Jumat, 22 Januari 2010

KESOMBONGAN

Kesombongan adalah sikap yang memandang rendah, atau mengecilkan usaha, pemikiran atau apa saja yang dicapai orang lain, kemudian timbul kecenderungan untuk membandingkan usaha orang lain dengan sisi keberhasilan yang dia capai, tetapi menutupi kekurangan diri sendiri. Perasaan lebih tinggi ini akan menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mendengar pandangan luar, sehingga bila berlarut wawasan pun menjadi sempit.

Wayne D Calloway, seorang CEO dari PepsiCo mengatakan bahwa kesombongan merupakan alasan utama yang menjadi sebab kegagalan seorang manajer untuk meningkat kepada potensi yang seharusnya dapat dia capai, seterusnya dia berkata: "Arrogance is the illegitimate child of confidence and pride. Arrogance is the idea that not only can you never miss shooting a duck, but no one else can ever hit one."

Salah satu pernyataan Socrates yang baik untuk direnungkan: "You are wise only when you are humble, the very bit of wisdom and the prerequisite for all others is the realization that we are not wise.", kemudian pernyataan St. Bernard ketika ditanya mengenai 4 kebajikan utama yang harus dilakukan, maka jawabnya adalah: “Kerendahan hati, kerendahan hati, kerendahan hati dan kerendahan hati.
Tuhan memberikan kemampuan kepada kita berbeda-beda, yang diberi kemampuan lebih tinggi pada satu bidang tidak harus sempurna dalam lapangan lain, tetapi kesadaran ini sering buyar, tertutup oleh pembatas pandangan yang hanya sejauh diri sendiri.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, beberapa orang pimpinan sebuah gereja di Indonesia merasa bahwa mereka telah memberikan banyak persembahan untuk sebuah proyek, tetapi toh dana masih belum cukup, mereka lalu berbincang-bincang. Di dalam pembicaraan itu, antara lain keluar kalimat seperti ini: " Kita sudah memberi banyak, tetapi jemaat kurang punya kesadaran untuk memberi, karena itu perlu diberikan motivasi yang lebih tinggi." Belum sempat ditemukan cara pemberian motivasi yang baik, seorang janda pemilik warung jamu yang kecil membawa sebongkah emas, hasil dari tabungan bertahun-tahun. Akibat pemberian ibu ini, keluar pernyataan baru; “Kami merasa tertempelak, kami salah menilai, ......"

Mari kita merenungkan beberapa pernyataan dibawah ini:
  • Karena saya mau berusaha, maka Tuhan memberikan berkat, kesulitan selalu terjadi pada orang-orang yang tidak mau berusaha. ( Lalu bagaimana dengan Ayub yang mengalami banyak kesulitan )

  • Saya bersyukur karena Tuhan memberikan kepandaian yang lebih tinggi dari teman-teman lain. (Banyak profesor yang hanya sempat berbicara tentang ilmunya tetapi tidak tentang dirinya)

  • Pendapat saya lebih baik karena didukung oleh pengalaman bertahun-tahun dalam bidang yang saya kuasai. (Penelitian terbaru belum sempat dibaca)

  • Orang berdosa perlu merasakan akibat dari perbuatannya, kalau kita sungguh-sungguh mengenal Tuhan, kita pasti tidak akan berbuat dosa seperti itu. (Hanya Tuhan yang tidak berdosa)

  • Jemaat yang mengasihi gereja, pasti akan datang pada acara persekutuan doa. (Ada yang tidak punya kesempatan untuk hadir dalam persekutuan, tetapi jauh lebih banyak memberikan pelayanan kepada orang lain)

  • Pemimpin-pemimpin gereja kurang berpengalaman, saya malas untuk dipimpin orang-orang macam itu. (Dipersilahkan untuk berbagi pengalaman, memberikan saran-saran bijak untuk pertumbuhan bersama)

  • Orang Kristen yang benar pasti dicukupi Tuhan dalam segala perkara, kesulitan yang dia hadapi adalah karena dia kurang pasrah. (Yang dipandang hidup di dalam kesulitan, kok ada saja yang lebih banyak senyumnya)

Banyak pernyataan-pernyataan lain yang mengandung setengah kebenaran, tetapi tidak didukung oleh pemahaman secara keseluruhan, dan didasari oleh perasaan bahwa keadaan atau pandangan sendiri yang lebih baik.


Pada suatu ketika bahkan murid-murid Yesus pun sempat mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka. Menyadari kesalahan ini, maka pada waktu Yesus menanyakan pembicaraan mereka, semua terdiam, lalu Yesus berkata: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." (Markus 9:33-37) . Masih belum sadar dengan pelajaran ini, bandingkan dengan pembicaraan didalam Markus 10:35-45, sekarang 2 orang murid malahan ingin menduduki tempat yang terutama di Surga. Kalau tadi mencari siapa yang terbesar didunia, sekarang siapa yang terbesar di akhirat. Murid yang lain marah, suatu reaksi normal terhadap orang yang sombong, bukan karena mereka tidak sombong, tetapi biasanya reaksi ini juga didasari oleh sikap yang sama sombongnya, karena merasa kedudukan yang layak untuk dia malah telah diminta oleh orang lain. Bukankah argumentasi ini didukung oleh pasal 9 yang menunjuk pertengkaran mereka?

Cukup banyak ayat-ayat di dalam Alkitab yang menolak kesombongan, beberapa di antaranya :
  • I Samuel 2:3: "Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu...".

  • Yeremia 9:23: " Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya".

  • Filipi 2:3: "....Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." Kita tahu bahwa Tuhan (dan manusia) sebal terhadap kesombongan, dekat dengan orang yang sombong yang tidak kita suka, tetapi kita sendiri sering tidak sadar bahwa kita memasuki derajat yang sama atau lebih tinggi (sombongnya).

Beberapa ayat akan menolong kita untuk mencari batas di mana kita sedang berada.
  • Ulangan 8:14,18, mengingatkan kembali untuk menyadari bahwa yang kita miliki berasal dari Tuhan.

  • Yeremia 9:23 memberikan peringatan untuk tidak membicarakan keberhasilan kita.

  • Lukas 14:8, membatasi penempatan diri pada posisi yang menonjol.

  • Lukas 20:46, jangan menuntut penghormatan.

  • Roma 12:3, mengajarkan untuk tidak memikirkan diri lebih tinggi dari yang patut dipikirkan.

  • Roma 12:16, jangan merasa diri lebih pandai.

  • II Korintus 10:12, memberikan contoh untuk tidak mengukur dengan ukuran diri sendiri.


Pada suatu situasi lain, mungkin kita sadar bahwa kita perlu berubah, tetapi kok tidak mudah. Ya, tentu saja tidak gampang, kita cuma sebegini, sedangkan Paulus pun mengalami kesulitan dalam usahanya untuk berbenah diri (Roma 7:15).

Amin.

Sumber : http://www.gki.org/old/index.php?option=com_content&task=view&id=43

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar