Selasa, 25 Mei 2010

Mengalah Untuk Menang

Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan (Mazmur 37:8)

Apakah Anda pernah melihat anak nelayan memancing kepiting? Mereka mengikatkan tali di sebatang bambu. Ujungnya diikatkan pada batu kecil. Lalu bambu itu diayun ke arah kepiting yang diincar, kemudian disentak-sentakkan agar kepiting itu marah. Begitu si kepiting marah, ia akan mencengkeram batu kecil itu dengan kuat dan terjeratlah ia karena kemarahannya!

Karena adanya akibat serupa dengan gambaran di atas, itulah sebabnya amarah kita tidak boleh terpancing melihat orang jahat. Tiga kali pemazmur menasihati para pembacanya agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat. Sebab itu hanya akan membawa kita pada kejahatan.

Emosi tinggi bisa membuat kita berbuat sesuatu yang berakibat buruk. Misalnya karena ingin melampiaskan kemarahan, kita justru menyakiti orang lain secara fisik atau perasaan. Bahkan sekalipun kemarahan itu beralasan, kita bisa menjadi marah atau iri hati terhadap orang yang bebas berbuat jahat.

Seolah-olah hidup mereka tetap aman dan terlindungi dari murka Allah. Seakan-akan Allah tidak adil. Sepertinya Dia membiarkan saja jika orang benar lebih kerap bermasalah dibanding orang jahat. Benarkah?


Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah disini untuk “menang”; untuk tidak jatuh dalam perbuatan dosa. Jika kita harus menyaksikan kefasikan merajalela dan kita tak bisa berbuat apa-apa, kita harus meneguhkan hati untuk tidak marah. Ya, marah kepada orang fasik hanya membuat kita masuk ke dalam pancingan mereka.

Kemarahan yang tak terkendali justru akan menjerat kita ke dalam dosa. Ingat saja kata pemazmur. Orang fasik takkan bertahan lama dalam keberdosaan, kejahatan mereka akan terbongkar. Tuhan selalu adil. Dia tidak menutup mata atas kefasikan

KEBERUNTUNGAN ORANG FASIK HANYA SEMENTARA.
KEBERUNTUNGAN ORANG BENAR SUNGGUH TAK TERKIRA.


Sumber : http://harianwanita.com/blog/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar