Rabu, 27 Januari 2010

Berakar di Dalam Dia, Berbuah Karena Karunia-Nya

Yer. 17:5-10, Mzm. 1, I Kor. 15:12-20, Luk. 6:17-26

Ucapan "berbahagia" sering dikenal dari Injil Matius, yaitu dalam khotbah Tuhan Yesus di bukit (Mat. 5:1-12). Karena itu latar belakang ucapan "berbahagia" di Luk. 6:20-26 sering diidentikkan dengan khotbah Yesus di atas bukit. Namun apabila kita menilik Luk. 6:17 dengan cermat, sebenarnya ucapan "berbahagia" di Luk. 6 bukan berlatar belakang khotbah Tuhan Yesus di bukit, tetapi Luk. 6 berlatar belakang di tanah yang datar, yaitu tempat orang banyak berkumpul. Walau demikian, khotbah Tuhan Yesus di bukit maupun di tanah datar pada prinsipnya mengemukakan makna "berbahagia" yang spesifik, yaitu yang tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh dunia pada umumnya. Dalam hal ini pengertian "makarioi" yang diterjemahkan dengan "berbahagialah" bukan berarti: "semoga bahagia". Tetapi makna kata "makarioi" lebih tepat menunjuk kepada keadaan "kamu kini adalah bahagia". Orang-orang yang disebut "bahagia" dalam makna khotbah Tuhan Yesus adalah karena mereka diberkati oleh Allah, sebab mereka tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, atau kekuatan dan kuasa orang lain, namun mereka sungguh-sungguh mengandalkan Allah di dalam seluruh hidupnya.

Di Luk. 6:20, ucapan berbahagia dimulai dengan: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah". Perkataan dan ajaran Tuhan Yesus tersebut memberikan kekuatan dan pengharapan kepada orang banyak yang mana mereka saat itu kebanyakan adalah orang-orang sederhana, dan orang-orang yang miskin secara duniawi, sebab mereka umumnya hidup tanpa harta milik. Karena mereka miskin dan tidak memiliki sesuatu yang diandalkan, maka mereka hanya mengandalkan pertolongan Allah. Sebaliknya ketika orang merasa dirinya kaya dan merasa telah memiliki segala sesuatu, mereka umumnya memiliki kecenderungan untuk mengandalkan kepada kekuatan dan harta miliknya dari pada kepada Allah. Sehingga sangat tepatlah ketika nabi Yeremia menyampaikan firman Tuhan dengan pesan yang hampir sama, yaitu: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan" (Yer. 17:5). Nabi Yeremia menegaskan bahwa orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri serta berpaling meninggalkan Allah adalah terkutuk. Jadi bukankah makna berbahagia yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam konteks ini memiliki kesamaan dengan Firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Yeremia? Bukankah yang tidak diberkati oleh Allah berarti "terkutuk"?

Dalam realita hidup sehari-hari, tentu tidak dimaksudkan bahwa semua orang kaya dapat digolongkan sebagai oang-orang yang tidak mengandalkan Allah sehingga mereka terkutuk, dan semua orang miskin selalu dapat digolongkan dengan orang-orang yang mengandalkan Allah sehingga mereka diberkati. Lebih tepat dipahami bahwa semua orang yang hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, atau mengandalkan kepada kuasa manusia pasti tidak akan diberkati oleh Allah. Sebagai orang berdosa, orang kaya dapat tergoda untuk mengandalkan harta miliknya, maka orang miskin juga dapat tergoda untuk mengandalkan belas kasihan dari orang-orang yang dianggap lebih mampu, sehingga mereka tidak belajar bertanggung jawab atas kesulitan hidup yang mereka alami. Sebaliknya dalam kenyataan hidup kita juga dapat melihat kehidupan orang-orang kaya dengan sikap rohani yang mengandalkan Allah. Mereka memiliki banyak hal, tetapi hati mereka tidak pernah terikat dengan apa yang mereka miliki sehingga mereka dengan murah hati dan penuh kasih membagi-bagikan berkat yang dimiliki kepada setiap orang yang membutuhkannya. Bagi orang-orang kaya yang demikian, makna berbahagia bukan karena mereka memiliki banyak hal, karena mereka dapat menyalurkan berkat Tuhan kepada banyak orang. Justru sikap orang kaya tersebut menandakan hidup sebagai orang yang miskin di hadapan Allah.


Dengan pola spiritualitas yang mengandalkan Tuhan dan senantiasa ingin menjadi berkat, nabi Yeremia menyebut setiap orang baik mereka yang kaya maupun yang miskin sebagai: "ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah" (Yer. 17:. Gambaran dari pohon yang tumbuh di tepi air dengan akar-akar yang mampu memiliki akses untuk memperoleh air yang dibutuhkan, sehingga pohon tersebut akan tetap memiliki daun yang terus menghijau dan menghasilkan buah secara tetap merupakan gambaran dari kehidupan orang-orang yang berbahagia karena mereka diberkati oleh Tuhan. Sangat menarik ucapan nabi Yeremia tersebut sejajar dengan Firman Tuhan di Mazmur pasal 1:3, yang juga dimulai juga dengan ucapan: "Berbahagialah!" (Mzm. 1:1). Apabila pohon tersebut dapat bertumbuh, berbunga dan menghasilkan buah bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena ia mengandalkan Tuhan. Spiritualias orang beriman dapat tumbuh karena "semua akar-akarnya merambatkan ke tepi batang air", yaitu bersumber kepada penyertaan dan berkat Allah. Manakala pohon tersebut tidak mendapat suplai air, maka pastilah pohon itu akan mati dan tidak mungkin berbunga apalagi berbuah. Kehidupan orang percaya haruslah berakar di dalam Tuhan, maka pastilah mereka akan berbuah karena kuasa kasih karunia Tuhan.

Namun pertanyaan yang menggelitik muncul, mengapa manusia cenderung mengandalkan kepada kekuatannya sendiri atau mengandalkan kuasa orang lain, dan tidak mau mengandalkan kepada pertolongan Allah belaka? Tentu ada banyak jawaban dan kemungkinan terhadap pertanyaan tersebut. Namun menurut pandangan saya, karena manusia sering tergoda untuk berpaling membelakangi Allah karena dia ingin menjadi seperti Allah sehingga dia dapat menentukan jalan hidup menurut kehendak dan kemauannya sendiri. Karena itu manusia cenderung untuk mencari sumber kekuatannya dari dirinya sendiri, agar dapat memegahkan diri bahwa mereka dapat mencapai prestasi dengan kekuatan dan usaha mereka sendiri. Memang manusia telah diberi karunia oleh Tuhan untuk menguasai dan menaklukkan seluruh alam ini. Tetapi apakah manusia juga bersedia mempertanggungjawabkan mandat yang dipercayakan kepada Tuhan? Di sisi lain, kemampuan memiliki dan menguasai banyak hal bukanlah tanda dari orang-orang yang berbahagia. Sebab orang yang berbahagia bukan berorientasi kepada milik dan tindakan menguasai harta milik atau pun hidup orang lain. Tetapi orang yang berbahagia adalah ketika dia mau menjadi alat penyampai berkat keselamatan Allah kepada sesama, seluruh mahluk hidup dan lingkungan hidup ini. Seluruh hidup orang percaya hanya berorientasi kepada kasih Allah dan komitmennya untuk terus menghadirkan syalom, yaitu keselamatan dan damai sejahtera Allah di manapun dia berada.

Sumber : http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=33

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar