Minggu, 21 Maret 2010

Persembahan Yang Harum

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya” (Filipi 3:7-8).

Pada Yohanes 12:1-2 disaksikan Tuhan Yesus diundang dalam suatu perjamuan oleh keluarga Lazarus. Perjamuan tersebut dilatarbelakangi oleh sikap syukur karena Dia telah membangkitkan Lazarus dari kematiannya (Yohanes 11:43-44). Namun, sangat menarik, bahwa yang menyentuh dalam kisah di Yohanes 12 bukanlah kisah keramaian dan kekhususan dari peristiwa perjamuan tersebut. Tetapi, di tengah-tengah keramaian peristiwa perjamuan tersebut, dikisahkan bahwa Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni, membuka tutup botol minyak narwastu tersebut, dan dia meminyaki kaki Tuhan Yesus. Tindakan Maria tersebut tentunya sangat mencengangkan orang-orang yang hadir dalam perjamuan itu, sebab:

  1. Harga minyak tersebut sangat mahal. Orang-orang harus menabung satu tahun penuh dengan bekerja, barulah ia mampu membeli minyak narwastu.

  2. Minyak narwastu tersebut ditumpahkan di kaki Tuhan Yesus, sehingga minyak tersebut juga tertumpah ke berbagai tempat.

  3. Maria menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya. Bagaimana mungkin seorang wanita bersedia menyeka kaki seseorang dengan rambutnya? Bukankah rambut merupakan lambang kehormatan atau mahkota yang membanggakan bagi seorang wanita?

Tindakan Maria yang tampak sia-sia dan bodoh tersebut, justru oleh Tuhan Yesus dihargai. Matius 26:13 memuat ucapan Tuhan Yesus yang berkata, “Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (paralel dengan Markus 14:9).

Tuhan Yesus memuji tindakan Maria secara terbuka, karena Maria telah mengungkapkan kasih dan rasa hormat yang begitu dalam. Lukas 7:37-50 menyebutkan bahwa tindakan wanita tersebut karena dia menyesali dosa-dosanya di depan kaki Tuhan Yesus. Di Lukas 7:47, Tuhan Yesus juga berkata, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih”. Jadi baik Injil Lukas, Matius, Markus, maupun Yohanes sepakat Maria menuangkan minyak ke kaki Tuhan Yesus karena didasari oleh kasihnya yang begitu besar kepadaNya. Manakala seseorang digerakkan oleh kasih yang begitu besar, pastilah dia bersedia melakukan sesuatu yang begitu menakjubkan.


Kesaksian tentang Maria yang penuh kasih dan sangat menyentuh hati, mengingatkan kita juga kepada bangunan Taj Mahal di Agra, India. Bangunan Taj Mahal merupakan ekspresi atau ungkapan cinta seorang suami, Sultan Shah Jahan, yang begitu mengasihi istrinya, Mumtaz Mahal, yang telah meninggal pada tahun 1631. Taj Mahal mulai dibangun tahun 1632-1643. Namun seluruh bangunan di sekitar Taj Mahal baru diselesaikan tahun 1653. Jadi untuk membangun Taj Mahal seluruhnya membutuhkan waktu 21 tahun lamanya!

Maria dan Sultan Shah Jahan memiliki kesamaan untuk memberikan sesuatu yang agung kepada orang yang dikasihinya. Hanya bedanya, Maria mengungkapkan kasih kepada Tuhan Yesus sebagai Mesiasnya dengan minyak narwastu. Sedangkan Shah Jahan mengungkapkan cintanya yang mendalam kepada mendiang istrinya dengan mendirikan bangunan Taj Mahal yang begitu megah di dunia.

Wujud dari kasih yang agung senantiasa mengandung suatu ide yang unik, menyentuh hati, mengesankan dan senantiasa dikenang secara kekal. Wujud dari kasih senantiasa melampaui pola berpikir ekonomis. Maksudnya, tindakan kasih yang tulus tidak pernah mendasarkan kemampuan finansial sebagai tolok ukur yang menentukan. Namun, di balik tindakan yang terkesan “tidak hemat” tersebut terungkaplah makna spiritualitas, ungkapan kasih, ketulusan hati dan pengorbanan diri yang sangat dalam.

Sebaliknya, tokoh Yudas Iskariot dalam Yohanes 12 cenderung untuk melihat segala sesuatu dari sudut ekonomis dan manusiawi terhadap orang-orang miskin. Injil Yohanes memberi catatan, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kasih yang dipegangnya” (Yohanes 12:6). Di sini kita dapat melihat perbedaan paradigma dari tindakan Maria yang mengasihi Kristus dengan pengorbanan yang melampaui ukuran ekonomi dan paradigma Yudas yang cenderung berpikir serba ekonomis dan melihat segala sesuatu dari manfaatnya. Kedua paradigma tersebut sering bertemu di dalam kenyataan hidup sehari-hari apakah di dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, pelayanan di tengah jemaat dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Paradigma profit tersebut juga meresapi pola pelayanan gerejawi. Apabila pelayanan tersebut menghasilkan suatu manfaat secara ekonomi, misal dengan biaya sedikit namun menghasilkan keuntungan besar, pastilah kita akan mendukung program tersebut. Namun, ketika kita dimotivasi untuk belajar memberi yang terbaik kepada Tuhan, tidak semua orang percaya tergerak untuk ambil bagian secara tulus. Bahkan terdapat kecenderungan bagaimana agar kita sebisa mungkin hanya memberi sehemat mungkin, toh tidak ada orang yang tahu ketika kita menyerahkan persembahan di tengah-tengah suatu kebaktian.

Di suatu desa Perancis setiap tahun dilaksanakan suatu festival anggur. Untuk itu setiap orang diminta untuk membawa 1 liter air anggur dan air anggur tersebut akan dikumpulkan dalam suatu tempayan besar, lalu seluruh penduduk akan minum bersama-sama sebagai tanda sukacita. Tetapi, ketika walikota membuka tempayan itu, sungguh mengejutkan karena ternyata isinya hanyalah air. Hal ini terjadi karena setiap orang berpikir bahwa mereka tidak akan ketahuan kalau hanya membawa air, siapa tahu orang-orang lain akan membawa anggur. Tetapi ternyata yang membawa anggur tidak ada. Sebab mereka pada umumnya terlalu sayang menyerahkan air anggurnya.

Paradigma serba ekonomis sering merusak suasana, bahkan merusak sukacita dan hubungan antar umat manusia. Sebab paradigma serba ekonomis mendorong orang-orang yang terlibat untuk saling mencurigai, menyudutkan, dan mendiskreditkan orang lain. Dalam hal ini Yudas Iskariot secara tidak langsung telah mendiskreditkan tindakan Maria, ketika ia berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yohanes 12:5). Dengan ungkapan ini, sepertinya Yudas mau mengatakan bahwa betapa tololnya Maria membuang-buang minyak yang sangat mahal hanya dipakai untuk menyeka kaki Yesus.

Manakala kita bersedia meneladani Maria dengan menjadikan seluruh hidup kita bagaikan minyak narwastu yang tertumpah di kaki Tuhan Yesus, maka pastilah kehidupan dan pelayanan kita akan menghasilkan sesuatu yang harum dan senantiasa mempermuliakan nama Tuhan. Persembahan diri yang demikian tentunya menjadi cermin dari keharuman kasih, sehingga persembahan hidup kita menjadi suatu persembahan yang harum di hadapan Tuhan.

Amin.

Sumber : http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=42

Sabtu, 20 Maret 2010

Yang Terlupakan, Tuhan Kasihi

"Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah." Wahyu 21:10

Dalam Injil Yohanes 5:1-9, dikisahkan tentang penyembuhan di Kolam Betesda. Dikatakan Yesus berangkat ke Yerusalem dan melewati sebuah Kolam Betesda dengan lima serambinya, di mana di tiap serambi sekitar kolam itu terdapat sejumlah besar orang sakit; orang-orang timpang dan lumpuh yang menantikan keajaiban saat air dalam kolam itu terguncang. Sebab sewaktu-waktu malaikat Tuhan turun ke kolam itu dan menggoncangkan air itu. Siapa pun yang duluan masuk ke dalamnya akan menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.

Di sana juga terdapat seorang yang sudah 38 tahun lamanya sakit. Yesus menghampiri orang itu (Yesus tahu orang itu sakit cukup lama) dan bertanya: ”Maukah engkau sembuh?“ jawab orang itu: ”Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang dan sementara aku menuju kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.“ Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.“ Dan... sembuhlah orang itu.

Persoalan utama dari orang adalah bukan lamanya dia sakit, tetapi lamanya tidak ada orang yang mau membantu menurunkannya ke kolam itu (ayat 7). Bagian inilah yang menunjukkan bentuk kehidupan kita saat ini, kecenderungan orang menjadi sangat individualistik, memikirkan bagaimana diri sendiri menjadi sembuh dengan cara adu cepat, dan otomatis tidak memperhatikan yang lain.

Kehadiran Yesus, bagi orang yang sakit selama 38 tahun adalah penghiburan dan akhir dari masa penantian yang panjang. Namun, berita ini menunjukkan betapa kehadiran Yesus membuat suasana individualistik menjadi berkurang. Kita tak dapat membayangkan bagaimana sikap orang-orang sakit ketika menyaksikan perbuatan Yesus pada rekannya itu. Mungkin saja mereka berharap disembuhkan juga oleh-Nya, sehingga mereka tidak perlu lagi bersaing untuk mendapatkan kesembuhan. Tetapi, bagi Yesus yang paling tak berdaya mendapat kesempatan yang sama untuk dikasihi, untuk disembuhkan.

Ibu Teresa pernah berkata, ”Kita hidup di dunia di mana terang dan kegelapan ada“. Melalui kehidupannya, Ibu Teresa mengundang orang-orang untuk memilih terang. Ibu Teresa membuat kata-kata yang ditulis oleh Santo Agustinus empat abad setelah Kristus, menjadi mudah bagi kita, "Cintailah dan katakanlah melalui hidupmu," karena sampai akhir hidupnya beliau menyatakan cinta-Nya melalui kebersamaannya dengan orang-orang kusta yang sudah tidak memiliki harapan lagi, yang sudah di ambang kematian. Beliau mencoba untuk menenangkan kecemasan mereka.

Ibu Teresa, memberi semangat juga seperti Kristus bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk diperhatikan, dikasihi dan merasakan kuasa kebangkitan Kristus. Di musim panas tahun 1976, bersama dengan kaum muda dari berbagai negara, beliau mengajarkan doa bersama-sama, "O Tuhan, Bapa segala umat manusia, Engkau meminta kami semua untuk membawa kasih ketika kaum papa dihina, rujuk kembali taat kala umat manusia tercerai berai, kegembiraan saat Gereja terguncang. Engkau membuka jalan ini bagi kami sehingga kami boleh menjadi ragi persatuan bagi seluruh keluarga umat manusia."


Kita ingat, ketika bencana besar terjadi di negeri ini, Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, Gempa Bumi di Nias, Yogyakarta, Merapi, busung lapar di NTT, dll. Namun demikian, bagaimana nasib mereka saat ini? Di TV sudah tidak lagi sering, bahkan hampir tidak ada kabar tentang mereka, apakah ini berarti mereka sudah baik-baik saja? Satu-satunya cara mengetahui keadaan mereka adalah dengan cara mendatangi “kantong-kantong” dimana belas kasih pernah ditaburkan... Jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang terlupakan oleh kita.

Sebetulnya tidak juga harus melihat jauh orang-orang yang terlupakan dalam hidup ini, karena di sekitar kita masih banyak orang-orang yang perlu kita kasihi sebagaimana Yesus mengasihinya. Bukankah Ia sendiri berkata, "Apapun yang kamu lakukan bagi seseorang yang paling hina, itu kamu lakukan untuk-Ku." Seperti, bagaimana kita telah memperhatikan nasib pembantu rumah tangga, koster gereja, tukang sampah, tukang becak, anak-anak terlantar di jalanan, tuna wisma, orang-orang gila yang berkeliaran, orang-orang dalam penjara, orang-orang jompo, orang-orang muda yang menganggur, dll.

Dalam hal ini kita diajak untuk menemukan orang-orang yang tak berdaya, yang terlupakan untuk ditolong, diberdayakan dan disembuhkan. Kita diajak untuk menghayati sosok Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian yang telah menjadi Tuhan dan Juruselamat manusia. Sebagaimana hal ini dihayati oleh orang-orang seperti Ibu Teresa, menghambat pertumbuhan benih-benih individualistik dalam kehidupan bersama.

Sangatlah berani, berharga, dan ajaibnya ketika kita sebagai pengikut-pengikut Kristus mau berbagi harta, waktu, dan tenaga kita dengan orang-orang yang terlupakan atau miskin, kehilangan pekerjaan, dan harapan mereka, sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan. Dengan demikian, kita memberikan wajah yang lebih manusiawi kepada sesama kita dan memancarkan yang ilahi dalam kehidupan kita.

Amin.

Sumber : http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=55