Tampilkan postingan dengan label Pesan dari Kebonjati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan dari Kebonjati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2010

Mengapa Saya Harus Berdoa...

“Mengapa saya harus berdoa kalau Tuhan sudah tahu segalanya?”
Adalah sebuah pertanyaan yang menyangkut pemahaman kita mengenai doa. Ada cukup banyak orang yang bertanya dan berpendapat demikian. Sehingga tidak sedikit orang kristen yang enggan menyediakan waktu khususnya untuk berdoa kepada Allah Bapanya. Oleh karena pertanyaan tersebut berhubungan erat dengan pemahaman mengenai doa, maka mau tidak mau dalam pembahasannya kita harus berbicara mengenai hakikat doa itu sendiri.


Apakah tujuan utama kita berdoa hanyalah untuk mendapatkan segala sesuatu dari Allah? Berita Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah mendengar doa kita dan sebagai tanggapanNya Dia memberi apa yang kita butuhkan (Matius 6:5-13; 7:7-11). Memberikan apa yang kita butuhkan tidak sama dengan apa yang menjadi keinginan kita. Allah pasti memberikan apa yang terbaik bagi kita sebab Ia sangat mengenal dan mengasihi kita. Tetapi benarkah itu alasan utama Tuhan Yesus mengajarkan kita sebuah doa (Doa Bapa Kami) dan Rasul Paulus menasihatkan kita untuk tetap berdoa (I Tesalonika 5:17; Filipi 4:6)?

George MacDonald menyodorkan dasar pemikirannya mengenai doa sebagai berikut: “Apa yang akan terjadi jika Allah tahu bahwa doa adalah segala sesuatu yang paling kita butuhkan? Apa yang akan terjadi jika tujuan utama dari Doa Bapa Kami adalah untuk menyediakan kebutuhan kita yang tiada berakhir akan Tuhan?

Rasa lapar dapat menggiring anak yang hilang untuk pulang ke rumah (dalam perumpamaan anak yang hilang). Barangkali ia dapat segera makan, tetapi ia lebih membutuhkan orangtuanya dari pada hidangan makan malam. Persekutuan dengan Allah merupakan kebutuhan jiwa yang melebihi segala kebutuhan lainnya. Doa adalah awal persekutuan tersebut; awal komunikasi dengan Allah, suatu kebersamaan dengan Allah merupakan tujuan tunggal doa; dan awal dari kehidupan doa itu sendiri.

Kita harus meminta supaya mendapatkan. Namun apa yang menurut kita seharusnya kita terima, misalnya sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan hidup, sebenarnya bukan cara Allah membuat kita berdoa. Allah dapat memberi kita segala sesuatu tanpa adanya doa kita. Namun agar anak-anakNya sujud ke hadiratNya.”


Dari ucapan George MacDonald ini kita dapat mengatakan bahwa Allah sebenarnya dapat saja memberikan apa yang kita butuhkan tanpa doa kita. Tetapi Allah mengajarkan dan meminta kita berdoa kepadaNya karena Allah ingin agar kita datang kepadaNya. Dia menginginkan persekutuan dengan kita. Tujuan doa yang Yesus ajarkan bukan untuk membuat kita duduk dan meminta. Dia ingin kita mengenalNya dan sujud menyembahNya. Doa adalah salah satu cara yang dipakai Allah untuk menyempurnakan tujuanNya tersebut.

Sewaktu kecil saya sering bermain dengan ayah saya. Ayah saya menggenggam beberapa keping uang logam di dalam tangannya dan mengizinkan saya untuk berusaha membuka jari-jari tangannya untuk mengambil uang logam tersebut. Saya duduk dipangkuannya dan berusaha mendapatkan uang tersebut. Begitu saya berhasil mendapatkan uang tersebut saya berteriak dengan gembira dan melompat turun untuk menunjukkan dengan bangga apa yang telah saya dapatkan. Ayah saya tampak senang dapat membuat anaknya tertawa dan bermain sambil duduk dipangkuannya. Uang logam itu sendiri tidak terlalu penting melainkan rasa kebersamaan dan keintiman hubungan yang terjalin antara bapak dengan anaknya.

Ketika berdoa sering kali pusat perhatian kita tertuju pada hadiah (berkat) di tangan Tuhan dan mengabaikan tangan Tuhan itu sendiri. Kita berdoa dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh pekerjaan baru, kebutuhan hidup sehari-hari, keselamatan dalam perjalanan atau untuk pemulihan kesehatan dan lain sebagainya. Ketika kita memperoleh berkat Tuhan tersebut kita menjadi sangat senang.

Tetapi selanjutnya kita hanya sedikit berbicara kepada Allah di dalam doa. Jika kita hanya mengejar hal-hal tersebut maka itu berarti tangan Tuhan hanya melayani kita pada saat kita sakit, membutuhkan makanan, mencari pekerjaan, mencari pasangan hidup atau menolong kita melewati masa kritis. Setelah segala kebutuhan itu terpenuhi, tangan Tuhan itu sendiri tidak ada artinya bagi kita.

Sikap seperti ini memperlihatkan bahwa kita menganggap rendah Tuhan. Ia kita tempatkan hanya sebagai pesuruh kita. Ia kita anggap sebagai pembantu yang harus tahu segala kemauan tuannya dan kita adalah tuanNYa. Suatu bentuk keegoisan serta kesombongan dan bukannya penyangkalan diri dihadapan Tuhan.

Pada saat Allah dengan anugerahNya memberikan berkat bagi anak-anakNya, Dia menawarkan sesuatu yang lebih dari itu. Allah menawarkan diriNya sendiri. Mereka yang sudah cukup puas hanya dengan pernik-pernik hiasan indah di tangan Allah akan kehilangan berkat terbaik dari doa, yaitu berkat untuk dapat berkomunikasi dan berhubungan erat dengan Allah pencipta semesta alam dan yang telah berkurban untuk penebusan segala dosa manusia.

Dari pemahaman tersebut kita dapat melihat beberapa hal yang merupakan hakikat sebuah doa :

  1. Doa adalah sebuah bentuk ekspresi hubungan kita dengan Tuhan. Suatu sarana berkomunikasi untuk menjalin keintiman hubungan dengan Allah.

  2. Doa dapat juga dikatakan sebagai percakapan dari hati ke hati antara bapak dan anak yang saling mengasihi.

  3. Doa adalah sebuah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Suatu pengakuan bahwa tidak ada kehidupan di luar pemeliharaanNya. Dengan demikian, doa menjadi sarana pengakuan bahwa hidup dan kehidupan kita sangat bergantung kepada Allah.
    Sehingga, doa bukanlah alat bagi kita untuk meminta sesuatu kepada Allah apalagi memaksakan kehendak kita kepadaNya. Doa adalah alat untuk berkomunikasi dan berhubungan erat dengan Allah. Di dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan yang erat dengan Allah itu kita dapat mengungkapkan apa yang menjadi isi hati, pergumulan dan kebutuhan kita tanpa rasa takut; tetapi tetap dengan sikap hormat dan percaya serta berserah penuh pada bimbingan dan pertolonganNya.

Berdoa kepada Allah sangat perlu bagi kesehatan rohani kita. Doa yang sungguh-sungguh lahir dari hati yang paling dalam, yang bersumber dari ketiga hal tersebut di atas sangat diperlukan bagi jiwa seperti air bagi kebun. Tanpa itu tidak akan ada pertumbuhan rohani. Dalam hubungan yang intim seperti inilah kita memperoleh kekuatan yang diperbarui, kebijaksanaan yang sesungguhnya dan sukacita yang dalam dalam menjalani hidup; yang tidak diukur dari jumlah materi yang dimiliki.
Apabila saudara sudah memahami apa yang dimaksudkan dengan sebuah doa dan apa yang menjadi tujuan utama mengapa Allah mengajarkan kita berdoa masihkah perlu bertanya, “mengapa saya harus berdoa kalau Tuhan sudah tahu segalanya?”

Amin.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=69:mengapa-saya-harus-berdoa&catid=44:pengembangan-diri&Itemid=80

Minggu, 14 Februari 2010

Tegar Mekar Di Dalam Kesukaran

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita.Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibrani 12: 11)

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Pada masa pendudukan Jepang sebuah pulau kecil yang terletak dekat Lampung dan Bengkulu yang bernama pulau Enggano menjadi tempat penyimpanan persediaan makanan bagi tentara Jepang. Ketika tentara Jepang menyerah semua isi gudang tersebut ditinggalkan bagi penduduk setempat. Ternyata isi gudang itu luar biasa banyaknya. Pafdahal jumlah penduduk Enggano pada waktu itu sekitar limaratus orang. Maka dibagilah semua isi gudang itu secara merata kepada semua penduduk. Tiap jiwa termasuk bayi mendapat jatah 4 karung beras, 1 peti corned beef, 1 peti ikan sarden, 10 kaleng besar biskuit dan banyak jenis makanan lainnya dalam peti yang besar. Dengan persediaan makanan yang begitu banyak di tiap rumah, orang tidak merasa perlu lagi bersawah dan berkebun. Tiap hari mereka hanya bersantai-santai..

Dua tahun kemudian persediaan makanan itu mulai habis. Lalu mereka mulai menggarap sawah lagi. Tetapi apa yang terjadi dengan sawah mereka? Sawah dan kebun mereka telah penuh dengan alang-alang. Diperlukan beberapa bulan untuk mengolah tanah itu. Ketika mereka bisa menanam keadaan sudah terlambat. Persediaan makanan sudah betul-betul habis. Untuk menunggu panen diperlukan waktu setengah tahun. Akibatnya mereka kelaparan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Penduduk pulau ini mendapat begitu banyak kemudahan. Mereka tidak perlu bekerja karena ada persediaan makanan untuk sekian tahun. Kemudahan membuat orang jadi terlena.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Pada hakikatnya setiap orang cemnderung memilih yang mudah. Mudah berarti tidak memerlukan tenaga dan pikiran dalam mengerjakannya. Mudah berarti tidak mengalami kesukaran. Dan kita lebih senang berada dalam keadaan yang mudah. Oleh sebab itu jangan heran apabila masalah korupsi, penipuan, pemalsuan ijazah dan lain sebagainya sulit diberantas; karena memang orang suka yang serba mudah, gampang dan cepat. Jarang orang mau menghadapi tantangan dan kesukaran.

Seorang ahli ilmu sosial budaya yang bernama Arnold Toynbee mengatakan bahwa dari sejak jaman purbakala hingga jaman moderen ini kelompok masyarakat yang lebih cepat maju dan berkembang adalah kelompok masyarakat pendatang. Para pendatang ini terbuka pikirannya dan lebih siap menghadapi ketidakpastian, perubahan, tantangan dan kesukaran sekalipun. Mereka datang dengan tangan kosong tapi hati penuh dengan idealisme. Sedangkan penduduk asli setempat sudah mapan dengan segala kemudahan sehingga tidak mempunyai dorongan untuk banting tulang seperti pendatang ini. Karena itu para pendatang umumnya lebih maju karena mereka lebih ulet, lebih tekun, lebih hemat dan lebih rajin.


Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Alkitab kita memberi kesaksian bahwa walaupun Allah sangat mengasihi umatNya namun Allah tidak memberi kemudahan melainkan mereka harus berjuang melawan krisis hidup yang mereka alami. Dalam peristiwa keluarnya umat Allah dari Mesir menuju tanah Kanaan hal ini tampak jelas. Sebenarnya jarak yang harus ditempauh dari Mesir ke Israel jaraknya hanya 250 Km atau kira-kira seperti dari Bandung ke Purwokerto. Secra wajar perjalanan ini dapat ditempuh dalam 40 hari; tetapi Allah membawa mereka ke jalan yang lebih sukar dan banyak tantangan. Sehingga perjalanan itu memakan waktu 40 tahun. Ini bukan karena Allah tidak mengasihi mereka. Tetapi justru karena Allah mengasihi mereka maka Allah membawa mereka ke tempat seperti itu agar bangsa Israel bertumbuh menjadi bangsa yang tangguh. Dan sampai sekarang bangsa Israel adalah bangsa yang tangguh.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Ibrani 12: 5-11 yang kita baca bersama memperlihatkan kepada kita prinsip-prinsip dasar mengapa Allah mendidik kita, bagaimana Allah mendidik kita dan untuk apa Allah mendidik kita. Dari perikop bacaan ini setidaknya dapat dilihat ada enam hal pokok yang harus kita perhatikan, yaitu:

  1. Allah digambarkan sebagai orangtua dan kita adalah anak-anak yang dikasihiNya.

  2. Oleh karena kita adalah anak-anak yang dikasihiNya maka Allah mendidik kita.

  3. Cara mendidik yang baik bukanlah dengan memberi kemudahan tetapi dengan memberi teguran, peringatan, bimbingan dan arahan agar mampu mengatasi persoalan.

  4. Oleh karena cara mendidik yang baik adalah dengan memberikan kemampuan dalam menghadapi persolan agar menjadi manusia yang tangguh maka oleh sebab itu Allah memberikan teguran, bimbingan dan arahannya.
    Banyak orang berpikir kalau Allah mengasihi mereka maka mereka akan selalu berhasil, tidak pernah mengalami kesukaran dan segala apa yang kita minta akan diberikan. Kalau Allah berbuat seperti ini maka kita akan menjadi manusia-manusia kristen yang suka merengek, tidak tahan uji dan cepat menyerah, takut menghadapi persoalan dan kesulitan padahal hidup ini terdiri dari pelbagai kesulitan: pelajaran, pekerjaan, pergaulan, pernikahan, kesehatan, keuangan dan sebagainya. Karena Allah mengasihi kita dan ingin mendidik kita agar menjadi manusia yang tangguh maka Ia tidak membuat kita lepas dari pergumulan, kesukaran, tantangan, krisis. Dan kerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup setiap hari. Dan dalam menjalani itu semua Allah memberikan teguran, peringatan kalau kita berbuat salah baik melalui firmanNya atau melalui orang lain.

  5. Peringatan, teguran, ajaran, didikan Allah memang kadang terasa tidak menyenangkan. Sebab pada prinsipnya siapa yang mau harus kerja keras, siapa yang mau diperingatkan Allah melalui orang lain firmanNya. Sebab tidak sedikit orang yang marah kalau kita tunjukkan kesalahanya dan tidak sedikit juga orang yang menutup Alkitabnya klau apa yang dia baca menunjukkan kesalahan dan kelemahannya.

  6. Tetapi pengajaran Allah ini yang kadang terasa tidak menyenangkan dalam jangka panjang memberi manfat yang baik bagi diri kita.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Di tengah kesulitan dan krisis moneter seperti sekarang ini ada banyak orang yang berpendapat bahwa ini adalah hukuman Tuhan. Sebagai umat Allah kita jangan berpendapat seperti ini. Sebab kalau kita ikut-ikutan berpikir bahwa ini adalah hukuman Tuhan kita akan berpikir pasif. Tidak mau mencari jalan keluarnya. Dan yang perlu kita ingat bahwa Tuhan tidak pernah mengutuk manusia. Kalaupun kita mengalami kesulitan seperti sekarang ini marilah kita berpikir kalau saat ini adalah saat dimana Tuhan sedang mendidik kita.

Dalam situasi sekarang ini ada juga orang yang putus asa. Oleh sebab itulah kita mendengar banyak terjadi penjarahan dimana-dimana akhir-akhir ini. Tentunya ini bukan sikap yang terpuji. Berputus asa bukanlah sikap yang tepat untuk keluar dari persoalan yang sedang kita hadapi.

Saudara, sebuah tantangan kehidupan dapat menjadi batu loncatan untuk maju atau batu penghalang. Dan itu tergantung kepada kita bagaimana melihat setiap kesukaran yang kita alami. Allah mendidik bangsa Israel selama 40 tahun agar mereka menjadi manusia tangguh yang dapat melihat setiap tantangan, setiap persoalan, setiap kesulitan adalah kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih tangguh, lebih maju, lebih baik dan lebih berhasil dari sebelumnya.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Janganlah kita kalah dalam menghadapi situasi kehidupan yang semakin sulit ini. Jangan kita menyerah terhadap krisis. Tetapi jadikanlah krisis eknomi dan kehidupan lainnya yang sedang kita hadapi sebagai kesempatan dan peluang untuk memperbaiki diri, memperbaiki kehidupan keluarga. Memperbaiki kualitas kerja, memperbaiki kepribadian kita agar lebih dewasa.

Amin.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=68:tegar-mekar-di-dalam-kesukaran&catid=44:pengembangan-diri&Itemid=80

Kamis, 11 Februari 2010

Agar Memahami Rencana-Nya

"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8–9)

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Sangat mudah bagi kita untuk berterima kasih kepada Tuhan apabila Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Tetapi Tuhan tidak selalu melakukan apa yang kita inginkan. Ada banyak hal yang kita inginkan tetapi Tuhan memberikannya. Dalam hal inilah, pergumulan untuk mencari kehendak Tuhan dan memahami rencana Tuhan bagi kehidupan kita sangat penting. Pergumulan untuk memahami kehendak dan rencana Allah akan terus berlangsung sepanjang kehidupan kita.

Godaan yang sering muncul dalam diri kita ialah menyamakan kehendak kita, ambisi kita, nafsu kita sebagai kehendak Tuhan. Padahal dalam pembacaan kita dari Yesaya 55:8-9, dikatakan bahwa “sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu...seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu."


Tetapi yang harus kita yakini dengan sungguh-sungguh ialah bahwa Tuhan tidak merencanakan kehidupan yang buruk bagi kita. Ia merancangkan hari depan yang penuh damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan hari depan yang penuh pengharapan (Yeremia 29:11). Damai sejahtera bukan berarti tidak ada kesulitan, tidak ada tantangan, tidak ada kedukaan, tidak ada pergumulan. Damai sejahtera berarti di dalam diri kita terdapat kekuatan yang berasal dari Tuhan yang akan memampukan kita memasuki hari-hari kehidupan kita dengan kuat dan tegar. Kita memasuki masa depan kita tanpa ragu. Kita memasuki hari depan kita tanpa kekuatiran yang berlebihan yang dapat membuat kita putus asa. Damai sejahtera berarti juga siap menerima kenyataan apabila apa yang kita rencanakan ternyata tidak berjalan sesuai dengan kehendak kita.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Dalam Yesaya 32:17, dikatakan bahwa ciri apabila rancangan dan tindakan kita itu benar maka ia akan memberikan damai sejahtera, ketenangan dan ketentraman baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Hal ini dapat menjadi tolok ukur bagi kita. Apabila yang kita lakukan itu memberikan damai, ketenangan dan ketentraman bagi kita dan orang lain, maka itu sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi jika sebaliknya, apa yang kita lakukan itu justru mendatangkan kegelisahan, kesedihan, ketakutan dan kerugian bagi orang lain, maka itu berarti apa yang kita lakukan bertolak belakang dengan rencana dan kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Saudara, dalam hidup kita juga pasti pernah mengalami dan merasakan mengapa ada kejadian-kejadian dalam hidup yang tidak menyenangkan. Ketika kita mengalami hal itu, kita jangan cepat-cepat mengatakan dan menilai itu adalah kehendak Tuhan. Sebab bisa saja itu adalah kesalahan kita. Kita ceroboh dalam bertindak. Kita kurang matang dalam merencanakan kegiatan kita.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Dalam hidup kita sebagai manusia kadang memang ada hal yang tidak dapat kita mengerti mengapa itu dapat terjadi dalam hidup kita. Kita merencanakan seperti ini tetapi yang terjadi sebaliknya. Untuk hal ini mungkin kita dapat belajar dari keyakinan iman dalam Pengkhotbah 3:11, ”Ia (Tuhan) membuat segala sesuatu indah pada waktunya…”.

Pergumulan untuk mencari dan mengetahui kehendak Allah adalah pergumulan yang harus kita lakukan seumur hidup kita. Setiap saat kita harus menguji tindakan kita. Setiap saat kita harus yakin dalam iman kita bahwa apabila yang kita rencanakan tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Kita yakin bahwa Tuhan sedang mempersiapkan hal yang lain. Dan Tuhan akan menyertakan keindahan rencanaNya pada waktu yang tepat.

Untuk itulah diperlukan kedekatan hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan. Membawa segala rencana-rencana kehidupan kita kepada Tuhan. Agar rencana itu berjalan sesuai dengan harapan kita; tidak tinggi hati dan tidak melupakan Tuhan. Dan sebaliknya, jika apa yang kita rencanakan itu tidak berjalan seperti yang kita rencanakan, kita tetap mempunyai ketabahan, ketekunan, ketegaran dan semangat hidup yang tetap tinggi. Sebab kita yakin bahwa pada saatnya nanti Tuhan akan memperlihatkan keindahan rencanaNya di balik kegagalan atau kedukaan yang pernah kita alami.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=67:agar-memahami-rencana-nya&catid=41:renungan&Itemid=76

Senin, 18 Januari 2010

4 Kunci Sukses Berkeluarga

Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.

Kenapa kita ingin menikah? Jawaban atas pertanyaan ini bisa amat beragam. Antara lain:

  • “Saya ingin berbagi kehidupan dengan orang yang saya cintai dan mencintai saya.”

  • “Saya ingin mendapatkan sesuatu yang dulu tidak pernah saya dapatkan dari keluarga saya.”

  • “Saya tidak ingin kesepian.”

  • “Saya tidak ingin menjalani kehidupan ini seorang diri.”

  • “Saya ingin ada yang merawat dan menemani kalau saya tua nanti.”

Saudara, jawaban-jawaban tersebut terdengar sangat logis dan tidak salah.
Dengan menikah kita memang bisa mendapat berbagai hal seperti yang disebutkan oleh berbagai jawaban itu: tempat berbagi, teman seiring dalam hidup, orang yang akan menjaga dan merawat kita.

Akan tetapi tidak semua jawaban-jawaban itu tepat dan lengkap. Jawaban-jawaban itu menyiratkan egoisme dan egosentrisme, hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri, harapan dan keinginan pribadi serta apa yang ingin kita dapatkan.
Padahal, dalam sebuah pernikahan tidak selalu berisi apa yang bisa kita dapatkan dari pasangan kita. Pernikahan juga berisi apa yang bisa kita berikan kepada pasangan kita.


Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
PERNIKAHAN YANG HANYA BERFOKUS PADA APA YANG INGIN KITA DAPATKAN, AKAN MENJADI SEBUAH PERNIKAHAN YANG PENUH TUNTUTAN.
TIDAK SEIMBANG. TIDAK FAIR.
HANYA AKAN MELAHIRKAN SEBUAH PERNIKAHAN YANG RAPUH DAN KEROPOS.


Ibu Theresa pernah berkata, “Bagikan kasih ke mana saja Anda pergi; pertama di rumah Anda sendiri.
Bagaimana hari-hari kehidupan kita jika kita tidak hidup di dalam kasih? Mungkin Anda dan saya perlu merenungkan hal berikut ini:

  • Sunday (Minggu) menjadi Sadday (hari penuh kesedihan)

  • Monday (Senin) menjadi Moanday (hari penuh keluhan/rintihan)

  • Tuesday (Selasa) menjadi Tearsday (Hari penuh air mata)

  • Wednesday (Rabu) menjadi Wasterday (Hari yang penuh kesia-siaan)

  • Thursday (Kamis) menjadi Thirstday (hari haus akan cinta)

  • Friday (Jumat) menjadi Fightday (Hari perkelahian)

  • Saturday (Sabtu) menjadi Shatterday (Hari penuh kehancuran hati)

Dari bacaan kita, I Korintus 11:11–12 kita dapat melihat beberapa pokok penting yang perlu kita pahami dalam kaitannya dengan hidup pernikahan dan membangun sebuah keluarga.
Pernikahan adalah relasi dua arah dan seimbang.
Kedudukan suami tidak lebih tinggi daripada istri. Begitu juga kedudukan istri tidak lebih tinggi daripada suami.
Yang satu tidak lengkap tanpa yang lain.

Saudara yang terkasih,
Dari bacaan kita setidaknya ada 4 hal yang dapat kita lihat dan kembangkan sebagai kunci sukses dalam membangun sebuah pernikahan.

  1. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah komitmen pada sebuah hubungan yang permanent.
    Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah komitmen. Hidup pernikahan dibangun di atas serangkaian komitmen antara suami dan istri. Komitmen untuk saling mengasihi, saling menghargai, saling mengingatkan, saling mendoakan dan komitmen untuk menjalani kehidupan pernikahan sampai maut memisahkan. Oleh sebab itu, Yesus pernah berkata, “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah jangan dipisahkan oleh manusia.”
    Komitmen untuk mengasihi dan mencintai harus menjadi dasar hidup pernikahan.
    Komitmen menjadikan rumah tangga kita semakin hari semakin kokoh dan semakin terasa menyenangkan.


  2. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah panggilan untuk melayani dengan penuh kesetiaan.
    Pernikahan adalah sebuah panggilan bagi masing-masing, suami dan istri, untuk melakukan yang terbaik bagi pasangannya. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga yang di dalamnya satu sama lainnya terdorong untuk saling melayani dan saling memberi.


  3. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah proses pemurnian.
    Pernikahn adalah sebuah perpaduan dua pribadi, di mana masing-masing pribadi, suami dan istri, dengan kesadaran penuh memberikan sebagian ruang dalam hidupnya bagi pasangannya. Sehingga tidak ada lagi aku atau kamu. Yang ada adalah kita. Bukan kepentinganmu atau kepentinganku, yang ada adalah kepentingan kita bersama.


  4. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah anugerah.
    Tidak ada orang yang tidak senang menerima hadiah. Hadiah akan selalu disambut dengan sukacita dan rasa syukur sesederhana apa pun bentuknya.
    Dengan memandang pernikahan sebagai sebuah hadiah, kita akan menjalaninya dengan penuh sukacita dan penuh rasa syukur, bukan sebagai beban apalagi sebagai penjara.


Saudara yang terkasih,
Pertunangan adalah suatu masa yang lebih mendalam dari sekedar berpacaran.
Dalam masa itu, keduanya sudah tiba pada tahap perencanaan yang lebih matang untuk membentuk dan memasuki kehidupan berkeluarga.
Memang, tidak semua orang mempunyai pandangan yang sama mengenai makna sebuah pertunangan. Ada yang menganggap pertunangan itu sama resminya dengan perkawinan sehingga tidak boleh diputuskan.
Ada juga yang menganggap bahwa pertunangan adalah tahap yang lebih serius bagi pasangan tersebut untuk menentukan apakah keduanya benar-benar memutuskan untuk menikah atau tidak. Oleh sebab itu, dalam pertunangan pemutusan hubungan masih dimungkinkan.

Tetapi apa pun juga pendapat orang, pertunagan tetap tidak sama dengan perkawinan.
Karena itu, masih ada batas-batas yang tidak boleh dilakukan oleh pasangan yang bertunangan tersebut seperti layaknya seorang suami-istri.
Oleh sebab itu, masa pertunangan sangat baik apabila diisi dengan pengenalan yang lebih jauh terhadap pasangannya.
Setiap pribadi harus dengan penuh hormat menjaga kesucian pasangannya. Selain itu, mereka ini harus mulai membersamakan visi kehidupan keluarga yang akan mereka bentuk nantinya.

Masa pertunangan yang berhasil dan menjadi berkat bagi seluruh anggota keluarga ialah apabila pasangan yang bertunangan ini menjadikan masa pertunangan mereka sebagai masa dimana mereka mempersiapkan diri membentuk sebuah keluarga yang dilandasi oleh sebuah komitmen untuk hubungan yang permanen, panggilan untuk melayani dengan penuh kesetiaan, sebagai sebuah proses pemurnian dan sebagai sebuah anugerah dari Tuhan untuk kalian.
Jika demikian, niscaya keluarga yang sedang kalian persiapkan untuk dibentuk dalam masa pertunangan ini akan menjadi sebuah keluarga yang penuh damai sejahtera. Keluarga yang akan mematangkan kepribadian dan rohani kalian.
Tuhan memberkati.

Amin.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=55:4-kunci-sukses-berkeluarga&catid=38:keluarga&Itemid=74

Rabu, 13 Januari 2010

Hai Pemuda... Lakukanlah Tugas Panggianmu..!!!

“Kehidupan yang tidak memberikan pengaruh positif bagi kehidupan orang lain adalah kehidupan yang tidak layak untuk dijalani.”

Kata-kata bijak ini hendak mengajak dan mendorong kita untuk mempunyai hidup dan kehidupan yang berarti bagi sesama. Sebuah kehidupan yang di dalamnya terpancar suatu kerinduan, tekad dan kerja keras untuk melaksanakan panggilan rohaninya agar memberikan sesuatu yang positi bagi kehidupan bersama.

Dalam II Timotius 4:16, Paulus menasihatkan dan mendorong Timotius, yang berusia muda saat itu, agar memperlihatkan suatu pola hidup yang berkualitas sehingga tidak ada seorangpun menganggap ia rendah karena ia muda.

Paulus dalam Roma 12:2, menyatakan agar kita jangan serupa dengan dunia ini; tetapi kita diutus oleh Kristus ke dalam dunia untuk menjadi saksiNya yang hidup. Oleh sebab itu, sebagai pemuda-pemudi Kristen, kita tidak memisahkan diri dari dunia tetapi mengikutsertakan diri dalam usaha Allah untuk mendatangkan Syalom, damai sejahtera. Lingkungan kehidupan kita senantiasa berubah. Perubahan itu memberikan tantangan pelayanan dan kesaksian yang baru kepada kita.

Ruang lingkup tugas panggilan pemuda Kristen dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Tugas panggilan yang berhubungan dengan Tuhan, misalnya:

    • Penyerahan dan persembahan diri

    • Komitmen pelayanan

    • Pertumbuhan rohani

    • Menjaga dengan baik kualitas hubungan pribadinya dengan Tuhan


  2. Yang berhubungan dengan gereja:

    • Mengembangkan rasa memiliki dan kebanggaan yang positif terhadap gerejanya

    • Partisipasi dalam kegiatan jemaat

    • Menjadi batu hidup bagi pertumbuhan gereja


  3. Yang berhubungan dengan dirinya sendiri:

    • Pengembangan diri

    • Pengembangan talenta

    • Penghargaan terhadap hidup

    • Gambaran diri yang sehat

    • Menjaga kesehatan jiwa dan pikiran


  4. Yang berhubungan dengan kerja/karir:

    • Pemahaman tentang kerja: Kerja bukan kutuk, tetapi bagian hidup manusia

    • Kejujuran, keteladanan, prestasi kerja


  5. Yang berhubungan dengan keluarga:

    • Turut menciptakan suasana rumah yang nyaman bagi setiap anggota keluarga

    • Berperan seperti embun yang menyegarkan dan menyehatkan kehidupan setiap anggota keluarga

    • Berperan sebagai minyak yang menguduskan dan menuntun setiap anggota keluarga bertumbuh dalam kekudusan di hadapan Tuhan


  6. Yang berhubungan dengan sesama manusia:

    • Pandangan positif pada sesama

    • Mengembangkan empati dan simpati kepada orang lain

    • Melihat sesama sebagai manusia yang juga dicintai oleh Tuhan

    • Mengambangkan kasih dan murah hati terhadap sesama


Dengan demikian, panggilan hidup pemuda tidak terbatas pada hal-hal yang sifatnya rohani. Tetapi juga yang menyangkut aspek hubungannya dengan sesama dan dirinya sendiri. Keseimbangan hidup panggilan itu melahirkan suatu pribadi yang kuat. Pribadi yang tangguh. Pribadi yang siap memberikan hidupnya sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan bagi Tuhan.

Yesus berkata, “Kamu adalah garam dan terang dunia” (Mat.5:13). Orang Kristen, termasuk orang muda di dalamnya, harus asin. Ia harus berbeda dengan dunia. Kalau ia menjadi tawar (sama dengan dunia), ia tidak berguna. Tetapi garam tidak berguna juga kalau tidak dikeluarkan dari lemari. Garam perlu dicampur dengan makanan. Begitu juga orang Kristen, tidak berguna kalau ia tidak mau berhubungan dan membangun suasana kehidupan yang lebih baik dengan sesamanya. Biarlah segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan itu semua kiranya mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan.

Kunci keberhasilan agar kita dapat menjalankan tugas panggilan tersebut adalah Spiritualitas dan Integritas.

Apakah yang dimaksudkan dengan spiritualitas?
Spiritualitas adalah kehalusan perasaan tentang Allah yang berbuah kualitas kehidupan yang sebagaimana diperlihatkan oleh Yesus. Kualitas hidup itu terwujud dalam hubungannya yang agung dengan Allah, hubungannya yang luhur dengan sesama dan hubungannya yang mulia dengan dirinya sendiri. “Bagiku tidak ada yang lebih menggembirakan selain bertemu dengan Allah lalu sesudah itu memantulkan cahaya wajahNya kepada orang lain” demikian kata Beethoven. Sikap kita terhadap diri sendiri, sesama dan Tuhan mencerminkan kualitas spiritualitas yang ada dalam diri kita.

Sedangkan integritas memperlihatkan menyatunya antara tindakan dengan perkataan, menyatunya perbuatan dengan apa yang menjadi dasar keyakinan imannya. Dengan demikian, maka kita dapat memperlihatkan peran dan tugas panggilan kita dengan baik. Kita dapat memberikan dampak yang positif bagi sesama dalam hidup dan kehidupan kita. Hasilnya, hidup dan kehidupan kita menjadi bermakna.

Setiap pemuda Kristen harus dapat memperlihatkan sikap hidup yang memberi dampak positif bagi kehidupan sesamanya. Sebagai dampak perjumpaannya dengan Tuhan. Itu tugas panggilannya. Susunan inisial yang berbunyi “POWER” ini setidaknya akan membantu kita untuk mengingat apa saja yang perlu diperhatikan agar kita mengalami pertumbuhan rohani. Sehingga dapat menunjukkan dan melaksanakan tugas panggilannya.

