Minggu, 10 Januari 2010

Listening VS Hearing

Berkomunikasi, berbicara, bertukar pikiran dengan orang lain; merupakan bagian hidup yang penting dari seorang manusia.
Sejak awal penciptaan, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. Artinya, dalam hidup kita membutuhkan kehadiran orang lain.
Kita tidak bisa hidup sendirian. Hidup kita akan kosong dan tidak bermakna tanpa interaksi dengan sesama.

Ada hal yang menarik dari kisah Markus 7:31-37. Untuk menyembuhkan orang yang bisu dan tuli, Yesus terlebih dahulu menyembuhkan telinga orang tersebut. Mengapa telinga yang pertama kali disembuhkan oleh Yesus dan bukan lidahnya? Sebab dalam proses belajar yang normal, orang pertama kali belajar melalui telinganya, baru setelah itu ia dapat belajar dan mengucapkan kata-kata.

Apabila seorang anak mengalami kesulitan dalam berbicara, maka seringkali yang diperiksa pertama kali ialah telinganya. Ketika telinga tidak berfungsi dengan baik, maka mulut pun tidak akan dapat berbicara dengan baik. Oleh sebab itulah, Yesus pertama-tama menyembuhkan telinga orang itu. Dalam ayat 35 dikatakan, “terbukalah telinga orang itu...maka ia dapat berkata-kata dengan baik.” Ketika telinga kita mampu mendengar dengan baik, maka kita dapat berbicara dengan baik juga. Karena itu juga dalam Yakobus 1: 19 dikatakan, “setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata.”

Apa yang diperlihatkan oleh Yesus dan dikatakan oleh Yakobus merupakan prinsip yang sangat tepat dalam menjalin relasi yang baik dengan siapa pun. Apabila kita lebih suka berbicara dan berbicara, tetapi kurang mau mendengar terlebih dahulu apa yang orang lain katakan hanya akan mengakibatkan:

  1. Timbulnya salah pengertian/salah paham

  2. Ucapan kita melukai perasan orang lain

  3. Ucapan kita mematahkan semangat hidup/kerja orang lain

  4. Ucapan kita tidak didasari oleh fakta yang benar dan tepat. Sehingga kita menjadi biang gosip.


Tetapi sebaliknya, betapa banyaknya persahabatan yang bisa bertahan dan berjalan langgeng karena kita mau mendengar; betapa banyak pasangan suami-istri yang dapat menikmati kerukunan dan kebahagiaan karena semua yang terlibat mau mendengarkan yang lain; dan betapa banyak orang yang tertolong masalahnya dan menemukan jalan keluarnya atau terbangkitkan semangat hidupnya atau gairah kehidupan berimannya; apabila kita mendengarkan dengan baik ceritanya.

Persoalannya ialah bagaimana kita dapat menjadi pendengar yang baik? Dalam bahasa Inggris ada dua kata yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mempunyai arti yang sama, yaitu mendengar atau mendengarkan. Meskipun demikian, dalam bahasa Inggris kedua kata itu mempunyai perbedaan makna yang besar.

Listening:

  • Menyimak percakapan yang berlangsung atau suara yang didengarnya

  • Fokus pada percakapan yang dilakukan

  • Konsentrasi penuh

  • Mengikuti dan menikmati proses komunikasi yang tengah berlangsung

  • Biasanya memberikan dampak positif bagi kehidupan bersama, khususnya bagi dirinya sendiri. Karena ia diperkaya ilmu pengetahuannya, batinnya atau rohaninya.


Hearing:

  • Sekedar mendengar tetapi tidak menyimak percakapan yang berlangsung atau suara yang didengarnya

  • Tidak fokus pada percakapan yang dilakukan

  • Tidak dapat menangkap inti percakapan dan memberikan umpan balik yang tepat

  • Tidak memberi dampak yang positif; bahkan dapat berdampak yang sebaliknya. Sehingga menimbulkan antipati dari lawan bicara kepada kita


Dari penjelasan tersebut, mana yang menjadi pilihan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain? Tentu saja mendengar dalam pengertian ‘listening’ tersebut. Untuk dapat menjadi pendengar (listening) yang baik memang tidak mudah. Hal apa saja yang kita perlukan agar dapat mendengar (listening) yang baik?

  1. Kedewasaan kepribadian

  2. Kedewasaan berpikir

  3. Kedewasaan rohani

Sebab hanya mereka yang dewasa dalam ketiga hal tersebut yang mampu menghargai orang lain; walaupun pendapatnya berbeda dengannya; dan di dalam perbedaan itu terjadi proses dialog untuk membersamakan pikiran dan memperkaya wawasan berpikir masing-masing. Hanya mereka yang memiliki kedewasaan seperti itu yang mempunyai kerendahan hati dan bersikap simpatik dalam berkomunikasi. Hanya mereka yang memiliki kedewasaan seperti itu yang dapat mengendalikan dirinya dan menahan emosi yang merusak percakapan.

Anda ingin berhasil dalam hidup. Salah satu keterampilan yang anda butuhkan ialah keterampilan dalam mendengarkan. Mendengar dalam pengertian ‘listening’ tentunya dan bukan hanya sekedar mendengar tanpa makna, ‘hearing’.

Amin.

Sumber : http://gkikebonjati.org/index.php?option=com_content&view=article&id=64:listening-vs-hearing&catid=44:pengembangan-diri&Itemid=80

Tidak ada komentar:

Posting Komentar