
Donald, anak yang imut-imut, masih berumur 4 tahun. Dia sangat peka sekali dengan suara-suara yang keras. Juga suara petir pada saat hujan lebat. Jika suatu hari langit dipenuhi dengan awan yang gelap, maka dia sudah merasa takut karena hujan dan petir yang menyambar-nyambar. Maka Donald selalu menangis ketakutan. Apa yang dialami Donald itu menjadi perhatian khusus bagi orang tuanya. Pada saat cuaca buruk, Donald sudah kelihatan gelisah. Maka sang ayah atau ibu langsung mendekap Donald di dadanya. Dipeluklah anaknya yang dikasihinya. Dengan pelukan itu, maka tangan dan kaki Donald juga memegang erat gendongan ayah dan ibunya. Ketika hujan turun, dan petir menyambar-nyambar, Donald benar-benar merasakan ketenangan bahkan kehangatan kasih dari sang ayah dan ibunya. Rasa aman, damai, pelukan kasih itu benar-benar dirasakan. Bukan hanya diketahui, juga bukan hanya dikatakan. Tetapi benar-benar dirasakan. Ketika Donald semakin dewasa, menjadi anak besar dan siap memasuki dunia remajanya, maka dia menjadi anak yang benar-benar merasa bangga dengan orangtuanya. Bangga bukan untuk dibanggakan, tetapi bangga yang keluar dari hatinya. Bangga yang penuh rasa hormat dan kasih. Segala ketakutan dan kekuatiran sudah tidak melekat lagi dalam dirinya. Itulah yang membuat Donald bangga kepada orang tuanya.
Pemazmur mempunyai pengalaman yang sama dengan Tuhan. Dia mengatakan: “Aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi,” Maz.9:3. Daud, sungguh-sungguh merasakan sukacita dan bersukaria, yang artinya Daud menjalani hidupnya dengan senang, nyaman, ada damai sejahtera. Semua itu terjadi “Karena Engkau”. Jadi penyertaan Tuhan dirasakan secara nyata. Sudahkah penyertaan Tuhan kita rasakan?
Amin.
Sumber : http://www.glorianet.org/index.php/nathan/71-nathan-sembah-hidup/1948-aku-bersukacita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar