan pekerjaan dari klien. Namun, secara tiba-tiba, muncullah sebuah surat elektronik (email) dari seorang sekretaris di kantor saya. Isi email itu menjelaskan mengenai sebuah kontes fotografi yang diadakan secara internal oleh pihak kantor. Sebagai salah satu kontestan yang ikut berpartisipasi, kontan saya menjadi penasaran dengan isi email tersebut. Berikut adalah penggalan kata yang saya baca.


"Puji Tuhan!" dalam hati saya mengucap syukur. Foto yang saya lombakan ternyata masuk nominasi 10 besar. Alangkah bahagianya saya mengetahui hasil jerih payah selama 6 bulan terakhir justru berbuah manis. Ya, walau memang belum termasuk kategori profesional sih. Tapi, yang perlu diingat adalah hanya dengan bermodalkan kamera DSLR standar yang saya beli pada bulan Desember 2012, saya setidaknya dapat menorehkan nama saya di antara kolega-kolega yang sudah berpengalaman di bidang fotografi terlebih dahulu.

Jujur, memang ada sedikit rasa kecewa ketika mengetahui kantor hanya meresmikan 4 finalis saja (dari 10 nominasi) yang benar-benar dilombakan untuk khalayak umum. Tak apa lah, toh saya sudah senang dengan nama saya yang tembus 10 besar dari sekian kontestan. Hal ini merupakan pencapaian tersendiri bagi saya dan orang-orang yang saya cintai. Saya masih harus banyak belajar untuk bisa bersaing dengan 4 orang sakti itu di lomba yang akan datang (hehehe).

Semoga Tuhan memberkati!

Jumat, 09 Agustus 2013

Two Faces of Lebaran

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Lebaran merupakan momen yang paling indah bagi saudara-saudara Muslim karena mereka merayakan kemenangan mereka atas godaan dan nafsu duniawi selama satu bulan penuh. Momen Lebaran biasanya ditandai dengan meningkatnya arus mudik menuju "kampung halaman" masing-masing pemudik. Mereka berbondong-bondong kembali ke daerah asalnya untuk bersilaturahmi dengan anggota keluarga dan sanak saudara.

Di Indonesia, momen Lebaran ini biasanya dimanfaatkan juga oleh khalayak non-Muslim untuk "ikut-ikutan" berlibur panjang. Hal ini mengakibatkan perpindahan jumlah penduduk dari daerah modern menuju daerah lain secara signifikan. Saya ambil contoh suasana kota Bandung yang relatif sepi di dua hari Lebaran ini (8 dan 9 Agustus 2013). Suasana yang sepi ini menggambarkan begitu timpangnya perbandingan mobilitas sebuah kota Bandung dibandingkan dengan akhir pekan yang biasanya dipenuhi oleh mobil-mobil berpelat nomor B (asal Jakarta dan sekitarnya).

Kota Bandung sepi pengunjung

Lain halnya dengan suasana Bali, di mana orang malah berlomba-lomba untuk menikmati liburan sambil memboyong keluarga ke tempat-tempat wisata tertentu.

Pantai Kuta menjadi padat

Saya terkadang heran, "Apakah sebegitu semunya pemikiran manusia di jaman yang modern ini?" Oke lah, seandainya ada tiket promo untuk berlibur akhir pekan di libur Lebaran ini. Tapi, bukankah lebih baik jika uang yang digunakan untuk berlibur ini disimpan demi keperluan sehari-hari?

Contoh, saya memiliki beberapa kolega yang sering mengeluh di akhir bulan bahwa mereka sedang menunggu "cendol" yang ditransfer oleh pihak kantor ke rekening masing-masing karyawan. Kebanyakan dari mereka bercerita saat makan siang, "Lagi ngirit nih, belum dapet cendol." Atau mungkin berdalih ketika diajak nonton film paling anyar ke bioskop, "Bokek, Gan. Belum ada yang bening-bening di rekening ane." Dan seterusnya, dan seterusnya, dst.

Menyikapi kejadian ini, saya hanya ingin mengingatkan supaya kita tidak menjadi takabur semata-mata oleh keadaan di sekeliling kita. Berlibur memang perlu, tapi jangan sampai menyiksa diri. Saya merasa mendengar cerita lama seandainya ada di antara kita yang mengeluhkan gaji yang tidak pernah cukup untuk hidup sebulan, tapi selalu cukup untuk dihambur-hamburkan dalam hitungan hari.

Kesannya konyol, bukan?
Hahaha, semoga tidak terjadi di antara teman-teman yang membaca artikel ini ya.

Semoga Tuhan memberkati!

Sumber:

Minggu, 08 Juli 2012

True Story

"Marilah kepada-Ku, hai kamu sekalian yang berlelah dan yang menanggung berat. Aku ini akan memberi sentosa kepadamu. (Matius 11:28)"

Setelah lebih dari 1 tahun merantau, saya merasakan banyak perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Perubahan yang sangat kentara adalah pertumbuhan kemandirian saya. Saya tidaklah lagi semanja dulu ketika tinggal dengan orang tua, saya tidak lagi mengandalkan ayah dan ibu untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya merasa bersyukur bahwa saya telah mengambil suatu keputusan yang tepat untuk bekerja di luar kampung halaman.

Pada awalnya, ayah dan ibu saya tidak setuju ketika saya menerima tawaran pekerjaan di tempat yang letaknya sangat jauh dari rumah ini. Mungkin mereka sadar bahwa saya bukan tipe anak yang mandiri, sehingga timbul kekhawatiran bahwa saya tidak akan bertahan lama dan nantinya merengek untuk kembali pulang atau malah lebih memillih berhenti bekerja daripada merasa tidak nyaman untuk jangka waktu yang lama. Saya akui bahwa pertimbangan mereka tidaklah salah, sebab saya sendiri tidak pernah berjuang sedemikian keras semenjak saya pertama kali menyusun skripsi. Sejak lulus kuliah, saya lebih banyak merenung mengenai masa depan karir saya. Pekerjaan dosen yang saya jalani selama 6 bulan bagi almamater pun tidak menjadi pilihan utama.
Sempat terlintas di benak saya untuk meneruskan studi S2 di bidang yang berbeda dengan gelar sarjana yang telah saya sandang. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah solusi yang cerdas. Bayangkan saja, saya ini masih fresh grad dan minim dengan pengalaman kerja. Seandainya pun saya lulus S2, jam terbang saya belum mumpuni. Belum lagi biaya studi S2 yang orang tua saya harus tangani, rasa-rasanya saya malah menjadi anak yang tidak berbakti kepada mereka. Ha ha ha.

Saya yakin bahwa Tuhan telah merencanakan segala hal yang baik bagi umat-Nya. Segala pergumulan saya telah Dia jawab dengan indah. Pada awal tahun 2011, entah kenapa, saya merasa bahwa ada suatu dorongan dalam diri saya untuk mengajukan beberapa lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan. Beberapa di antara lamaran-lamaran tersebut berakhir tanpa kabar lebih lanjut, ada pula yang menawarkan pekerjaan dengan sistem kerja serabutan, ada juga yang menawarkan gaji besar dengan sistem multi-level, dan banyaaaakkk lagi. Saya begitu bingung tanpa tujuan pasti. Sampai-sampai saya telah mencapai kepada suatu titik jenuh, saking begitu bosannya mengajukan lamaran yang tak sesuai dengan panggilan hati.

Pada suatu saat, akhirnya saya relakan saja harapan-harapan kosong untuk mendambakan pekerjaan yang saya impikan. Ketika itu, saya hanya melayangkan lamaran ke sebuah perusahaan saja. Nama perusahaannya adalah Mitrais. Seperti biasa, untuk tahap pertama dari setiap lamaran, saya mengikuti ujian tertulis. Setelah lolos ujian tertulis, masuk ke tahap wawancara. Nah, biasanya saya selalu gagal di tahap wawancara. Lucunya, kali ini saya lolos di tahap wawancara dan mendapat tawaran pekerjaan sekaligus medical check-up. Saya sempat berpikir, "Apakah perusahaan Mitrais ini benar-benar berbeda dengan perusahaan-perusahaan lainnya?" Hal tersebut sempat saya renungkan selama 5 hari 5 malam dengan larangan orang tua supaya tidak merantau. Saya menimbang-nimbang, "Apakah saya akan mendapatkan tawaran yang lebih baik dan lebih transparan di perusahaan-perusahaan yang sebelumnya saya lamar? Rasa-rasanya tidak serealistis tawaran Mitrais ini."

Pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk "membangkang" kepada orang tua saya dan mengambil tawaran pekerjaan ini. Toh, saya pikir jangka waktu training yang diberikan hanya 3 bulan. Seandainya saya tidak merasa nyaman, saya bisa kembali pulang setelah kontrak training habis. Orang tua dan adik-adik saya tertegun. Mereka tidak menyangka saya akan begitu nekat. Saya hanya dapat meyakinkan mereka bahwa saya akan berusaha semaksimal mungkin dan akan berkunjung pulang setiap 3 bulan sekali. Padahal saya tau hal tersebut tidaklah memungkinkan, ha ha ha.

Saya tanda tangani kontrak tersebut dan langsung dibelikan tiket terbang ke kantor pusat. Setibanya di tempat tujuan, setiap trainee diberikan fasilitas untuk tinggal di sebuah losmen yang disediakan oleh Mitrais. Saya tinggal selama 3 malam saja dan langsung pindah begitu saya mendapatkan kos yang letaknya tidak jauh dari kantor. Betapa kewalahannya saya ketika saya harus membereskan kos saya sendiri: mulai dari menyapu, mengepel, membeli perabotan, air minum galon, dan hal-hal lain yang belum pernah saya jalani sebelumnya.

Dengan uang seadanya, saya jalani 3 bulan training tersebut. Dalam waktu 3 bulan tersebut, saya mencari sebuah jawaban untuk mempertahankan pekerjaan ini atau tidak. Saya akhirnya menyadari bahwa faktor kenyamanan dan atmosfer bekerja di perusahaan ini sangatlah kondusif untuk mengembangkan aspek pribadi karyawan-karyawannya. Sangatlah disayangkan apabila saya harus melepaskan kesempatan emas ini. Alhasil, ketika kontrak untuk jangka waktu 1 tahun kerja itu ditawarkan, langsung saja saya tanda tangani.

Karena saya menyadari bahwa inilah perusahaan yang saya cari selama ini. Inilah jawaban Tuhan atas segala pergumulan yang saya hadapi. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Papa & Mama. Terima kasih, Adik-adikku. Aku akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan!


Inti Cerita:
Ketika kita berharap, yang akan kita temukan hanyalah kekecewaan. Lain halnya ketika kita tidak berharap. Tuhan akan menjawab segala pergumulan dan memberikan jawaban yang terbaik atas segala doa kita. Tuhan tidak akan pernah sekali pun mengecewakan umat-Nya.

Semoga Tuhan memberkati!

Selasa, 29 November 2011

Bad Things, Sad Things

"You never know what you have until you lose it, and once you lose it, you can never get it back."

Ya, itu adalah quote untuk malam ini. I don't know. It's been a while that I had something in my grasp. I'd better say "somebody" rather than something. Only Lord can answer it.

Ah, anyway. Udah berkali-kali gue lewatkan kesempatan terbaik yang pernah ada. Gue udah lewatkan begitu banyak cewek yang ada di hadapan gue. Gue terlalu perfeksionis untuk melewatkan kesempatan manis bersama lawan jenis.

Mereka semua udah "tergila-gila" dengan kapasitas yang bisa gue sediain buat mereka. Segala senyum, segala perhatian, dan kontak mata yang intens itu sudah mereka serahkan untukku. Tapi, tetep aja, gue terlalu bodoh untuk menyadari atau malah terlalu tolol untuk tidak menikmati indahnya dunia.


Ketika mereka dekat denganmu, segala hal akan mereka utamakan untukmu. Waktu, SMS, dan segala pengorbanan lainnya akan mereka kerahkan demi seutas senyuman dari wajah kita. Sangatlah disayangkan, kita cenderung memandang mereka sebelah mata.

"Mereka terlalu kurus. Mereka tidak cantik. Mereka terlalu gemuk. Mereka terlalu muda untuk menjadi kekasihku." Ah, segala hal dan alasan yang terlalu sepele apabila dibandingkan dengan kesungguhan para gadis dan wanita yang menawan ini sodorkan buat gue.

Gue gak pernah sadar betapa cantiknya mereka, begitu indahnya mereka, begitu tulusnya hati mereka. Jari ini sudah kehabisan hitungan untuk mengingat kebaikan mereka. Betapa dinginnya hatiku.


Untuk ke-sekian kalinya, mereka telah muak dikecewakan. Mereka lebih memilih untuk menghentikan aliran kasih mereka untuk gue. Ada perubahan pola: dari sikap yang perhatian (sayang) menjadi sikap dingin (tak peduli) terhadap gue.

Ini semua kesalahan gue.

Seandainya gue memiliki karakter yang lebih kuat, aku akan bermain asmara dengan kalian. Sungguh, segala keterbatasan yang gue miliki ini akan hilang dengan sendirinya. Maafkan gue karena telah merusak tawaran kalian.

Rasa sayang gue baru tumbuh, setelah kalian berhenti peduli. Gue terlambat menerima sinyal kalian. Gue masih terlalu labil untuk menerima kalian.

Tapi, gue janji:
mulai saat ini, gue gak bakal kecewain kalian.

Gue gak peduli siapa kalian, apa agama kalian, atau berapa usia kalian.

Yang penting, gue tau bahwa kalian peduli, sayang, care.
Itu aja. Buat gue udah lebih dari sekedar cukup.

Inti Cerita:
Alangkah baiknya apabila kita bisa mencintai. Ada kalanya lebih baik dicintai daripada mencintai. Sangatlah jarang kita dapat mencintai seseorang dan orang tersebut dapat mencintai kita kembali. Oleh karena itu, kasihilah orang-orang yang mengasihimu. Ingat, kesempatan tidak akan datang dua kali.

Semoga Tuhan memberkati!

Minggu, 06 Maret 2011

TAKEN

Sebuah film yang dibintangi oleh Liam Neeson ini menceritakan betapa kelam dan begitu kejamnya kehidupan manusia. Tuntutan nafkah memaksa manusia untuk menghalalkan segala cara, walau hal tersebut melibatkan human trafficking. Hanya saja, korban human trafficking yang mereka pilih ini ternyata memiliki seorang ayah yang protektif dan rela melakukan apa saja untuk menjaga keselamatan putrinya.


Film ini menceritakan seorang pensiunan CIA, Bryan Mills, yang telah bercerai dengan istri dan putrinya akibat sering bertugas (dinas) sepanjang karirnya. Sang mantan istri, Lenore, kini telah berkeluarga dengan seorang milyarder bernama Stuart. Ketika Kim berusia 17 tahun, Bryan berupaya untuk membangun kembali hubungannya dengan sang anak.

Akan tetapi, tidak semua hal berjalan dengan mulus. Belakangan, Kim malah menuntut kepada Bryan supaya dapat diijinkan untuk bermain ke Eropa. Bryan menyadari betul betapa bahayanya untuk membiarkan seorang remaja berkelana di benua yang tidak ia kenal. Setelah berbagai pertimbangan yang alot, Bryan mengijinkan Kim untuk berangkat. Namun, hal yang Bryan khawatirkan malah menjadi kenyataan. Kim, beserta temannya yang bernama Amanda, telah diculik oleh sekelompok orang untuk kemudian dijual sebagai pelacur.

Dengan berbekal pengalaman sebagai agen CIA, Bryan berusaha untuk menelusuri jejak putrinya dengan segala cara. Ia tak peduli apabila harus membunuh setiap orang yang menghalangi niatnya untuk menemukan Kim. Ia lebih mementingkan keselamatan putrinya daripada mempermasalahkan hidup-matinya orang-orang yang berusaha berbuat jahat kepada Bryan dan Kim.

Secara pribadi, walau film ini lebih banyak menampilkan sisi action daripada sisi drama, saya sangat terkesan dengan setiap kalimat yang diucapkan oleh masing-masing karakter dalam film TAKEN ini. Setidaknya ada lima adegan yang membuat saya terhentak karena nilai yang terkandung dalam adegan-adegan tersebut memang sesuai dengan kehidupan nyata.
  1. Awalnya, Bryan memberikan Kim sebuah hadiah ulang tahun berupa mesin karaoke. Hal tersebut dipandang sebelah mata oleh Kim. Kim malah memilih hadiah mahal berupa seekor kuda dari ayah tirinya, Stuart.


  2. Ketika Bryan menjaga seorang penyanyi, ia bertanya demikian.

    • Bryan: Excuse me, Miss. I've a daughter who wants to be a singer and was wondering if you had any tips.
      (Maaf, Nona. Aku punya anak perempuan yang ingin menjadi penyanyi dan bolehkah saya bertanya apakah Anda punya tips untuk putri saya).

    • Sheerah: Yeah, I do. Tell her to pick another career.
      (Ya, tentu saja. Katakan padanya untuk memilih karir lain).

    Padahal, di akhir konser, Sheerah malah hampir diserang oleh seseorang dengan menggunakan pisau. Apabila Bryan tidak bersikap profesional, bisa saja ia tidak melindungi Sheerah dan membiarkan orang tersebut untuk menusuk.


  3. Ketika Bryan berhasil menemukan orang Albania yang menculik putrinya (Marko Hoxha), ia benar-benar menginterogasi Marko dengan siksaan yang efektif dan tanpa ampun. Setelah memperoleh informasi yang relevan, Bryan malah secara dingin membiarkan Marko tewas tersengat listrik.


  4. Karena informasi dari Marko masih belum cukup, Bryan pergi ke rumah Jean-Claude (rekan lama Bryan yang kini bekerja bagi intelijen Perancis). Jean-Claude mengakui telah menerima suap. Ia kemudian menodong Bryan dengan sebuah pistol supaya Bryan menghentikan pencarian Kim. Namun, ternyata Bryan telah mengeluarkan peluru dari pistol Jean-Claude. Bryan dengan tidak segan menembak istri Jean-Claude supaya ia memberikan alamat Saint-Clair, orang yang melakukan pelelangan pelacur-pelacur.


  5. Ketika Saint-Clair berpikir telah menyingkirkan Bryan, ternyata Bryan masih selamat. Bryan kemudian mulai menginterogerasi Saint-Clair dengan tembakan di sekujur tubuhnya.

    • Saint-Clair: Please understand. It was all business, it wasn't personal.
      (Aku harap kau mengerti. Ini semua hanya bisnis, saya tidak ada maksud pribadi).

    • Bryan: It was all personal to me.
      (Semua hal ini telah menjadikan ini urusan pribadi bagiku).

    Seperti adegan-adegan sebelumnya, Bryan pun tidak kenal ampun. Ia bunuh Saint-Clair hingga peluru di pistolnya habis.


Inti Cerita: Kita harus selalu berhati-hati apabila kita berinteraksi dengan orang/lingkungan yang tidak kita kenal. Kita juga harus berani untuk fight back apabila posisi kita benar-benar terancam. Tidak ada lagi warna abu-abu; yang ada hanyalah warna putih (benar) atau hitam (salah).

Semoga Tuhan memberkati!

Sabtu, 19 Februari 2011

My Special One

Tepatnya 1 bulan yang lalu, gue melakukan sesuatu yang sangat berisiko. Mau tau kenapa? Begini ceritanya.

Gue inget banget, waktu itu hari Kamis tanggal 20 Januari, gue merasakan adanya suatu atmosfer yang berbeda banget sehabis gue bangun pagi. Gue pikir, "Ada apa ya? Apa gue tidur dengan posisi yang salah? Atau... Ah, perasaan gue aja doank kayaknya nih. Toh, emang pagi ini udaranya dingin banget." Gue biarin pikiran aneh itu berlalu. Lalu, gue bersiap-siap aja seperti biasa; sarapan, merapikan diri, dan berangkat ke fakultas. Tapi tetep aja, selagi gue berkendara menuju kampus, there's something bugging on my mind.


Setibanya di Tata Usaha Fakultas, gue menanyakan kepada petugas TU mengenai dokumen-dokumen apa saja yang belum dilengkapi. Setelah diperiksa, beliau memberitahukan tanggal-tanggal penting yang harus gue ingat sebelum wisuda dilaksanakan. "Oke. Terima kasih banyak ya, Pak!" Kemudian, entah kenapa, gue malah enggak langsung pulang sehabis dari TU. Gue seolah-olah "dituntun" berjalan menuju lorong di lantai yang sama; menuju ruangan-ruangan kuliah di lantai 1.

Gue intip satu kelas menuju satu kelas yang lain. Kelas yang pertama gue intip cuma ada 3 peserta kuliah. Kelas yang kedua malah kosong. Tapi, di kelas ketiga, ruang yang terakhir di lorong itu, malah penuh banget. And there she was, sitting on a chair with so much focus in that class.

Gue inget matanya melirik keluar kelas, ngeliat gue ada di luar jendela ruangan. Tapi, entah bener atau enggak, tapi dia sempat tersenyum ketika melihat gue. Jadi aja gue lambaikan tangan ke dia. Ah, that was really ridiculous, mengingat hubungan gue emang gak deket ama tu cewek.

Kemudian, gue tertegun. Gue sempat berpikir, "Apa dia mengharapkan sesuatu? Apa mungkin dia memerlukan kehadiran gue saat itu? Atau mungkin ini hanya kebetulan belaka yang sekedar omong kosong?" Hmm...

Oh, ya. Maaf gue belum sempet singgung sebelumnya. Cewek ini emang agak ambigu. Dalam arti, dia terlalu rendah hati di hadapan orang banyak. Walau secara fisik dia tidak begitu menarik seperti Tae Yeon (SNSD), sifatnya sangatlah manis. Dia tergolong cerdas di antara teman-temannya yang sebaya dan senyumnya cukup mempesona. Gue mulai terpukau ketika hasil kerjanya di semester lalu digunakan untuk presentasi sebuah seminar nasional yang digelar oleh fakultas.


Okay, let's move on. Gue kemudian menunggu kelas itu hingga waktu bubar. Beruntung, saat itu hanya dia satu-satunya peserta kuliah yang cewek. Kalau ada teman-teman cewek lain kan momennya bisa canggung. Gue sapa dia, gue ajak obrol sebentar, dan gue minta nomor handphone dia.

Keesokan malamnya, gue sms dia. Responnya cukup baik. Malah kita berdua sempat bercanda dan berkelakar dengan pertanyaan-pertanyaan ringan. Hanya saja nampaknya dia kurang lihai berkomunikasi. Padahal zodiak dia cukup atraktif; apakah mungkin ada sangkut pautnya dengan shio? Hahaha. Whatever.

Hal tersebut berlangsung cukup konstan untuk 2-3 minggu. Gue kemudian berpikir bahwa posisi gue cukup "aman", jadi gue pikir sah-sah saja seandainya gue ajak dia keluar untuk sekedar memperdekat hubungan.

Namun demikian, ternyata tidak semuanya selancar yang gue kira sebelumnya. Malah akibat ajakan gue ini, dia sekarang malah menjauh dari gue. Entah karena alasan sosial atau alasan psikologis, nampaknya secara mental dia memang masih belum siap untuk menerima perhatian yang lebih dari lawan jenis. Tapi, gue sekarang menyesal. Ya, seandainya waktu itu gue gak minta nomor handphone dia, gue (mungkin) gak bisa mengembangkan pikiran dan hati gue.

Toh, apabila ternyata dia sama-sama merasakan kehangatan yang gue berikan, gue malah bersyukur banget! Hanya saja, sekarang gue enggak bisa melakukan apa-apa, kecuali berharap saja. Semoga Tuhan mengetuk hatinya dan dia dapat membukakan pintu bagi gue lagi. Karena pada kenyataanya, gue belum ngajak dia "jadian" koq.


Selama ini, ada dua hal yang gue tau pasti.
  1. Dia ternyata menyukai tokoh kartun Mickey Mouse.
  2. Baru kali ini gue tertarik dengan cewek tanpa melihat kondisi fisik cewek tersebut haruslah cantik parasnya.
I hope you could understand how I'd felt when the first time I asked for your number. It sure brought me back on the right track, gal!

Inti Cerita:
Ibarat bermain game simulasi di komputer ("The Sims"), perasaan yang dirasakan setiap individu dapat memiliki nilai sosial yang berbeda satu sama lainnya. Ya, mungkin, dalam hal ini ada faktor ketidakberuntungan yang berperan. Hanya saja, ketulusan yang aku tunjukkan kepadamu ini memang belum terwujud.

Semoga Tuhan memberkati!

Selasa, 28 Desember 2010

November 2010

Hmm...

Sebenernya gue juga bingung mau mulai cerita ini dari mana. Coz, banyak banget pengalaman yang gue alami sepanjang 2 bulan ini. Jujur aja, hampir semua peristiwa yang terjadi itu gak pernah gue duga sebelumnya. Anyway, here goes.

Semuanya bermula dari awal November lalu, ketika semua mahasiswa diwajibkan menyelesaikan dokumen Tugas Akhir (baca: skripsi) supaya bisa diuji di bulan Desember. Yaa, awalnya gue agak shock juga sih tentang Tugas Akhir. Gimana enggak pusing tujuh keliling, coba?! Pemberitahuannya aja mendadak sebulan sebelum dikumpulin. Padahal, selama satu semester ini aja gak pernah ada kehadiran & tatap muka di kelas.


Tapi, mau enggak mau, dokumen Tugas Akhir (yang gue biarin terbengkalai dari semester lalu) ini pun notabene bakal jadi penentu langkah gue untuk lulus. Alhasil, hari demi hari, gue "rajut semua benang kusut" dengan bermodalkan Pentium 4, koneksi Internet, Microsoft Word 2007, ama sebuah flash disk mungil nan powerful.

Widih, pokoknya amit-amit deh waktu kerjain dokumen. Ogah banget kalau semua dokumen musnah gara-gara pemadaman listrik. Eh, tetep aja ada aral melintang. Worst case scenario yang terjadi malah gini: komputer sempet gue format gara-gara belum pasang anti-virus. Otomatis komputer gue udah lemot banget setelah "terinfeksi". Let's format this for several hours, ladies and gentlemen. Ooohhh, God !!!

Setiap langkah pahit gue jalanin dari waktu ke waktu. Mulai dari nge-format komputer (ternyata gak semua data bisa di-backup waktu itu, padahal dah dicobain transfer ke hard-disk eksternal), tidur hampir cuma 3-4 jam sehari, kadang lupa sarapan, & bolak-balik kampus ketemu ama dosen pembimbing Tugas Akhir. Semua itu demi cinta: cinta supaya cepet-cepet lulus & irit biaya kuliah, katanya. Jadi inget lagu Warteg Boyz yang judulnya "Okelah Kalo Begitu". Hahaha.


That's not all, though. Ibarat yin-yang, dia punya sisi gelap dan sisi terang. Di satu sisi, gue merasa ini menjadi beban yang bertubi-tubi. Tapi, di sisi yang terang, gue juga merasa semua peristiwa ini bakal berubah menjadi sebuah good & happy ending. Setelah sekian hari, sidang Tugas Akhir pun akhirnya dilaksanakan. Hmm, situasinya SUPER canggung: slide presentasi yang udah gue buat sedemikian cantik ini pun sangat jarang dilirik (penguji malah periksa dokumen waktu sidang), beberapa pertanyaan yang dilontarkan penguji kadang malah melenceng jauh dari topik, tulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar juga dikritik, dan sebagainya, dan seterusnya, dan lain-lain. Haduuuhhh, ampun deh; gue udah bendera putih.

Di penghujung sidang, gue diminta keluar sebentar. Beliau-beliau akan mendiskusikan nasib gue: LULUS sidang Tugas Akhir ("Selamat, Nak!") atau GAGAL TOTAL ("Silahkan ulang di semester depan ya, Nak!"). 3 menit berlalu dan gue dipanggil masuk ke dalam ruang sidang. And the declared news was...

"Selamat! Anda lulus dengan revisi!" (fiuuuhhh... LEGAAA...)


Sekarang tinggal revisi deh. Tapi... liburan Natal & Tahun Baru dulu aja lah yaa... Hehe...

Inti Cerita:
Thomas Jefferson pernah berkata, "Never put off till tomorrow what you can do today." Nasihat beliau ini memang benar adanya. Kita (seharusnya) memang tidak perlu menunda pekerjaan apabila dapat dibereskan hari ini. Tapi, dasar manusia, selalu saja ada sifat huruf M besar ini (baca: malas).

Semoga Tuhan memberkati!