P : Pray (berdoa). Orang Kristen yang mau bertumbuh dan rindu untuk menjalani kehidupan Kristennya dengan baik, pasti selalu berkomunikasi dengan Allah melalui doa. Dalam doanya itu ia mengungkapkan ucapan syukurnya, mengakui dosa-dosanya dan juga menyampaikan permohonannya, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Allah berjanji untuk selalu dekat dengan semua orang yang datang kepadaNya dalam doa (Mazmur 145:18).

O : Obey (Ketaatan). Dalam Yohanes 14:15, 21, 23 Yesus berkata bahwa ketaatan kita adalah tanda kasih kita kepadaNya. Tetapi kita tidak akan mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri. Itulah salah satu alasan mengapa Dia memberikan Roh Kudus kepada kita (ayat 16, 17). Saat kita berserah kepadaNya, Roh Allah memberi kita kekuatan untuk berjalan bersamaNya di dalam ketaatan.

W : Worship (Ibadah). Sebagai pribadi, ia harus beribadah kepada Tuhan dalam pikiran, perbuatan, doa-doanya dan lain sebagainya (Roma 12:1-2). Dalam kehidupan berjemaat, ia mempersembahkan pujian kepada Allah bersama umat Allah yang lainnya (Mazmur 111: 1; Ibrani 10: 24-25).

E : Evangelize (Bersaksi). Kabar baik tentang Yesus Kristus harus dibagikan kepada orang lain melalui kesaksian hidup kita sehari-hari.

R: Read, membaca (dalam hal ini membaca Alkitab). Salah satu sumber pertumbuhan rohani yang mempengaruhi kita secara langsung ialah Alkitab. Kita harus membaca Alkitab kita secara teratur karena Firman Allah adalah susu sekaligus makanan keras rohani yang akan menumbuhkan kerohanian kita ( II Timotius 3:16; I Petrus 2:2; Ibrani 5:12–14). Alkitab memberitahu kita bagaimana kita harus hidup (Mazmur 119:105).

“Seseorang yang menyebut dirinya Kristen belum tentu seorang murid Kristus.Tetapi seorang murid Kristus pastilah ia seorang Kristen.” (Pdt. Jotje Hanri Karuh)

Amin.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=63:hai-pemuda-lakukanlah-tugas-panggianmu&catid=40:pemuda-a-remaja&Itemid=75

Selasa, 12 Januari 2010

Arti Menjadi Murid Kristus

"Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Matius 8: 22)

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Pada saat ini saya ingin mengajak saudara semua untuk melihat satu per satu syair dari sebuah lagu yang terdapat dalam NKB No. 181, “Tuhan ambil hidupku.”

“Tuhan ambil hidupku dan kuduskan bagimu. Pun waktuku pakailah memujimu slamanya.”
Bait pertama lagu ini mengalir dalam hati Frances R. Havengal, pencipta lagu ini, pada tahun 1874. Frances ini anak seorang Pendeta. Ia seorang anak yang sangat pintar dan juga penyanyi wanita yang sangat berbakat. Namun semua kepintarannya, semua talentanya, seluruh hidupnya, ia serahkan untuk Tuhan.

Dalam bait ke-3 lagunya ini sangat jelas bahwa ia menyatakan tekadnya untuk menguduskan kemampuannya bagi Tuhan. Ia berkata, “Buatlah suaraku hanya mengagungkanMu dan sertakan lidahku jadi saksi injilMu.”

Sebagai seorang penyanyi yang berbakat, sebenarnya ia dapat meraih kemasyuran dan kekayaan. Namun Frances tidak mau hidupnya diperbudak oleh itu semua. Baginya, Tuhan lebih berhak atas seluruh kehidupan dan karirnya.

Saudara, Frances juga sadar bahwa yang ia miliki semuanya harus menjadi alat bagi kemuliaan nama Tuhan di bumi ini. Sebab itu, ia melanjutkan syair lagunya demikian:
“Harta kekayaanku jadi alat bagiMu. Akal budi dan kerja, Tuhan pergunakanlah!”

Ada satu kisah mengenai bait ini. Setelah Frances meninggal, lagunya sering dinyanyikan di gereja-gereja. Di suatu gereja, tidak disebutkan namanya, bait ke-4 ini sering dilewatkan, tidak dinyanyikan. Pada suatu hari, ada seorang anggota jemaat yang protes: “Kenapa warga jemaat dalam kebaktian, Vokal Group dan Paduan Suara tidak mau menyanyikan bait ini. Semestinya kita yang sudah menerima berkat Tuhan juga memberikan berkat Tuhan itu untuk kemuliaan namaNya. Orang sepertinya hanya mau menerima saja, tetapi kalau memberi nanti dulu. Sifat seperti ini tidak ada dalam diri Frances.”

Saudara, apa yang dinyatakan dan dilakukan oleh Frances ini semuanya digerakkan oleh satu dasar atau motivasi saja sebagaimana yang terdapat pada bait ke-5 dan ke-6:
“KehendakMu sajalah dalam aku terjelma. Jadikanlah hatiku tahta kebesaranMu.”
“Limpah ruah kasihku kuserahkan padaMu. Diriku seutuhnya mulikMu selamanya.”
Dari syair-syair lagu ini terlihat dasar Frances dalam berbuat yaitu ia ingin hatinya menjadi tahta kebesaran Tuhan dan pengakuan bahwa dirinya seutuhnya adalah milik Tuhan.


Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Bukankah hal yang seperti ini yang ingin Yesus katakan kepada mereka yang mau mengikut Dia dalam Matius 8:18-22. Menjadi pengikut Yesus berarti harus menyerahkan seluruh hidup dan segala yang dimiliki untuk kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan. Mengikut Tuhan berarti kita harus berada di atas segala kemampuan dan apapun yang kita miliki.

Jangan kita menjadi budak dari pekerjaan dan materi yang kita miliki. Melainkan sebaliknya, pekerjaan, kemampuan/telenta dan harta benda yang kita miliki kita pergunkan untuk hidup dalam mengikut Tuhan.

Di zaman sekarang ini, rasanya penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan dengan segenap talenta dan yang harta benda yang kita miliki menjadi sesuatu yang sangat langka. Ada banyak orang yang diperbudak oleh harta bendanya. Sehingga menjadi materialistis dan serakah. Orang lebih suka menerima daripada memberi. Orang lebih suka menikmati daripada membagi apa yang dimiliki untuk kepentingan bersama. Orang umumnya tidak suka menghubungkan kerja dengan imannya. Orang lebih suka mementingkan diri sendiri dan ingin kenikmatan, tidak peduli entah bagaimana cara mendapatkannya.

Kemurahan, berkat dan kasih karunia Tuhan telah kita terima dan setiap saat akan kita terima. Nah, bagaimana tanggapan saudara? Cara kita menanggapi panggilan Tuhan memperlihatkan apakah kita sungguh-sungguh murid Yesus! Apabila kita berpandangan dan berbuat seperti yang dilakukan oleh Frances Harvengal, maka kita ini termasuk orang-orang yang sungguh-sungguh murid Kristus.

Bagaimana dengan diri kita sekarang ini? Apakah kerinduan dan tekad yang ada dalam diri Frances Haverngal itu ada dalam diri kita dalam mengikut Yesus? Mari kita renungkan!

Amin.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=53:arti-menjadi-murid-kristus&catid=41:renungan&Itemid=76

Senin, 11 Januari 2010

Yesus Gembala Yang Baik

Yeh. 34:11–16; Yoh. 10:7-16

“Akulah Gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domaba-dombaKu mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu.” (Yohanes 10:14)


Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, ada dua macam pemimpin dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  1. Pemimpin yang mengarahkan yang dipimpinnya untuk mencapai atau memenuhi ambisi pribadi atau golongannya dengan memanfaatkan atau mengorbankan orang lain.

  2. Pemimpin yang mengarahkan yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan tertentu bukan untuk kepentingan sendiri atau golongannya sendiri tetapi juga untuk kesejahteraan orang banyak atau orang yang dipimpinnya.


Yehezkiel 34:11-16 memperlihatkan kepada kita bagaimana Allah kecewa terhadap pemimpin Israel yang hanya memikirkan ambisi pribadi, mengutamakan keselamatan sendiri dan membiarkan umat menjadi korban keganasan, kebuasan dan keserakahan mereka sendiri.

Mereka bermegah dalam kemampuannya dan kedudukannya sebagai pemimpin, menjanjikan segala perlindungan dan kesejahteraan. Tetapi bila sampai pada waktunya, mereka lupa pada orang-orang yang dipimpinnya dan menikmati sendiri hasilnya. Sehingga umat Israel tercerai-berai dalam arti tidak terlindungi, tidak terpelihara dan tidak tercukupi kebutuhannya. Oleh sebab itu, Allah berjanji bahwa suatu saat nanti Ia akan mencari dan mengumpulkan kembali umat Allah yang tercerai-berai akibat perbuatan para pemimpin Israel yang tidak dapat dipercaya itu.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Dalam Yohanes 10:7-16 dinyatakan bahwa gambaran tentang Allah sebagai gembala/pemimpin hidup yang baik bagi manusia itu telah nampak dalam diri Yesus. Yohanes dalam injilnya ini menyatakan bahwa Yesus adalah gembala yang baik. Sebagai gembala yang baik Yesus tidak sama dengan para pemimpin umat Israel saat itu. Dan sebagai gembala yang baik, Yesus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Yesus mengenal domba-dombaNya (Yoh.10:14)
    Yesus mengenal kita satu persatu. Ia tahu siapa kita. Ia tahu kelemahan dan kelebihan kita. Ia mengenal kita jauh melebihi pengenalan kita sendiri akan diri sendiri. Ia mengenal kita karena kita berharga dimataNya. Ia mengenal kita karena Ia sungguh-sungguh mengasihi kita.
    Saudara, bukankah ini sesuatu yang sangat luar biasa buat kita. Bayangkan apa pengaruhnya bagi doa-doa kita. Karena Allah mengenal kita maka kita tidak perlu ragu dalam berdoa. Sebab Ia mengenal kita dan mengetahui dengan pasti apa yang menjadi kebutuhan kita. Dalam pekerjaan, kita juga termotivasi sebab kita tahu bahwa Allah memberi potensi khusus bagi kita untuk kita kembangkan. Dalam kehidupan berumah tangga kita juga akan lebih rukun dan sejahtera. Sebab kita tahu ada Allah yang juga mengenal keluarga kita dengan segala suka dan dukanya.


  2. Yesus memelihara kita
    Salah satu ucapan Yesus yang memberikan janji pemeliharaan bagi kita dapat kita baca dalam Lukas 12:22-24, “…janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak makan dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu akan apa yang hendak kamu pakai…betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu.” Bahkan dalam kitab Ratapan 3:22-23 dikatakan, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya; selalu baru setiap pagi…” Setiap kita bangun pagi, berkat Allah sudah berlaku dan tersedia bagi kita. Oleh sebab itu, keliru kalau ada orang yang berkata bahwa ia tidak pernah diberkati Tuhan.


  3. Memberikan teladan (Yoh.10:4)
    Gambaran gembala di Palestina tidak sama dengan gambaran gembala di negeri kita. Seorang gembala di Palestina berjalan di depan dan domba-domba mengikuti kemanapun gembala itu pergi. Seorang gembala benar-benar dijadikan panutan, teladan oleh domba-dombanya. Demikian juga halnya dengan Yesus. Yesus memberikan teladan kepada para murid, dan kepada kita juga, bagaimana bersikap dan bertindak yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.


  4. Yesus adalah seorang gembala yang bersikap terbuka terhadap kepelbagaian (Yoh.10:16)
    Sebagai Gembala, Yesus mempunyai wawasan yang luas. Ia bukanlah pemimpin yang berpola pikir sempit dan picik.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Yohanes lebih lanjut mengatakan bahwa setiap orang yang menerima Yesus sebagai gembala hidupnya akan memperoleh hidup yang berkelimpahan (Yoh.10:10). Apa yang dimaksudkan dengan hidup dalam berkelimpahan dalam ayat ini? Banyak kesalahpahaman terjadi dalam memahami ucapan Yesus ini. Hidup berkelimpahan dalam ini sering dipahami berkelimpahan dalam materi, harta benda, kesuksesan, bebas dari sakit-penyakit dan lain sebagainya.

Saudara, hidup berkelimpahan yang dimaksudkan oleh Yesus dalam ayat ini adalah suatu kehidupan yang di dalamnya seseorang sungguh-sungguh menyadari siapa dirinya di hadapan Allah, serta tahu bagaimana mengisi kehidupannya agar berarti bagi dirinya sendiri, keluarganya dan juga bagi sesamanya manusia.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Apa yang harus kita lakukan agar kita dapat merasakan pimpinan Allah dan kita mempunyai hidup yang berkelimpahan?

  1. Mendengar dan mengenal suara Allah.
    Seperti Allah mengenal kita maka kita pun harus mengenal suara Allah agar kita dapat merasakan pimpinanNya (Yoh.10:14). Dengan cara apa kita dapat mendengar dan mengenal suara Allah? Ya, tentu saja dengan membca dan merenungkan Firman Tuhan. Apakah kita menyediakan waktu khusus pada setiap harinya untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan.
    Mengapa kita harus menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan? Mazmur 19:8 – 9 memberikan jawabnya, yaitu karena “Taurat Tuhan itu sempurna menyegarkan jiwa, peraturan Tuhan itu teguh memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni membuat mata bercahaya.”


  2. Bertindak benar dalam pimpinanNya.
    Sebagaimana Yesus yang selalu bertindak benar dan menjadi teladan bagi para dombaNya, maka kita pun harus berusaha bertindak benar dalam setiap tindakan kita. Bertindak benar bukan menurut pikiran kita sendiri, melainkan benar menurut contoh teladan Yesus sendiri. Apa kriterianya kalau yang kita lakukan itu adalah sebuah kebenaran? Yesaya 32:17 memberikan jawabnya, yaitu “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya.”


  3. Bersikap terbuka dan menghargai terhadap kepelbagaian yang ada di tengah masyarakat kita.
    Kepelbagaian yang ada jangan dilihat sebagai ancaman tetapi justru harus dilihat sebagai hal yang memperkaya kehidupan kita. Jangan kita terjebak dalam fanatisme yang sempit dan keliru. Tetapi biarlah kita bersikap seperti Yesus yang memandang semua orang sebagai sesama manusia tanpa membedakan golongan, status sosial atau pun agamanya.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Yesus adalah gembala yang baik. Siapa yang mau mengikutiNya akan mempunyai hidup yang berkelimpahan. Dalam hidup kita setiap hari, sudahkah kita menunjukkan bahwa kita menjadikan Yesus sebagai gembala kita, Yesus adalah teladan kita. Apabila kita memang menjadikan Yesus sebagai gembala kita maka kita harus mengenal suara Allah, bertindak benar dan bersikap terbuka terhadap kepelbagaian. Bagaimana dengan kita?!

Amin.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=60:yesus-gembala-yang-baik&catid=41:renungan&Itemid=76

Minggu, 10 Januari 2010

Listening VS Hearing

Berkomunikasi, berbicara, bertukar pikiran dengan orang lain; merupakan bagian hidup yang penting dari seorang manusia.
Sejak awal penciptaan, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. Artinya, dalam hidup kita membutuhkan kehadiran orang lain.
Kita tidak bisa hidup sendirian. Hidup kita akan kosong dan tidak bermakna tanpa interaksi dengan sesama.

Ada hal yang menarik dari kisah Markus 7:31-37. Untuk menyembuhkan orang yang bisu dan tuli, Yesus terlebih dahulu menyembuhkan telinga orang tersebut. Mengapa telinga yang pertama kali disembuhkan oleh Yesus dan bukan lidahnya? Sebab dalam proses belajar yang normal, orang pertama kali belajar melalui telinganya, baru setelah itu ia dapat belajar dan mengucapkan kata-kata.

Apabila seorang anak mengalami kesulitan dalam berbicara, maka seringkali yang diperiksa pertama kali ialah telinganya. Ketika telinga tidak berfungsi dengan baik, maka mulut pun tidak akan dapat berbicara dengan baik. Oleh sebab itulah, Yesus pertama-tama menyembuhkan telinga orang itu. Dalam ayat 35 dikatakan, “terbukalah telinga orang itu...maka ia dapat berkata-kata dengan baik.” Ketika telinga kita mampu mendengar dengan baik, maka kita dapat berbicara dengan baik juga. Karena itu juga dalam Yakobus 1: 19 dikatakan, “setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata.”

Apa yang diperlihatkan oleh Yesus dan dikatakan oleh Yakobus merupakan prinsip yang sangat tepat dalam menjalin relasi yang baik dengan siapa pun. Apabila kita lebih suka berbicara dan berbicara, tetapi kurang mau mendengar terlebih dahulu apa yang orang lain katakan hanya akan mengakibatkan:

  1. Timbulnya salah pengertian/salah paham

  2. Ucapan kita melukai perasan orang lain

  3. Ucapan kita mematahkan semangat hidup/kerja orang lain

  4. Ucapan kita tidak didasari oleh fakta yang benar dan tepat. Sehingga kita menjadi biang gosip.


Tetapi sebaliknya, betapa banyaknya persahabatan yang bisa bertahan dan berjalan langgeng karena kita mau mendengar; betapa banyak pasangan suami-istri yang dapat menikmati kerukunan dan kebahagiaan karena semua yang terlibat mau mendengarkan yang lain; dan betapa banyak orang yang tertolong masalahnya dan menemukan jalan keluarnya atau terbangkitkan semangat hidupnya atau gairah kehidupan berimannya; apabila kita mendengarkan dengan baik ceritanya.

Persoalannya ialah bagaimana kita dapat menjadi pendengar yang baik? Dalam bahasa Inggris ada dua kata yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mempunyai arti yang sama, yaitu mendengar atau mendengarkan. Meskipun demikian, dalam bahasa Inggris kedua kata itu mempunyai perbedaan makna yang besar.

Listening:

  • Menyimak percakapan yang berlangsung atau suara yang didengarnya

  • Fokus pada percakapan yang dilakukan

  • Konsentrasi penuh

  • Mengikuti dan menikmati proses komunikasi yang tengah berlangsung

  • Biasanya memberikan dampak positif bagi kehidupan bersama, khususnya bagi dirinya sendiri. Karena ia diperkaya ilmu pengetahuannya, batinnya atau rohaninya.


Hearing:

  • Sekedar mendengar tetapi tidak menyimak percakapan yang berlangsung atau suara yang didengarnya

  • Tidak fokus pada percakapan yang dilakukan

  • Tidak dapat menangkap inti percakapan dan memberikan umpan balik yang tepat

  • Tidak memberi dampak yang positif; bahkan dapat berdampak yang sebaliknya. Sehingga menimbulkan antipati dari lawan bicara kepada kita


Dari penjelasan tersebut, mana yang menjadi pilihan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain? Tentu saja mendengar dalam pengertian ‘listening’ tersebut. Untuk dapat menjadi pendengar (listening) yang baik memang tidak mudah. Hal apa saja yang kita perlukan agar dapat mendengar (listening) yang baik?

  1. Kedewasaan kepribadian

  2. Kedewasaan berpikir

  3. Kedewasaan rohani

Sebab hanya mereka yang dewasa dalam ketiga hal tersebut yang mampu menghargai orang lain; walaupun pendapatnya berbeda dengannya; dan di dalam perbedaan itu terjadi proses dialog untuk membersamakan pikiran dan memperkaya wawasan berpikir masing-masing. Hanya mereka yang memiliki kedewasaan seperti itu yang mempunyai kerendahan hati dan bersikap simpatik dalam berkomunikasi. Hanya mereka yang memiliki kedewasaan seperti itu yang dapat mengendalikan dirinya dan menahan emosi yang merusak percakapan.

Anda ingin berhasil dalam hidup. Salah satu keterampilan yang anda butuhkan ialah keterampilan dalam mendengarkan. Mendengar dalam pengertian ‘listening’ tentunya dan bukan hanya sekedar mendengar tanpa makna, ‘hearing’.

Amin.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=64:listening-vs-hearing&catid=44:pengembangan-diri&Itemid=80