Sabtu, 30 Januari 2010

Aku Bersukacita!!!

Tuhan, Engkau tempat aku berteduh, rasa nyaman dan tenang aku alami, ketika aku ada dalam naungan tangan-Mu, ketakutan dan kekuatiran yang silih berganti, terus hanyut jauh digantikan dengan aliran yang menguatkan hatiku. Langkah kaki yang gemetar, karena tidak mantap dalam melangkah, sekarang Engkau tegapkan dengan kekuatan-Mu. Sekarang mataku hanya tertuju kepada-Mu, Tuhan Yesusku. Pujian seorang yang merasakan bagaimana Tuhan benar-benar menolong hidupnya tanpa ragu, karena tangan Tuhan sungguh memegang seluruh perjalanan hidupnya. Tuhan bukan saja dalam pikirannya, dan bukan saja dalam angan-angan konsep, tetapi Tuhan yang hidup itu nyata dalam setiap pergumulan dan beban hidup; nyata dalam setiap kebingungan dan kekuatiran yang dialami. Tuhan bisa menjadi sahabat yang akrab di mana kita bisa curhat, dan Tuhan memberikan kelegaan hati dan pikiran kita.

Donald, anak yang imut-imut, masih berumur 4 tahun. Dia sangat peka sekali dengan suara-suara yang keras. Juga suara petir pada saat hujan lebat. Jika suatu hari langit dipenuhi dengan awan yang gelap, maka dia sudah merasa takut karena hujan dan petir yang menyambar-nyambar. Maka Donald selalu menangis ketakutan. Apa yang dialami Donald itu menjadi perhatian khusus bagi orang tuanya. Pada saat cuaca buruk, Donald sudah kelihatan gelisah. Maka sang ayah atau ibu langsung mendekap Donald di dadanya. Dipeluklah anaknya yang dikasihinya. Dengan pelukan itu, maka tangan dan kaki Donald juga memegang erat gendongan ayah dan ibunya. Ketika hujan turun, dan petir menyambar-nyambar, Donald benar-benar merasakan ketenangan bahkan kehangatan kasih dari sang ayah dan ibunya. Rasa aman, damai, pelukan kasih itu benar-benar dirasakan. Bukan hanya diketahui, juga bukan hanya dikatakan. Tetapi benar-benar dirasakan. Ketika Donald semakin dewasa, menjadi anak besar dan siap memasuki dunia remajanya, maka dia menjadi anak yang benar-benar merasa bangga dengan orangtuanya. Bangga bukan untuk dibanggakan, tetapi bangga yang keluar dari hatinya. Bangga yang penuh rasa hormat dan kasih. Segala ketakutan dan kekuatiran sudah tidak melekat lagi dalam dirinya. Itulah yang membuat Donald bangga kepada orang tuanya.

Pemazmur mempunyai pengalaman yang sama dengan Tuhan. Dia mengatakan: “Aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi,” Maz.9:3. Daud, sungguh-sungguh merasakan sukacita dan bersukaria, yang artinya Daud menjalani hidupnya dengan senang, nyaman, ada damai sejahtera. Semua itu terjadi “Karena Engkau”. Jadi penyertaan Tuhan dirasakan secara nyata. Sudahkah penyertaan Tuhan kita rasakan?

Amin.

Sumber : http://www.glorianet.org/index.php/nathan/71-nathan-sembah-hidup/1948-aku-bersukacita

Jumat, 29 Januari 2010

Berbahagialah Orang Yang Tidak Melihat Namun Percaya

BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA
Yohanes 20:24-31



Ada sebagian orang yang berpendapat: "lihat dahulu baru percaya". Mereka perlu melihat fakta dan bukti terlebih dulu sebelum bisa percaya. Kepercayaan mereka didasarkan pada apa yang mereka lihat dan alami.

Dalam hal-hal tertentu pendapat seperti itu memang tepat. Seorang atasan tentu perlu melihat etos kerja dan hasil karya bawahannya sebelum memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Seorang dokter memang perlu melihat berbagai hasil pemeriksaan pasien sebelum memberikan pengobatan kepadanya. Seorang penyidik perlu melihat bukti-bukti dengan akurat sebelum menetapkan siapa sebenarnya yang menjadi tersangka. Kendati demikian, kita harus menyadari bahwa pandangan itu tidak dapat diterapkan pada semua hal.

Pdt. Wahyu Pramudya menuliskan, bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita lihat, tetapi tetap dapat kita percayai keberadaannya. Kita tidak dapat melihat nyawa kita sendiri, tetapi itu tidak berarti bahwa nyawa kita tidak ada. Kita tidak dapat melihat otak kita, tetapi kita percaya bahwa kita punya otak. Mungkin kita belum pernah melihat gunung Everest yang memiliki puncak yang tertinggi di dunia, namun kita mempercayai kenyataan itu.

Dalam kehidupan beriman, ada sebagian orang yang selalu minta bukti. Kalau tidak melihat fakta yang kasat mata atau bukti yang masuk akal, mereka tidak mau percaya.

Tomas adalah orang yang seperti itu. Ia tidak hadir pada saat Tuhan Yesus menampakkan diri kepada teman-temannya. Ketika mereka memberitahukan kepadanya bahwa mereka melihat Tuhan Yesus yang telah bangkit, bagaimana reaksi Tomas? Bukannya percaya dan bersukacita, melainkan dia justru mengatakan, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Mengapa Tomas tidak percaya bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit? Mengapa ia mengatakan bahwa kalau ia belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jarinya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangannya pada lambung-Nya, sekali-kali ia tidak mau percaya?

Paling tidak ada tiga alasan mengapa Tomas dapat bersikap dan berkata seperti itu.

  1. Ia tidak memiliki pengharapan. Pengharapannya telah lenyap ketika melihat Yesus ditangkap, disalibkan dan mati. Sebelumnya ia setia mengikut Yesus dan memiliki pengharapan bahwa Yesus, Sang Mesias, akan membebaskan Israel dari kungkungan musuh dengan kemenangan yang gilang-gemilang. Tetapi ia melihat suatu kenyataan bahwa Ia ditangkap, diadili, dianiaya dan mati dengan cara yang tragis. Saat itu sepertinya Yesus tidak berdaya menghadapi orang-orang yang menganiaya diri-Nya. Melihat kenyataan tersebut Tomas menjadi sedih, kecewa, dan putus asa. Ia tidak lagi memiliki pengharapan di dalam Dia. Karena tidak ada pengharapan, ia pun tidak mengira bahwa Yesus akan bangkit dari kematian.


  2. Ia tidak berpegang kepada Firman Tuhan. Tuhan Yesus telah memberitahukan kepada murid-murid-Nya, termasuk Tomas, bahwa Ia akan disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit (Mrk. 10:34; 14:28; bd. Yoh. 2:20-22). Bila Tomas memperhatikan dan mengamini Firman Tuhan itu, tentu ia akan dengan mudah percaya pada berita kebangkitan Yesus. Tetapi sayang, Tomas tidak memegang perkataan-Nya itu. Ia mengabaikan dan melupakan Firman yang sudah Tuhan Yesus nyatakan.


  3. Ia berpusat pada diri sendiri, bukan Tuhan. Ia lebih mengandalkan mata dan tangannya, dan tidak membuka telinga dan hatinya terhadap berita kebangkitan Yesus. Pengamatan dan pengalamannya sendirilah yang ia utamakan, bukan Firman Tuhan. Itu sebabnya ketika teman-temannya memberitakan tentang Yesus yang telah bangkit, ia mengatakan bahwa kalau ia belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jarinya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangannya pada lambung-Nya, sekali-kali ia tidak mau percaya.

Bukankah pada saat ini banyak juga orang yang seperti Tomas? Tidak punya pengharapan, mengabaikan Firman Tuhan, dan berpusat pada dirinya sendiri. Pengamatan dan pengalamannya sendirilah yang mereka utamakan, bukan Firman Tuhan. Untuk dapat percaya mereka minta bukti-bukti nyata, tanda-tanda ajaib, mukjizat dan sebagainya.

Puji Tuhan! Tuhan Yesus tidak mengabaikan orang yang tidak percaya seperti Tomas. Seminggu kemudian pengikut-pengikut Yesus ada lagi di tempat itu, dan Tomas hadir juga. Semua pintu terkunci. Tetapi Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka, lalu berkata, "Salam sejahtera bagimu." Kemudian secara khusus Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

Dari peristiwa itu kita dapat melihat kepedulian Tuhan Yesus. Ia peduli kepada Tomas si Peragu dan datang untuk meneguhkan imannya. Demikian juga ia mengerti kelemahan kita dan mau menguatkan dan menolong kita. Ia pun berkata kepada kita, "Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

Setelah Yesus menampakkan diri, Tomas baru benar-benar percaya dan menyatakan pengakuan iman yang begitu mendasar, "Ya Tuhanku dan Allahku!" Tetapi Tuhan Yesus berkata kepada Tomas, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. Tidaklah penting apakah seorang melihat-Nya ataupun tidak, tetapi adalah sangat penting baginya untuk percaya. Sebab dengan percaya kepada-Nya itulah seseorang menerima keselamatan dan karunia-Nya. Memang baik untuk bisa melihat dan percaya, tetapi lebih berbahagia orang yang tidak melihat namun percaya kepada-Nya.

Pada saat kita hidup dalam pengharapan, memegang teguh Firman-Nya, dan berpusat pada Allah, maka kita akan senantiasa percaya kepada Yesus yang telah mati dan bangkit kembali. Memang sekarang ini kita tidak melihat Yesus, mungkin pula tidak melihat mukjizat-mukjizat seperti yang dicatat dalam Injil Yohanes itu. Tetapi seperti yang dikatakan Alkitab, "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Rm. 10:17; 1 Yoh. 5:9-13). Kita tidak melihat Dia dengan mata kita, tetapi dalam iman kita berhadapan muka dengan muka dengan-Nya pada saat membaca Firman Tuhan. Kita dapat menyaksikan betapa Ia hidup, apa yang dikatakan-Nya, dan apa yang dilakukan-Nya. Dengan demikian iman percaya kita diteguhkan, ditumbuhkan dan disegarkan.

Orang yang tidak melihat namun percaya kepada-Nya sungguh berbahagia. Apakah Saudara termasuk orang yang berbahagia itu?

Sumber : http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=124